Fasilitasi Pemasaran Digital UMKM Kuliner, Kemenkop dan Gojek Diapresiasi

Mitra Go-Ride saat mengambil pesanan makanan menu keluarga yang dipesan pelanggan melalui GoFood. Istimewa/TribunJatim.com.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS). Noor Halimah Anjani, mengapresiasi langkah yang diambil oleh Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah yang bekerja sama dengan Gojek untuk memfasilitasi pemasaran digital UMKM di bidang kuliner melalui aplikasinya dan laman Bela Pengadaan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

Sebelumnya, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara telah meresmikan Pasar Digital atau PaDi, untuk menjual produk-produk UMKM.

Dengan memberikan akses pada UMKM untuk mempromosikan dan menjual produknya melalui platform digital diharapkan dapat mendorong realisasi target pemerintah pada tahun 2030, yaitu 30 juta UMKM telah terhubung dalam ekosistem digital.

CIPS berharap kerja sama ini tidak hanya menyasar UMKM kuliner di kota-kota besar, namun juga UMKM kuliner di daerah-daerah,” kata Noor Halimah lewat keterangan tertulisnya, Minggu (9/5/2021).

Baca Juga :  Pengemudi Gojek Ini Lega Usai Menjalani Vaksinasi di Puskesmas Banjar 2

Selain itu, CIPS juga berharap kedepannya kerja sama antara pemerintah dengan pihak swasta untuk mendorong UMKM ‘naik kelas’ semakin digalakkan. Kerja sama ini dapat membuka peluang bagi UMKM untuk meningkatkan penjualan dan operasionalnya.

Selain dalam hal memfasilitasi transformasi digital, pemerintah dapat bekerja sama dengan pihak swasta dalam mendistribusikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui platform digital yang diawasi OJK.

Sebab, KUR masih terbilang cukup rendah, hingga Maret 2020 realisasi KUR baru mencapai Rp54,03 triliun dari target Rp190 triliun. Akses pada modal dapat membantu UMKM untuk mengembangkan usahanya dan optimalisasi operasional bisnisnya.

Halimah juga mengatakan pandemi Covid-19 telah mendorong transformasi digital di Indonesia, terutama bagi pelaku UMKM. Kebijakan pembatasan sosial serta perubahan pola konsumsi masyarakat memaksa UMKM untuk mengubah operasional usaha dengan menggunakan platform digital untuk pemasaran.

Baca Juga :  Gojek Medan Bekali Masker, Hand Sanitizer dan Vitamin ke 3.000 Mitra GoRide dan GoCar

Meskipun pengguna internet di Indonesia setiap tahun selalu tumbuh, dengan perkiraan saat ini penetrasi internet sudah mencapai 73% dan 196 juta pengguna, pengetahuan teknologi yang masih rendah, keterbatasan infrastruktur, dan tenaga kerja yang kurang terampil masih menjadi kendala digitalisasi UMKM.

Penelitian yang dilakukan oleh Delloite Access Economics menunjukkan hambatan transformasi digital bagi UMKM di Indonesia. Sebanyak 36% UMKM di Indonesia masih menggunakan metode pemasaran konvensional dan hanya 18% UMKM yang dapat menggunakan media sosial dan website untuk mempromosikan produknya.

Sementara itu, sebanyak 37% UMKM hanya mampu mengoperasikan komputer dan internet secara sederhana. Penelitian dari Danareksa Research Institute juga menunjukkan hal serupa, 41,67% UMKM di DKI Jakarta sudah menggunakan media sosial dan pemasaran digital dalam operasional usaha.

Baca Juga :  Hey Customer Ojol, Driver Grab dan Gojek Itu Bukan Babu!

Sedangkan hanya 29,18% UMKM di Pulau Jawa dan 16.16% UMKM di luar Pulau Jawa yang sudah memanfaatkan pemasaran digital.

Salah satu sektor usaha UMKM yang terdampak oleh pandemi Covid-19 adalah kuliner. Riset dari Paper.id dan SMESCO menunjukkan 43,09% UMKM di sektor kuliner mengalami penurunan omset. Terutama pelaku usaha yang menjual produk-produknya secara tatap muka seperti bisnis katering.

Akan tetapi disaat yang bersamaan, UMKM kuliner masih mampu bertahan dan tumbuh karena permintaan dari masyarakat yang beralih membeli kebutuhan yang awalnya dilakukan secara langsung menjadi secara online.

(TOW)

Artikel ini telah tayang di akurat.co

Loading...