Shopee Indonesia PHK Karyawan, Induk Usaha Menanggung Pembengkakan Rugi Bersih

Shopee dikabarkan akan melakukan efisiensi bisnis dengan cara pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. - India Times

PT Shopee Indonesia mengumumkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sejumlah karyawan perusahaan pada Senin (19/9). Tak main-main, sebanyak 3 persen karyawan Shopee Indonesia akan dirumahkan, mengutip Bloomberg (19/09).

Pengumuman PHK ini disampaikan oleh Head of Public Affairs Shopee Indonesia Radynal Nataprawira.

Menurutnya, ini langkah terakhir yang harus ditempuh perusahaannya sebagai langkah efisiensi, setelah sebelumnya melakukan penyesuaian melalui beberapa perubahan kebijakan bisnis.

“Kondisi ekonomi global menuntut kami untuk lebih cepat beradaptasi serta mengevaluasi prioritas bisnis agar bisa menjadi lebih efisien. Ini merupakan sebuah keputusan yang sangat sulit,” katanya dalam pernyataan yang dikeluarkan di Jakarta, Senin (19/9).

Per kuartal I-2022, Shopee Indonesia tercatat memiliki karyawan sebanyak 6.232 orang, mengutip iPrice. Dengan demikian, 3 persen dari total jumlah karyawan Shopee yang terkena PHK sekitar 180 orang.

Di Asia Tenggara, berdasarkan Quarterly Report Shopee 2022, e-commerce berkode warna orange ini menempati peringkat pertama sebagai e-commerce utama di Indonesia dan Taiwan berdasarkan rata-rata pengguna aktif bulanan dan total waktu yang dihabiskan di aplikasi pada Q2 2022.

Namun berdasarkan data iPrice, Tokopedia sebagai kompetitor utama Shopee masih menempati urutan pertama e-commerce dengan rata-rata jumlah pengunjung per bulan terbanyak. Adapun rata-rata pengunjung bulanan laman Tokopedia mencapai 157,2 juta pada kuartal I 2022, naik 5,1 persen dari kuartal IV 2021 yang tercatat 149,6 juta kunjungan.

Sementara Shopee di urutan kedua dengan rata-rata pengunjung bulanan 132,77 juta pada kuartal I 2022, naik 0,6 persen dari kuartal sebelumnya yang masih 131,9 juta. (Lihat tabel di bawah ini.)

Beban Tinggi Ditambah Efek Makro Global

Dalam rilis persnya, Shopee menyebut PHK ini merupakan langkah efisiensi yang sejalan dengan fokus perusahaan secara global untuk mencapai kemandirian dan keberlanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini.

“Perusahaan akan berfokus ke pertumbuhan bisnis yang mandiri serta berkelanjutan, dan kami ingin memperkuat dan memastikan operasional perusahaan kami stabil di situasi ekonomi saat ini,” imbuh Radynal.

Meski demikian, Shopee mengaku berkomitmen untuk memberikan dukungan bagi karyawan yang terdampak dari kebijakan ini.

“Proses ini akan dilakukan berdasarkan peraturan pemerintah. Karyawan yang terdampak akan mendapatkan pesangon sesuai ketentuan perundang-undangan dengan tambahan 1 bulan gaji,” paparnya.

Isu PHK sebenarnya bukan barang baru buat Shopee.

Pada pertengahan Juni 2022 lalu, isu PHK juga sempat menerpa e-commerce kenamaan ini. Sementara itu, kompetitor utamanya, jarang diterpa isu PHK. Mengapa hal ini terjadi?

Sejak kemunculannya di pasar e-commerce Tanah Air, Shopee—seperti lazimnya perusahaan teknologi atawa startup–dikenal dengan aksi ‘bakar uang’ atau menggunakan dana jumbo untuk kepentingan promosi dan marketing.

Hal ini setidaknya terlihat dari beban biaya operasional dan administrasi & umum sang induk yang tinggi.

Meskipun mencatatkan keuntungan, induk Shopee, Sea Group, juga mencatatkan beban pendapatan cukup signifikan.

Total pendapatan Sea Group per kuartal II 2022 mencapai US$2,9 miliar, naik 29,0% secara tahunan (YoY).

Namun, Sea menanggung pembengkakan rugi bersih. Total kerugian bersih adalah US$931,2 juta per kuartal kedua 2022, dibandingkan dengan US$433,7 juta pada periode yang sama tahun 2021.

Naiknya kerugian Sea tersebut sebagian disebabkan beban operasional Sea tumbuh 52,3% yoy menjadi US$1,92 miliar.

Dalam laporan keuangan terbarunya, Sea Group menunjukkan kenaikan beban umum dan administrasi sebesar 95,9 persen menjadi USD476 juta pada Q2 2022. Angka ini meningkat dibanding Q2 tahun sebelumnya yang mencapai USD243,0 juta pada kuartal kedua tahun 2021. Peningkatan ini termasuk diakibatkan karena kenaikan biaya staf dan fasilitas kantor yang lebih tinggi untuk mendukung pertumbuhan bisnis.  (Lihat tabel di bawah ini.)

Selain beban umum, beban penelitian dan pengembangan Sea juga meningkat sebesar 115,0% menjadi US$370,9 juta pada kuartal kedua tahun 2022 dari US$172,6 juta pada kuartal kedua tahun 2021. Hal ini ‘terutama disebabkan oleh biaya staf yang lebih tinggi seiring peningkatan pertumbuhan jumlah karyawan’.

Khusus segmen e-commerce, yang adalah Shopee secara umum, beban penjualan dan pemasaran meningkat sebesar 3,8% menjadi US$674,1 juta di kuartal kedua 2022 dari sebelumnya US$649,2 juta pada kuartal kedua pada 2021.

“Peningkatan [beban e-commerce tersebut] terutama disebabkan oleh pengeluaran event dan media yang lebih tinggi dan peningkatan biaya staf disebabkan oleh pertumbuhan jumlah karyawan,” jelas Sea dalam rilis laporan keuangan.

Sementara, dalam laporan kuartal II 2022, Sea Group mengatakan earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi yang telah disesuaikan untuk Shopee secara keseluruhan mencapai minus USD648,1 juta, meningkat dibandingkan dengan kuartal kedua di tahun sebelumnya sebesar minus USD579,8 juta.

Petinggi Sea Siap Tak Digaji

Sebelum kabar pemecatan ini, pada 15 September lalu, para petinggi Sea Limited menyatakan siap tidak menerima gaji demi memperketat kebijakan pengeluaran perusahaan.

Melansir Reuters, hal tersebut menjadi upaya raksasa e-commerce asal Singapura yang menaungi Shopee, SeaMoney, dan Garena itu dalam melindungi diri dari perlambatan ekonomi yang mengancam perusahaan teknologi.

“Tim kepemimpinan memutuskan bahwa kami tidak akan mengambil kompensasi tunai sampai perusahaan mencapai swasembada,” kata Chief Executive Officer Forrest Li dalam memo internal yang dikirim ke staf Kamis, (15/9/2022), beberapa hari setelah Sea menutup operasinya di beberapa pasar dan memangkas staf di seluruh divisinya.

Sejak kehadirannya di Tanah Air pada 2015, Shopee memantapkan diri sebagai salah satu e-commerce andalan, bersaing ketat dengan kompetitornya, Tokopedia yang bahkan telah lebih dulu berdiri sejak 2009. Nama lainnya, Bukalapak berdiri pada 2010.

Namun, berbagai isu dan persoalan yang dihadapi Shopee seolah tak ada hentinya. Belum lama ini, Sejumlah driver Shopee Express, perusahaan pengantaran milik Shopee, melakukan mogok kerja hingga unjuk rasa memprotes penurunan tarif dan insentif yang dihapus perusahaan. Imbas kebijakan BBM naik, perusahaan melakukan sejumlah penyesuaian tersebut, termasuk memotong tarif pengantaran kurir.

Dus, kebijakan PHK oleh Shopee Indonesia seakan menambah tekanan baru usai berbagai persoalan yang sudah dihadapi sebelum-sebelumnya. Melihat kondisi di atas, di tengah ketidakpastian ekonomi global seperti sekarang, pada akhirnya karyawan yang menjadi korban dengan alasan efisiensi perusahaan.

(tow) Artikel ini telah tayang di idxchannel.com

Loading...