Waduh! Pengemudi GrabCar Ancam Boikot Massal pada Awal Juli

Suasana demonstrasi para pengemudi GrabCar di depan Maspion Plaza, Pademangan, Jakarta Utara, Selasa (27/6/2017) siang. Para pengemudi itu berunjuk rasa karena akun mereka yang tiba-tiba diputus kemitraannya oleh pihak Grab pada Senin siang kemarin. (Sumber: Kompas.com)

Peserta unjuk rasa di depan kantor Grab di Jalan Maspion, Pademangan, Jakarta Utara mengancam akan melakukan boikot. Boikot akan dilaksanakan pada awal Juli jika manajemen Grab tak kunjung mendengar protes mereka.

Itu disampaikan Bintang, perwakilan pengemudi GrabCar yang berdemonstrasi pada Kamis (29/6). Bintang meyakinkan, pihaknya akan melancarkan aksi lebih besar dalam waktu dekat.

“Saya juga teman-teman yang tergabung dalam driver online akan melakukan demonstrasi kembali pada tanggal 3 atau 4 Juli,” ucap Bintang melalui sambungan telepon, Kamis (29/6).

Jika protes mereka saat itu tak kunjung digubris, Bintang dan koleganya bahkan berniat melancarkan aksi berikutnya, yakni pada 10 Juli. Ia berencana membawa rombongan beranggotakan 500 sampai 1.000 pengemudi GrabCar.

Ancaman Bintang dan rekannya tak berhenti di situ. Bila masih tak ada respons dari manajemen Grab, ia siap mengajak pengemudi lain keluar dari Grab dalam waktu bersamaan.

“Ketika tuntutan-tuntutan tidak dituruti, kita akan sosialisasikan untuk mundur ramai-ramai dari Grab,” ujar Bintang menegaskan.

Bintang dan rekan-rekannya mengaku dirugikan dengan pembekuan akun oleh manajemen. Mereka mengaku sudah bekerja kerasa selama Idulfitri, tetap ‘narik’ meski tengah libur demi mengejar bonus Lebaran dengan nominal mencapai Rp11 juta yang dijanjikan manajemen.

Namun ada 200 pengemudi yang justru dituding curang dan akunnya dibekukan. Padahal akun itu berisi tidak sedikit. Ada yang bonusnya Rp6 juta hingga Rp11 juta. Bintang mengklaim, ketika bonus yang seharusnya diterima besar, akun justru di-suspend.

Para pengemudi itu pun melayangkan tuntutan: meminta uang insentif yang seharusnya mereka dapatkan, menghapus kode etik yang merugikan pengemudi, klarifikasi tuduhan melakukan kecurangan, melibatkan mitra pengemudi dalam merumuskan peraturan, dan tidak membekukan akun tanpa ada upaya konfirmasi.

“Kalau tidak direalisasikan, kita akan demo besar-besaran agar kantor Grab ditutup,” ujar Bintang.

Menolak Audiensi

Sementara itu, Grab mengklaim bahwa kecurangan yang dilakukan para pengemudi yang akhirnya akunnya dibekukan, sebenarnya sudah terdeteksi sejak sebelum program insentif Lebaran berlaku. Salah satu aksi curang yang dituduhkan adalah penggunaan aplikasi Fake GPS.

“Kesalahannya macam-macam, jadi tidak hanya itu saja. Ada beberapa kesahalahan, tapi semua terdeteksi di sistem Grab,” ujar Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata pada Rabu (28/6) lalu.

Grab pun membuka ruang audiensi bagi pengemudi yang tidak terima dengan keputusan suspend.

“Sebenarnya waktu mereka kena suspend, sudah dibuka jalur komunikasi itu. Mereka tinggal mengisi Google Form. Kita tinggal memberikan waktu audiensi untuk mereka,” ujar Ridzki.

Namun Bintang dan rekan-rekannya menolak tawaran tersebut. Ia mengaku audiensi sudah dilakukan dua hari lalu bersama Kapolres Jakarta Utara, namun tak kunjung ada jawaban.

“Kalau misalnya enggak didengar terus, kita akan boikot Grab Indonesia dan kita minta pemerintah meninjau ulang izin operasional Grab Indonesia,” tutur Bintang.

(cnnindonesia/tow)

Loading...