Lebih Tepat Waktu, Pengguna Trans Jogja Beralih ke Transportasi Online

Jumlah penumpang transportasi publik andalan Daerah Istimewa Yogyakarta, Trans Jogja terus menurun.

Penurunan jumlah ini dituding karena faktor kemacetan di jalanan.

Karena macet dan tidak ada kepastian waktu, penumpang lebih memilih moda lain seperti transportasi online.

Baca: Nadiem Makarim Diprediksi Forbes Sebagai Salah Satu Orang Terkaya di Indonesia

Kepala UPT Trans Jogja, Sumariyoto mengatakan penurunan penumpang ini mulai terasa pada akhir 2016.

Kemacetan yang semakin menjadi membuat masyarakat memilih angkutan yang lebih memiliki kepastian soal waktu sehingga beralih dari Trans Jogja.

“Yang jelas bahwa untuk masalah penurunan penumpang tidak terlepas dari penumpang dengan adanya macet, mereka beralih ke online,” kata Sumariyoto di Hotel Harper, Rabu (6/12/2017).

Baca: Polresta Jogja Gandeng Perusahaan Transportasi Online untuk Berantas Narkoba

Menurunnya jumlah penumpang ini bisa dilihat dari pendapatan Trans Jogja, menurut Sumariyoto pendapatan tahun ini hampir turun sekitar Rp 3 miliar dibanding tahun lalu.

Baca Juga :  Tarif Ojol Diusulkan Naik Jadi...

Pada 2016, dikatakannya pendapatan Trans Jogja mencapai sebesar Rp 21 miliar.

Sedangkan untuk tahun ini hingga November 2017, baru mendapatkan Rp 17 miliar.

“Nanti nambahnya (hingga akhir tahun) paling pol Rp 1,5 miliar,” ungkapnya.

Lantas bagaimana cara agar Trans Jogja menjadi andalan dan tidak ditinggalkan?

Sumariyoto menilai jika Trans Jogja memiliki ketepatan waktu maka akan tetap digunakan oleh masyarakat.

Karena disisi lain, menurutnya kesadaran masyarakat untuk naik angkutan umum mulai tumbuh.

Baca: Keren! Di Jogja, Tak Ada Gesekan Antara Transportasi Konvensional dan Online

Namun upaya untuk membuat jalur khusus seperti di Jakarta, dimana Trans Jakarta memiliki jalur khusus atau bus way sulit untuk diterapkan di Yogyakarta.

Jika di Jakarta memiliki jalan yang lebar sehingga bisa digunakan untuk jalur khusus, maka di Yogyakarta hal tersebut sulit dilakukan.

Mengingat jalan di Yogyakarta cenderung sempit.

Sehingga upaya yang mungkin dilakukan adalah membangun jalur khusus di simpang.

Baca Juga :  Driver Ojol Ini Berharap Pandemi Segera Berakhir Agar Bisa Manggung Lagi

“Kita ingin tahun depan paling tidak melakukan kajian untuk di sepanjang ruas jalan tidak mungkin karena badan jalan kecil. Paling nanti di simpang saja, karena potensi kemacetan tinggi di simpang itu,” katanya.

Menurutnya hampir semua simpang memiliki potensi kemacetan.

Dia mencontohkan bagaimana di jalur dari koridor timur dari Prambanan, ada beberapa simpang yang potensi macet tinggi.

Seperti di simpang Bandara, simpang Janti dan di batas kota, Demangan.

Kemacetan ini juga memberikan masalah di saat musim liburan.

Menurutnya saat musim liburan atau long weekend, penumpang Trans Jogja bertambah namun hal ini tidak didukung dengan keberadaan bus.

“Ini serba memusingkan saya, jadi gini musim long weekend penumpang banyak, cuma bus gak ada, hilang di tengah kemacetan. Belum lagi kena kebijakan rekayasa lalu lintas , dialihkan gak tau kemana,” katanya.

Jika hal ini tidak teratasi, menurutnya nantinya yang menaiki Trans Jogja adalah yang benar benar tidak memiliki kendaraan.

Baca Juga :  Rayakan Hari Jadi ke-8, Go-Jek Gelar Tabligh Akbar dan Hibahkan 888 Al-Quran

Sementara itu diwawancara terpisah, anggota Komisi C Chang Wendryanto mengatakan hal yang harus diubah agar Trans Jogja terus digemari masyarakat adalah mengenai pelayanan.

Menurutnya pelayanan, akses dan fasilitas Trans Jogja saat ini belumlah memuaskan, termasuk waktu kedatangan bus sehingga penumpang akan lari ke moda yang lain, seperti transportasi online.

Terkait dengan adanya wacana pembuatan jalur khusus Trans Jogja di simpang menurut Politisi PDI Perjuangan ini, hal tersebut harus benar-benar dikaji.

Mengenai soal ini apakah juga sudah dibahas di Komisi C, menurutnya hal tersebut dibicarakan.

“Saya belum ketemu teman teman komisi masalah itu, tapi yang jelas kita kan harus menyelesaikan jalur yang ada , karena di Yogyakarta jalurnya sempit. Nah itu pertanyaan, apakah mungkin, kalau mungkin ya dilakukan, kalau gak mungkin ya jangan dipaksakan, cari solusi yang lain,” katanya.

(tribunnews/tow)

Loading...