Maxim Jember Dinilai Tak Profesional, Beri Suspend Seenaknya Pada Driver

Kontroversi di dunia Ojek Online kembali terjadi di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Aplikator Ojek Online Maxim di Jember diduga banyak mendapat kritikan dari para drivernya sendiri lantaran pihak kantor yang dianggap tidak profesional dalam menjalankan tugasnya.

Suparman yang merupakan salah satu Driver Maxim di Jember menjelaskan, dirinya tiba-tiba mendapat suspend dari kantor dengan alasan, dirinya menggunakan atribut aplikator lain saat menjalankan orderan Maxim.

“Memang ada aturan yang melarang driver Maxim mengambil orderan menggunakan atribut aplikator lain, dan saya akui itu salah. Tapi menurut aturan di aplikasi Maxim, tidak ada sanksi yang mengatakan bahwa akun saya di suspend karena pelanggaran itu,” jelasnya kepada tim Suara Indonesia, Senin (27/11/2023).

Tak hanya itu, Suparman mengatakan, ia sempat datang ke kantor Maxim Jember yang berlokasi di Perumahan Queen Gardenia, Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates, Jember.

Dirinya berujar jika ia telah mengakui kesalahannya dan memohon maaf pada pihak kantor atas pelanggaran yang dilakukan, namun pihak kantor justru memberi respon yang kurang baik terhadap Suparman.

“Waktu itu saya datang ke Kantor Maxim dan meminta maaf atas pelanggaran saya. Tapi pihak kantor tidak profesional, pimpinannya yang bernama Fuad bilang jika akun saya di suspend karena ada feedback negatif dari customer, tapi mereka gak bisa menunjukkan bukti yang jelas ke saya, apa pantas kantor memperlakukan driver seperti itu,” paparnya.

Ia juga menambahkan, “Setelah itu memang suspend di akun saya sudah dibuka, tapi tidak lama kemudian akun saya kembali di suspend, tapi ya sudah saya biarkan aja mas,” jelasnya.

Tak hanya Suparman, saat tim Suara Indonesia berkeliling menyasar para driver Maxim di Jember, banyak dari mereka yang tidak senang dengan sikap kantor yang terkesan tidak profesional, lelet dalam mengambil keputusan dan sulit menerima kritik serta masukan.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Jember Online Bersatu (FKJOB), Dedy Novianto, ketika ditanya soal persoalan tersebut, perlu mendengarkan dari kedua belah pihak terlebih dahulu.

“Saya nggak bisa memberikan penilaian atau komentar langsung terhadap salah satu pihak, harus didengar dari kedua pihak terlebih dahulu, baru kita bisa mencari solusinya bersama-sama,” jelasnya.

Dedy menambahkan, beberapa aplikator termasuk Maxim memang terindikasi melakukan pelanggaran. Namun menurutnya, itu adalah pelanggaran tarif yang tidak sesuai dengan regulasi tarif batas bawah dan tarif batas atas.

“Memang ada indikasi pelanggaran, tapi itu persoalan tarif. Kalau persoalan teknis di lapangan terkait driver maupun kantor, ya kembali lagi, harus didengar dari kedua belah pihak,” pungkasnya.

(tow) Artikel ini telah tayang di suaraindonesia.co.id

Loading...