Waduh! Sahamnya Ambles, Kapitalisasi Pasar Grab Berkurang Sampai Rp208 Triliun

Foto: Grab Tech Center di Jakarta (Dok. Grab)

Saham raksasa layanan transportasi dan pengiriman Asia Tenggara Grab Holdings Ltd telah kehilangan lebih dari sepertiga nilainya meskipun baru diperdagangkan di New York kurang dari dua pekan. Sebelumnya pada perdagangan hari perdana, saham ini terkoreksi 20%, walau sempat melonjak tinggi di awal perdagangan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (10/12) di NASDAQ saham Grab kembali ditutup ambles 11,88% ke level US$ 7,12 per saham. Artinya sejak awal diperdagangkan menggunakan ticker GRAB yang menggantikan ticker awal perusahaan cangkangAltimeter Growth, saham Grab telah turun 35,33% dalam tujuh hari perdagangan.

Alhasil kapitalisasi pasar Grab saat ini menyusut menjadi US$ 26,64 miliar atau setara dengan Rp 382,28 triliun menggunakan asumsi kurs Rp 14.350/US$. Kapitalisasi pasar ini turun dari semula mencapai US$ 41,19 miliar pada hari pertama Grab melantai, dengan kata lain kapitalisasi pasar Grab telah berkurang US$ 14,55 miliar atau setara dengan Rp 208 triliun.

Dengan pergerakan saham tersebut, maka harga saham Grab sudah di bawah harga normal SPAC yang biasanya ditawarkan ke investor dengan nominal sebesar US$ 10/unit. Harga saham SPAC jelang deal proses kombinasi bisnis bahkan sempat menyentuh level US$ 17,06/unit.

Ini bisa menjadi indikasi bahwa investor lama cenderung cash out mengingat lock up period di AS yang berjalan singkat dan tak ada kebijakan auto reject bawah (ARB) seperti di bursa saham domestik.

Kisah Grab bisa menjadi pelajaran berharga bagi investor yang ingin membeli saham-saham startup. Sebenarnya ini bukan hanya soal prospek bisnis ke depan dari perusahaan rintisan tersebut.

Faktor lain yang perlu dicermati apakah mekanisme IPO itu sendiri merupakan bagian dari exit strategi investor lama yang membeli saham startup di awal-awal seri pendanaan dengan nilai yang rendah.

Buruknya kinerja saham perusahaan start up yang memecahkan rekor SPAC ini salah satunya juga disebabkan oleh kinerja keuangan perusahaan yang masih amburadul.

Hingga saat ini, Grab masih belum mampu menghasilkan keuntungan. Pendapatannya untuk kuartal ketiga 2021 malah tercatat turun 9% menjadi US$ 157 juta karena peningkatan kasus pandemi virus corona di kasus Asia Tenggara dan lockdown yang dilakuakn di Vietnam menekan operasi ride-hailing, sementara volume pengiriman makanan meningkat.

Gross merchandise value (GMV) atau nilai total transaksi, naik 32% menjadi US$ 4,04 miliar dari periode yang sama tahun lalu. Grab mengatakan kenaikan nilai GMV dari segmen pengiriman mengimbangi penurunan yang terjadi dari segmen mobilitasnya, yang terkena dampak pembatasan terkait pandemi di tengah penyebaran varian Delta.

JP Morgan dalam laporannya pada Februari 2021 mencatat sekitar setengah dari semua IPO baru di bursa Amerika Serikat berdasarkan volume sejak Januari 2019 merupakan transaksi SPAC.

Dari 85 IPO SPAC pada 2019, 2020, dan awal 2021 sebagian besar adalah perusahaan teknologi, kendaraan listrik, perawatan kesehatan, dan industri, 69 di antaranya memiliki arus kas bebas negatif atau laba bersih negatif, termasuk Grab.

(transonlinewatch.com) Artikel ini telah tayang di CNBC Indonesia

Loading...