Sopir Angkutan Konvensional Diminta Tak Lakukan Sweeping Transportasi Online

Beredarnya informasi rencana mogok massal 11 September itu sudah diketahui sejumlah driver angkutan online. Mereka kembali waswas akan terjadinya sweeping dan anarkisme seperti dalam aksi beberapa waktu lalu.

“Mungkin tidak tarik penumpang dulu hari itu. Daripada kena sweeping,” ucap Yan, salah seorang ojek online. Dia berharap masalah yang diributkan saat ini bisa segera berakhir. Katanya, tak ada bedanya online dengan konvensional.

“Rezeki kan sudah diatur oleh Allah SWT. Kan sama-sama cari penumpang,” cetusnya. Rencana mogok massal itu telah pula didengar Ketua Ikatan Driver Online Palembang (IDOP), Gunata Kusuma.

Pihaknya tidak mempermasalahkan para sopir angkutan konvensional hendak menggelar aksi. “Itu hak mereka. Kami berharap mogok massal itu jangan anarkis dan tidak ada sweeping terhadap angkutan online,” katanya.

Baca:

Ditegaskan Gunata, jika alasan mogok karena para sopir angkutan konvensional menggantungkan hidup dari sektor itu, maka para driver online juga begitu. “Kami juga cari rezeki melalui angkutan. Bahkan jumlah kami mencapai 10 ribu driver,” bebernya.

Menurutnya, angkutan online tidak bisa ditutup karena legalitasnya sudah diatur oleh pemerintah. Dalam hal ini melalui Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub). Lagi pula, kemajuan teknologi tak bisa dibendung. Kian lama terus berkembang. “Kebutuhan masyarakat mengarah ke sana,” ujarnya.

Salah satu solusi bersama dari masalah ini adalah bersinergi. “Kami terbuka untuk itu,” tandas Gunata. Di sisi lain, pihaknya juga berharap pemerintah segera mengeluarkan aturan baru angkutan online pascakeluarnya putusan Mahkamah Agung (MA) yang membatalkan sejumlah pasal.

“Jangan bertele-tele, karena masalah legalitas ini penting. Kalau tidak, justru nanti angkutan konvensional maupun online sama-sama dirugikan,” tukasnya. Padahal, keberadaan mereka sepenuhnya untuk masyarakat.

(jpnn/tow)

Loading...