Terungkap! Tolak Go-Jek, Sopir Angkot di Malang Akui Ada yang Memperalat

Pro dan kontra transportasi online sudah lama mencuat di Bumi Arema Malang. Gelombang unjuk rasa berkali-kali terjadi.

Pada Maret 2017 lalu, angkutan kota (angkot) nekat melakukan mogok massal. Warga Malang rela turun menjadi relawan lantaran ribuan pelajar terlantar.

Gara-gara angkot mogok, media online MALANGTIMES bersama Brimob Detasemen B Pelopor Polda Jatim sampai harus membantu mengangkut pelajar.

Padahal, sopir angkutan umum yang marah karena adanya transportasi online berujar nyaman dan praktis menggunakan Go-Jek.

Bahkan dari keterangan mitra Go-Jek yang dicurhati sopir angkot tersebut, mereka mengaku tidak masalah ada transportasi online. Apa yang sebenarnya terjadi?

Seorang mitra Go-Jek di Malang, sebut saja SW menceritakan bahwa ia pernah menerima order dari dua orang sopir angkot. SW enggan menyebut detail dua orang sopir angkot tersebut. Singkat cerita, SW mengajak ngobrol kedua costumernya.

“Makanya, saya kaget kok ada rencana demo lagi. Saya pernah bawa sopir angkot. Pertama, saya turunkan di daerah Polean. Kedua saya lupa. Pokoknya tiap costumer kan saya ajak ngobrol. Jadi saya tau mereka sopir angkot,” cerita SW, Senin (18/9/2017).

Obrolan dengan sopir angkot pun terjadi. Menurut SW, si sopir angkot merasa ia menjadi alat pihak tertentu yang tak terima bila ada transportasi online di Malang.

“Dia bilang ke saya, kita kayak jadi alat, ada yang dorong dari belakang,” ungkap SW yang telah menjadi mitra Go-Jek sejak 2016 silam.

SW pun mengaku, baik sopir angkot pertama maupun kedua yang pernah menjadi costumernya mengaku mereka merasakan bahwa alat transportasi online lebih nyaman dan praktis. “Mereka sama-sama bilang enak dan nyaman ya naik Go-Jek. Praktis,” kata dia.

Pria berusia 36 tahun itu lantas menceritakan bahwa sebenarnya sopir angkot tersebut ingin menjadi mitra Go-Jek. Tetapi, itu tak mungkin.

“Ya mereka bilang sebenarnya kepingin juga karena tau kan Go-Jek kan hasilnya lumayan. Tapi ya itu, mereka bilang ke saya masak kita musuhin Go-Jek sekarang kok jadi Go-Jek. Trus mereka bilang sungkan sama paguyuban,” tutur pria asli Malang itu.

Baca:

SW diam sejenak. Ia geleng-geleng kepala mendengar kabar akan ada aksi demonstrasi sopir angkot. Sudah berkali-kali, gumam SW.

“Saya kasian kalau ingat curhatan sopir angkot itu. Tapi, kalau dari cerita mereka sebenarnya Go-Jek tidak masalah. Masalahnya pada taksi online,” ujar SW.

SW menjelaskan sopir angkot tersebut merasakan bahwa taksi konvensional amat berpengaruh terhadap pendapatan yang ia terima.

“Kalau ke saya sih bilangnya, taksi online, kalau Go-Jek kan angkut orang cuma satu. Kata sopir angkot itu ke saya kalau taksi online kan banyak dan harga juga murah dan nyaman lagi,” terangnya.

Bagi SW yang melakoni pekerjaan sebagai mitra Go-Jek sejak 2016 lalu, transportasi online selain menawarkan kenyamanan dan praktis tentu membantu ekonominya.

Meski menjadi driver Go-Jek bukan pekerjaan utama, tetapi dari bergabung dengan perusahaan transportasi online itu SW bisa meraup pendapatan minimal Rp 3 juta.

Polemik transportasi online versus konvensional di Malang terus saja bergulir.

(malangtimes/tow)

Loading...