Pesan Go-Jek yang Terima Orderan Ibu-ibu, Tetap Aman dan Nyaman, Kok!

Hari ini saya menggunakan jasa Go-Jek Go-Ride, yang menerima order saya seorang ibu paruh baya, mungkin seusia ibu saya. Saya hampir saja membatalkan pesanan saya, karena saya ga tega, jarak perjalanan saya untuk sampai ke tujuan lumayan jauh. Tapi saya tidak ada waktu lagi untuk memesan ojek yang baru.

Ojek saya pun datang, ibu ojek dengan sopan meminta maaf karena agak lambat menjemput saya, saya bilang tidak apa-apa. Lalu saya naik ke motornya. Di tengah jalan, hujan mulai turun, ibu ojek menawarkan saya untuk berhenti dan memakai jas hujan, lalu saya terima tawarannya.

“Jas Ujannya bau ga dek? Mau neduh dulu?” Ibu ini benar-benar memikirkan pelanggannya, ia memberikan saya kantong plastik untuk menaruh sepatu saya agar tidak basah, ia juga membantu saya memakai jas hujan, karena saya agak kesulitan karena membawa barang bawaan. Dia juga sempat mengeringkan tempat duduk saya sebelum saya naik lagi ke atas motor.

Singkat cerita kami melewati perjalanan dengan sangat baik, ibu ojek berhati-hati membawa motornya. Saya sempat minta turun di warteg karena saya mau beli makan siang, dan berencana akan berjalan kaki saja setelahnya, tapi ibu ojek bersikukuh menunggu saya, kasihan katanya kalo saya jalan kaki.

Setelah sampai ibu itu bercerita bahwa ia sering sekali dibatalkan pesanannya karena ia seorang ibu-ibu. Kebanyakan yang membatalkan pesanan penumpang-penumpang laki-laki. Kata mereka ga pede disupiri oleh seorang ibu-ibu. Kalau penumpangnya baik, mereka yang menawarkan untuk membawa motornya. Kalau yang tidak baik, mereka membatalkan tanpa memberi kesempatannya menyelesaikan tugas dia.

Saya sempat merasa bersalah karena saya hampir membatalkan pesanan saya tadi, karena ternyata dia jarang sekali mendapatkan pesanan, dan senang bila ada yang menerima pesanan dia. Pembatalan oleh penumpang juga mempengaruhi performa dia di dalam aplikasi.

Saya sendiri menilai pelayanan dan usaha ibu ini jauh lebih baik dari kebanyakan supir laki-laki, belum pernah menawarkan jasanya sedetail ibu ojek ini, bahkan saya pernah tidak ditawarkan jas hujan oleh supir laki-laki hehe. Jadi, gender dalam profesi ojek tidak ada hubungannya dengan pelayanan mereka.

Tulisan ini ingin saya sampaikan agar penumpang paham, dan tidak sembarang membatalkan pesanan, karena sama saja seperti yang laki-laki, ibu ini jg membutuhkan penumpang untuk menghidupi keluarganya.

Mari kita patahkan stereotip bahwa “Ibu-ibu naik motor, belok ke kanan sen-nya ke kiri” yang bikin kita parno menerima ojek yang disupiri ibu-ibu.

Salam

Marsha Situmeang

Loading...