Cerita Customer Trauma Gunakan Layanan inDriver

Ilustrasi inDriver

Customer itu gelisah kentara sekali dari mata nya yang gemetar, mengigit kuku jari tangannya, kepala yang gerak kesana kemari mempertanyakan dimana ia berada. Sama sekali ia tak mengenali tempat yang saat ini ia lewati bersama pengemudi. Sang pengemudi pun tidak tau arah kemana GPS yang menuntunnya ini berjalan. Semakin larut suasana jalan yang dilewati pun semakin hening, pohon besar berjejeran, rumah yang redup, ingin dia mengutarakan apa yang dia rasakan tetapi seolah terkunci mulutnya bungkam hingga ia sampai di tempat yang ia tuju. 

Awal ia bekerja tepat pada tanggal 14 September 2022, pertama kalinya ia untuk memakai Indriver sebagai alat transportasi untuk pulang. Kesan pertama ia memakai aplikasi E-Commerce Indriver karna ia berpikir bahwa biaya yang dikeluarkan lebih murah dibandingkan dengan aplikasi E-Commerce seperti Go-Jek, Grab, dan lainnya. Perjalanan pulang yang ia lewati belum membuat nya kebingungan. Hari pertama, hari kedua, satu Minggu kemudian. Mulai ada pertanyaan yang muncul dalam benaknya ‘kenapa ya setiap hari jalan yang dilewati itu berbeda-beda?’katanya. Semakin dibuat heran, jika pengemudi ini memang benar tidak tahu mengapa tidak menanyakannya. Estimasi waktu yang ia kira setiap pulang 25 menit sampai, seiiring berjalan waktu ia berpikir akan semakin efisien tetapi malah memakan waktu cukup lama. 

Satu bulan sudah ia lewati, belum ada perubahan yang terjadi. Tepat hari Minggu, 16 Oktober 2022 pengemudi melewati jalan yang ia masih mengenalinya. Pengemudi mengambil jalan jalur kanan dipertigaan, tadinya ia pikir mungkin pengemudi Indriver mengetahui jalannya tetapi semakin maju ia gelisah karna jalan yang ia dan pengemudi berada pada daerah yang sepi, pohon besar berjejeran, rumah yang gelap, ia mengigiti kuku jari tangannya, mata yang gemetar menahan tangis, kepalanya ia condongkan kedepan agar ia melihat GPS yang ada dalam aplikasi Indriver. 

Lalu ia memberanikan diri bertanya kepada Indriver, “Pak sebelumnya saya ingin bertanya, apakah bapak mengetahui jalan ini?” kata customer. Ketakutan yang ia rasakan tak bisa ia tahan lagi. “Punten neng, saya hanya mengikuti arah maps dalam aplikasi Indriver saja” kata pengemudi. Deg. Panik luar biasa, tepat dugaannya pengemudi tidak mengetahui arah kemana mereka sekarang. “Pak boleh tidak kalau kita putar arah saja, kembali ke pertigaan sebelumnya” kata customer dengan gemetar ia mengatakan nya. 

2 Minggu lewat 1 hari tepatnya Sabtu, 29 Oktober 2022 customer memesan indriver malam hari pukul 20.29 ia sebenarnya khawatir dan memikirkan apakah ia menginap saja atau tidak. Tetapi sang suami customer sudah memesan terlebih dahulu jadi ia memutuskan untuk pulang saja. Selama perjalanan customer berdoa agar tidak terulang kembali seperti sebelumnnya. Jalan yang dilewati masih iya kenal, entah jalan ke berapa yang sudah ia lewati setiap harinya, ada yang sudah ia ketahui alurnya pun adapula yang ia masih bingung kemana lagi arah jalan pulang ini. 

Setelah dilihat kembali ia memutar kepalanya ke kiri ke kanan dan ia sudah tidak mengenali daerah itu, dengan luasnya jalan hanya kendaraan indriver yang ia tumpangi saja berada didaerah itu. Semakin ditelusuri semakin mencekam keadaan yang ia rasakan. 

Customer pun gelisah, panik mendera, air mata yang terus bercucuran menahan isak tangis. Ketika ia melihat maps indriver yang akan mengarah ke jalur kanan tetapi ternyata jalan yang dilewati buntu. “Waduh ternyata buntu neng, apa kita putar balik saja?” kata pengemudi. Dengan masih menahan isak tangis, customer pun hanya mengiyakan pertanyaan pengemudi indriver. 

Seminggu sudah berlalu, customer sudah mengantisipasi bahwa jika sudah pukul 20.00 malam ia akan menginap saja di kos temannya. Sabtu, 5 November 2022 ia sedang berada di rumahnya bersama sang suami menunggu kedatangan sang ayah mertua yang akan pulang. Karena tidak ada angkot menuju rumah, ayahnya meminta untuk dipesankan indriver. Setelah beberapa menit kemudian ayahnya datang bersama indriver. Ketika ayahnya datang, ia langsung bercerita kepada ibu customer dan kepada anak dan menantu yang suka memesan indriver untuk pulang kerja. Ayahnya bercerita mengenai topik obrolan bersama indriver. 

“Google Maps Indriver sering mengarahkan pengemudi lebih jauh dari tujuan pak. Dikarenakan adanya kesalahan dari aplikasi itu sendiri, sehingga jalan yang dekat menjadi jauh dan berbelit-belit pak. ” kata pengemudi. Customer ini akhirnya mengetahui mengapa ia selalu nyasar dan melewati jalan yang berbeda tiap harinya. Ia pun tidak akan menyalahkan pengemudi indriver, karena pada dasarnya sang pengemudi pun tidak mengetahui bahwa maps indriver tidak selalu akurat mengarahkan jalan yang akan dituju customer. 

Selain itu adanya sebagian indriver yang mungkin menggunakan rute khusus sepeda motor atau aplikasi bantuan. Supaya tidak perlu bolak bolik membuka maps untuk navigasi ke tujuan, tetapi dengan adanya kejadian ini bukannya membantu malah menyusahkan beberapa pengguna. Upaya yang harus dilakukan jika pengemudi mengetahui rute tujuan customer lebih baik jalankan saja tidak perlu melihat maps yang berada di aplikasi E-Commerce. Diharapkan kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali, dan indriver pun bisa mengatasi masalah ini dengan bijak.

(tow) Artikel ini telah tayang di Kompasiana.com

Loading...