Ekonom: Tarif Batas Bawah Mengancam Transportasi Online dan Melestarikan Oligopoli Perusahaan Tertentu

Berly Martawardaya, ekonom The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF). Foto: MTVN/Lis Pratiwi.

Kementerian Perhubungan menerbitkan peraturan nomor PM 26 Tahun 2017 terkait transportasi umum yang turut mengkaji tarif batas bawah dan batas atas bagi angkutan sewa berbasis berbasis aplikasi (online). Hal itu dinilai dapat menghilangkan keunggulan transportasi tersebut.

“Karena secara umum daya tarik aplikasi berbasis aplikasi ini adalah harganya yang lebih rendah,” kata Berly Martawardaya, ekonom The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), dalam diskusi publik di Jakarta Pusat, Rabu 23 Mei 2017.

Berly menjelaskan, secara umum transportasi berbasis aplikasi memang membutuhkan struktur biaya lebih rendah. Pasalnya, mereka tidak memerlukan tanah untuk membangun pul bagi mobil-mobil yang terintegrasi dalam sistemnya.

Baca Juga :  Sadis! 2 Minggu Jadi Driver Grab Langsung Disuspend, Jaketnya Dijual Lewat Facebook

Jumlah pegawai tetap yang lebih sedikit ditambah kepemilikan dan perawatan mobil secara individu turut menekan perawatan rutin. Penerapan tarif batas bawah pun dianggap dapat mengganggu penghematan konsumen.

Penetapan tarif batas atas dan batas bawah oleh pemerintah awalnya bertujuan menyelamatkan angkutan sewa konvensional seperti perusahaan taksi reguler. Mereka diharap tidak tenggelam karena masyarakat lebih memilih jenis angkutan lain.

Menurut Berly, pergantian jenis transportasi yang digunakan masyarakat tidak dimotori angkutan sewa berbasis aplikasi yang kian menjamur belakangan ini. Hal itu lebih pada kemampuan finansial individu. “Jadi substitusi ini natural ketika income naik, orang ingin lebih nyaman,” papar dia.

Berly menyatakan kebijakan tarif batas bawah ini hendaknya bertujuan meningkatkan surplus konsumen dan melindungi pengemudi. Kebijakan jangan malah melestarikan oligopoli perusahaan tertentu yang memaksa masyarakat kembali ke moda transportasi konvensional meski ada pilihan yang lebih nyaman.

Baca Juga :  Wapres: Berpikirlah seperti GO-JEK Cs yang Bisa Jadi Solusi Atasi Kemacetan

(metronews/tow)

Loading...