Pengemudi Online Laporkan Spanduk Larangan Ambil Penumpang ke Polresta Samarinda

Sebuah spanduk berisi larangan bagi ojek online atau transportasi online untuk mengambil penumpang ddi terimal yang terpasang di sebuah terminal Samarinda. (Nancy/KK)

Ojol dan taksi online di Kota Tepian nyaris berseteru dengan angkutan umum, hal ini dilatarbelakangi spanduk imbauan yang bertuliskan larangan mengambil penumpang bagi kendaraan aplikasi online di Terminal Sungai Kunjang, sejak Senin (20/12) lalu.

Dari pantauan di lapangan spanduk imbauan tersebut tertera logo Pemrov Kaltim, Dishub dan Pemkot, nanmun hal ini pun memicu keresahan driver online lantaran selain terpasang di depan terminal, juga terpasang di depan pagar SMA Negeri 8, tepatnya di samping halte.

Hal inilah yang membuat para pengurus ojol mengadu ke Polresta Samarinda Rabu (22/12) dan pemasangan spanduk tersebut juga tak jelas siapa yang memasang. “Kami datang dengan tujuan meredam perseteruan ini dan sebenarnya sudah lama kami diselesaikan. Tetapi, dengan adanya spanduk ini terutama yang di luar terminal sangat meresahkan rekan-rekan ojol ,” ucap salah satu perwakilan ojol, Irfan Susanto.

Baru diketahui siapa yang memasang spanduk tersebut, setelah pihak kepolisian melakukan penelusuran, dengan meminta keterangan langsung ke pihak Dishub Kota Samarinda. Ternyata, spanduk berukuran besar yang dipasang di tiga titik di terminal yakni di pintu masuk dan keluar dan satu di dalam terminal, dipasang oleh para sopir angkot.

“Yang mencetakkan memang kami (UPTD Terminal Sungai Kunjang), tetapi yang memasang teman-teman dari sopir angkot. Kami menyediakan spanduk rersebut berdasarkan hasil kesepakatan rapat pada 8 Desember lalu di Dishub Samarinda,” ujar Kasi UPTD Tipe B Teminal Kunjang, Abdul Rahman saat ditemui di Terminal Sungai Kunjang kemarin.

Dalam rapat tersebut salah satunya disepakati untuk memasang spanduk di area terminal guna mempertegas batasan angkutan online. “Makanya teman-teman sopir menanyakan kepada kami mana spanduknya, sehingga kami pun mau tidak mau mencetakkan, tetapi mereka yang pasang,” terangnya.

Sedangkan terkait pemasangan logo Pemkot tersebut ia menjelaskan jika hal itu dikarenakan mengenai izin angkot merupakan wewenang Dishub Kota Samarinda. “Dan masalah yang terjadi antara angkot dan ojol, tidak ada hubungan dengan terminal maupun bus,” tegasnya.

Dan setelah melalui proses penyelesaian, disepakati untuk memindah spanduk yang berada di luar area terminal (SMP Negeri 8) ke dalam area terminal. “Jumat nanti Insya Allah akan ada pertemuan lagi antara ojol dengan teman-teman angkot, artinya lebih mempertegas saja, suapaya tidak ada permasalahan di kemudian hari. Kami akan membuat kesepakatan baru,” pungkasnya.

(transonlinewatch.com) Artikel ini telah tayang di korankaltara.com

Loading...