Pelaku Bisnis Ini Kecewa Tidak Diperhatikan GrabFood dan Lebih Nyaman dengan GoFood

Perkembangan dunia digital saat ini semakin mempermudah orang dalam melakukan berbagai bisnis seperti salah satunya bisnis kuliner.

Bagi kamu yang kini sedang menjalankan bisnis kuliner dan ingin mengembangkannya tak ada salahnya apabila kamu mencoba untuk bermitra bersama GoFood atau GrabFood.

Menurut hasil riset Nielsen Singapura, 84 persen masyarakat telah menggunakan lebih dari satu aplikasi pesan antar makanan.

Namun sebelum kamu memilih akan bermitra dengan dua penyedia aplikasi layanan pesan antar makanan di atas, ada baiknya kamu membaca kisah Pramdia Arhando.

Dalam cuitan di akun twitter @pramdia10, Pramdia Arhando membagi kisah tersebut.

Pramdia mempergunakan layanan GoFood dan GrabFood sejak November 2019, dia merasakan kemudahan mempergunakan layanan GoFood karena dapat mengelola toko onlinenya sendiri.

Baca Juga :  Kemenparekraf Apresiasi Langkah Gojek Luncurkan Inisiatif J3K

Mau cerita dikit, gw jalanin bisnis kuliner melalui @gofoodindonesia dan @GrabID sejak novermber 2019, bulan pertama GoFood langsung kasih aplikasi namanya Gobiz, disana pemilik usaha bisa mengelola toko online nya mulai dari jam operasional, foto produk dll

Hal itu disebutnya sangat berbeda dengan layanan GrabFood, dirinya mengaku kesulitan mempergunakan aplikasi tersebut yang berdampak buruk bagi kemajuan bisnis kulinernya.

Selain itu memudahkan pemilik merchant mengelola secara mandiri karena biaya komisi langsung terpotong oleh sistem. Sedangkan @GrabID sudah mau dua tahun berjalan belum juga kunjung mendapat aplikasi, dampaknya pertumbuhan toko online saya tidak sebaik di GoFood

Pramdia mengatakan dirinya tidak bisa dengan leluasa mengelola toko online di GrabFood seperti jam operasiona, harga, dan sejumlah hal lainnya.

Baca Juga :  Go-Jek dan Grab Dipetisi untuk Mengurangi Sampah Plastik

Karena di Grab saya tidak bisa kelola toko secara mandiri, atur jam operasional, atur harga, atur menu, atur foto produk harus kirim email via pusat bantuan dan itu ribet makan waktu

Parahnya lagi, untuk mengajuka pendaftaran menjadi merchant piliha, dirinya memerlukan waktu yang sangat panjang hingga dua tahun, tentu saja dengan berbagai macam aturan yang disebutnya berbelit-belit.

Kemudian, saya mengajukan pendaftaran aplikasi merchant pilihan juga tidak kunjung di setujui sangat ribet dan berbelit, puluhan dokumen diminta tapi prosesnya tidak selesai2 sudah dua tahun loh berjalan belum dapat aplikasi.

Setelah melewati berbagai kesulitan dan membuang banyak waktu, akhirnya Pramdia memutuskan untuk menutup tokonya di aplikasi GrabFood.

Baca Juga :  Kesal 5 Kali Ditolak GrabFood, “Gini Kalo Kafir yang Order, Auto Masuk Neraka”

Dengan berat hati, saya memutuskan off boarding atau menutup toko online daya di GrabFood krn saya sebagai partnernya tidak diperhatikan dan dibantu dengan baik. Berpuluh-puluh kali saya email dan telepon untuk minta aplikasi tapi nihil sampai dua tahun.

(transon)

Loading...