Bawa Anak Ngojek Demi Mencari Rezeki

9

TIADA kata menyerah atau pasrah bagi Desty Ayu, 32, dalam menghadapi hidup sendirian. Apapun ia lakoni demi menghidupi anak semata wayangnya yang berumur 4 tahun.

Setelah sang suami meninggalkannya lantaran menikah lagi, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, setahun terakhir Desty terpaksa menjadi tukang ojek online (Ojol). Pilihannya menjadi pengemudi ojol lantaran jualan kopi keliling pada malam hari yang dilakoninya sebelumnya tidak mencukupi.

Belum lagi, ia tak mungkin meninggalkan anak semata wayangnya, Iyo Tasyo Michael, jika saat berjualan kopi keliling. “Semenjak ditinggal kawin suami, sempat jualan kopi keliling kalau malam. Tadinya anak aku titip tetangga. Tapi sekarang yang jagain udah enggak ada, makanya akunya gak jualan lagi, ” kata Desty.

Setelah tak berjualan, Desty memilih menjadi tukang ojek online. Pilihannya menjadi ojol karena ia bisa membawa anaknya sambil mencari nafkah. Apalagi setiap bulannya ia juga harus membayar uang sewa kamar kontrakannya di daerah Pancoran Mas, Depok.

“Karena memang aku juga tidak punya penghasilan setelah enggak jualan kopi lagi. Akhirnya aku mendaftar diri menjadi tukang ojek online,” kata wanita kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini.

BAWA ANAK

Kini, setiap kali dirinya keluar narik, Desty bisa membawa anak semata wayangnya, yang saat ini berumur 4 tahun. Bagi Desty, hujan dan panas tidak mengganggu pikirannya lagi, asalkan selalu bersama Iyo, putra tercintanya.

Supaya anaknya nyaman, Desty memasang sebuah bangku kecil di depan jok motornya saat menyusuri jalan-jalan ibukota. Tak jarang, anak Desty tertidur di motor dengan posisi kepala di stang motor saat membawa penumpang.
“Kalau anaknya sudah ngantuk udah tidur aja di motor.

Alhamdulillah meski setiap hari saya ajak muter-muter cari penumpang anak saya nggak sakit. Memang awal-awalnya saja sempat panas mungkin kaget, “kata Desty.

Diungkapkan oleh Desty biasanya dirinya narik ojek mulai habis Sholat Subuh hingga pukul 21.00. Pendapatannya narik tak menentu.

“Dari penghasilan ini aku biasanya untuk kebutuhan sehari-hari seperti bayar sewa motor, makan dan kebutuhan lainya. Kalau lagi rame ya bisa dapat Rp50 sampai 60 ribu,” kata dia.

Diungkapkan oleh Desty dan anaknya mengontrak salah satu rumah petak di kawasan Pancoran Mas, Depok. Harga petakan rumah Rp 400 rb sebulan. Namun pemilik kontrakan yang merasa kasihan pada dirinya diminta membayar Rp 250 ribu/bulan.

“Sedangkan untuk sepeda motor yang aku gunakan buat ojek ini setiap bulan aku cicil Rp 200 ribu/bulan. Ada orang yang bantuin, jadi aku nyicilnya ke orang itu sampai lunas,” ujarnya.

Desty hanya hidup sebatang kara di Ibukota. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Saat ini tambah Desty dirinya fokus mencari uang untuk memasukkan anaknya ke pesantren. Sebab beberapa waktu lalu ada sebuah Komunitas di Depok bersedia membantu untuk memasukkan putranya ke pesantren.

(poskota/tow)