Kisah Mitra Driver Difabel Gojek, Tetap Semangat Bekerja Bahkan di Saat Pandemi

Ojek online difabel Gojek, M Rodhi Priya Nurdiansyah seusai mengantar pesanan barang ke konsumen. TRIBUNJATIM.COM/SUDHARMA ADI

Trauma pahit masa remaja masih membekas di benak M Rodhi Priya Nurdiansyah. Pria asli Surabaya ini merasa hidupnya tak lengkap, seusai mengalami pengalaman getir saat masih SMP.

Saat itu, dia dan teman-temannya asyik bermain mercon di area kuburan. Di satu momen, saat mercon menyala, teman-temannya memintanya untuk dimatikan. Tapi sebelum tangan kanannya menyentuh, tiba-tiba terdengar suara ledakan. Tubuhnya terlempar dan pingsan. Darah bercucuran di tangan kanannya.

“Saya lantas dibawa ke RS untuk dioperasi. Kondisi tangan yang luka parah, membuat kelima jari harus diamputasi. Saya benar-benar syok saat itu,” jelas pria kelahiran 4 Maret 1983 ini.

Kondisi tangan kanan yang cacat, membuat mentalnya drop. Rodhi butuh berbulan-bulan untuk memulihkan semangat hidupnya. Selama proses ini, dia juga beradaptasi dengan pola hidup, mulai cara makan hingga menulis.

Namun dia tak bisa terus terpuruk. Pria yang tinggal di daerah Rungkut Surabaya ini tak mau menyusahkan orang tua. Hingga kemudian dia menyelesaikan pendidikan dan bekerja di Tuban.

Baca Juga :  Tak Siap Bersaing, Pemkab Temanggung Larang Transportasi Online

Momen pahit harus dialaminya lagi, ketika ibunya menderita stroke. Ingin berada dekat ibunya dan leluasa merawat, dia memutuskan balik ke Surabaya dan memilih kerja ojek online di Gojek.

Tapi dengan kondisi tangan yang difabel, dia harus memutar otak agar bisa mengendarai motor. Maka, dirombaklah motornya dan dimodifikasi, sehingga posisi handle gas motor ada di sebelah kiri. Kondisi ini membuatnya nyaman saat terima order ojek customer.

“Yang mungkin agak mengganggu, saat customer menyerahkan uang pada saya. Karena kondisi tangan seperti ini, uang saya terima pakai tangan kiri. Tapi setelah tahu kondisinya, si customer memakluminya,” ujarnya, seperti dilansir dari TribunJatim.com.

Kesulitan jadi ojek online dialaminya saat masa pandemi Covid-19. Selain karena penghasilan yang jauh berkurang, order Gofood atau mengantar barang lebih sering diterima. Dengan kondisi tangan seperti itu, dia kesulitan mengantar barang berukuran besar.

Baca Juga :  Salut! Lagi, Puluhan Driver Go-Jek di Lampung Galang Dana Bentuk Peduli Gempa Palu Donggala

“Saya sulit bawa barang seperti puding karena rentan rusak. Biasanya, saya mengajak teman untuk bantu membawakan barang ke konsumen. Konsumen sempat heran, tapi maklum dengan kondisi saya ini,” katanya.

Meski alami kesulitan mengantar barang, namun dia tetap semangat bekerja sebagai ojek online Gojek. Baginya, apapun kekurangan yang dimiliki, mencari rezeki tak boleh mengeluh.

Bahkan, masa ‘paceklik’ saat pandemi Covid-19, dia harus profesional menjaga keamanan protokol kesehatan.
Buktinya, selain harus ganti masker tiap hari, motor selalu disemprot disinfektan. Tak hanya itu saja. Dia selalu membawa hand sanitizer di dalam tas.

“Saya tetap memberi kenyamanan pada konsumen. Setiap kali mengantar barang atau menerima uang, kedua tangan selalu saya semprot hand sanitizer. Ini untuk menjaga kebersihan dan protokol kesehatan,” paparnya.

Baca Juga :  Puluhan Pengemudi Ojek Online Kabupaten Tangerang Mengadu ke DPRD

Sementara itu, Alfianto Domy Aji selaku Head Regional Corporate Affairs Gojek Jatim & Bali Nusra menjelaskan, memasuki adaptasi kebiasaan baru, Gojek terus berinovasi mendukung masyarakat menjalankan kesehariannya dengan mengedepankan tiga aspek utama, yaitu kesehatan, kebersihan dan keamanan.

“Sehingga, setiap layanan Gojek kami rangkai dalam sebuah inisiatif besar yaitu Jaga Kesehatan, Kebersihan dan Keamanan (J3K) yang kami hadirkan tanpa ada biaya tambahan dibebankan kepada mitra maupun pelanggan,” ujarnya.

Tak hanya itu, mitra GoFood diimbau untuk mengikut 6 protokol keamanan dan kebersihan makanan yang sesuai dengan “Pedoman Produksi dan Distribusi Makanan Olahan pada Masa Status Darurat COVID-19 di Indonesia” oleh BPOM.

Itu meliputi penggunaan masker bagi seluruh karyawan, pengecekan suhu tubuh karyawan secara rutin, penggunaan segel pengaman (selotip atau kabel pengerat untuk pengantara, hingga menyediakan tempat cuci tangan dan sabun cuci tangan bagi para karyawan dan mitra pengemudi.

(TOW)

Loading...