CEO ‘Bocorkan’ Rencana GoTo

CEO Tokopedia William Tanuwijaya, CEO GoTo Andre Soelistyo, dan CEO Gojek Kevin Aluwi.

Baru-baru ini dunia bisnis di Indonesia digemparkan dengan berita merger dua startup terbesar di negeri ini, Gojek dan Tokopedia. Dua perusahaan ini bergabung menjadi satu dengan nama baru, GoTo. Wajar bila merger dua raksasa tech company ini kemudian menjadi perbincangan serius dan viral, terutama terkait implikasi pascamerger.

Maklum, sebelum merger, dua entitas ini sudah sama-sama berkelas raksasa dan masing-masing membawa gerbong bisnis dengan SDM yang berbeda. Sebagaimana umumnya, proses merger selalu membawa dampak ikutan yang tidak selalu mengenakkan bagi pihak-pihak yang terlibat. Dan, wajar bila kemudian muncul pertanyaan yang lebih substansial: bagaimana potret baru dari kedua entitas itu pascamerger, serta hal-hal strategis apa yang bakal mengikuti langkah merger tersebut.

Ya, ini memang bukan deal yang kecil. Kami bisa mengatakannya sebagai transaksi yang memang sangat besar,” kata Andre Soelistyo, CEO GoTo, saat bertemu sejumlah pemimpin media di Jakarta beberapa waktu lalu. Andre mengakui, dari sisi magnitude bisnisnya, merger dua entitas ini memang signifikan. Gojek yang dirintis Nadiem Makariem dkk. sudah punya multibisnis yang sukses di dalam platformnya, termasuk Gojek (ride hailing), GoPay, dan GoSend. Adapun Tokopedia merupakan raksasa e-commerce yang mengelola miliaran transaksi per tahun.

Andre menyebut contoh, gross transaction value (GTV) unit-unit bisnis Gojek dan Tokopedia, kalau disatukan, nilainya mencapai US$ 22 miliar –plus-minus Rp 400 triliun– selama setahun (2020). Bila dikonversikan dengan total nilai PDB (produk domestik bruto) nasional, transaksi bisnis via Gojek-Tokopedia tahun lalu mengontribusi 2% dari total PDB nasional. Luar biasa.

Kevin Aluwi, salah satu founder Gojek, menimpali, signifikannya proses merger juga tampak dari jumlah pihak yang akan dilibatkan dalam transaksi. Kevin memaparkan, di tahun 2020, baik Gojek maupun Tokopedia kalau ditotal memiliki 11 juta mitra, terdiri dari sembilan juta mitra Tokopedia dan dua juta mitra driver Gojek. Adapun transaksi yang terjadi di kedua perusahaan mencapai 1,8 miliar transaksi dalam setahun. Tak mengherankan, merger keduanya diprediksi bakal punya dampak sosial yang signifikan.

Bila didalami, dalam proses merger ini, dari sisi operating company tidak banyak perubahan. “Secara operasi tidak ada yang berubah. Masing-masing perusahaan tetap beroperasi, masing-masing unik. Tidak ada entitas perusahaan yang ditutup atau dilebur,” Andre menjelaskan.

Merger ini lebih merupakan aksi menggabungkan dua perusahaan dengan melakukan pemindahan kepemilikan saham ke perusahaan holding hasil merger. “Jadi, saham Kevin, saya, William (Tanuwijaya), dipindahkan ke holding. Perusahaan holding ini yang nanti akan menjadi perusahaan publik bila GoTo menjadi perusahaan publik,” Andre menerangkan.

Lebih dari itu, spirit dari aksi merger ini bukan motif untuk melakukan efisiensi biaya, melainkan spirit kebersamaan dan gotong-royong untuk mendapatkan berbagai peluang pertumbuhan bisnis baru (growth). “Ini sudah banyak ide baru yang menarik untuk dikembangkan menjadi bisnis baru setelah merger,” ungkap Andre.

Karena itu, aksi merger ini tidak akan berdampak pada pemecatan karyawan. Namun sebaliknya, pihaknya malah akan menambah karyawan untuk mengeksekusi peluang dan ide bisnis baru.

Baca Juga :  Gandeng Gojek, Toko Tani Kementan Tangani Ketersediaan Pangan

Yang pasti, masih dari sisi organisasi, setelah merger, di bawah holding akan ada tiga bisnis utama yang bisa disebut sebagai subsidiary utama. Pertama, Gojek, yang membawahkan bisnis-bisnis yang terkait bisnis transportasi, logistik, delivery makanan (GoFood), dll. –di luar keuangan dan marketplace.

Kedua, GoTo Finansial, di bawahnya ada banyak perusahaan berlisensi jasa keuangan, seperti e-money, payment gateway, dan B2B financial lisence. GoTo Finansial menjadi induk bagi bisnis-bisnis jasa pembayaran dan jasa keuangan di GoTo. Ketiga, Tokopedia, yang menangani bisnis marketplace.

Dari tiga anak usaha itu, Kevin mengepalai (sebagai CEO) subholding Gojek, William yang sebelumnya CEO Tokopedia tetap menjadi CEO Tokopedia dan bisnis ritel (marketplace) GoTo. Adapun Andre, selain mendapatkan tugas sebagai CEO GoTo Finansial, juga ditarik ke atas menjadi CEO perusahaan holding hasil merger (GoTo).

Fungsi holding nanti lebih banyak ke hal-hal strategis dan berhubungan dengan para investor yang berminat menanamkan modalnya di GoTo dan unit-unitnya. Selain saya, Kevin, dan William, di holding juga ada rekan kami dari Singapura, Patrick Cao, yang sebelumnya Presiden Tokopedia,” Andre menjelaskan.

Ya, dari sisi format organisasi, tampaknya memang sudah saling sepakat. Yang tentu saja juga menarik, menebak bagaimana kolaborisasi keduanya dari sisi bisnis pascamerger. Tentang hal ini, Kevin mengatakan, akan terjadi sinergi dan aksi saling melengkapi antara bisnis-bisnis Gojek dan Tokopedia.

Pasalnya, berdasarkan analisis tim kedua pihak, ternyata infrastruktur yang dibangun kedua perusahaan dalam 6-10 tahun terakhir sangat komplementer. Karenanya, tidak perlu dilakukan penghapusan unit-unit bisnis. “Justru kami akan mengembangkan peluang-peluang bisnis baru dari sinergi infrastruktur yang ada,” ujarnya.

Contoh simpelnya, dari sisi delivery untuk Tokopedia. Saat ini Tokopedia sudah punya sistem pengantaran barang ke konsumen dengan pola same day services (sehari sampai tujuan). Nanti layanan ini bisa dikembangkan menjadi hanya sekian jam sampai ke pembeli Tokopedia bila diantar oleh driver Gojek yang jumlahnya jutaan. “Ini bisa kami integrasikan sistemnya menjadi lebih baik,” ujar Kevin.

Di sisi lain, merger ini juga akan memberikan benefit ke para driver Gojek karena mereka akan mendapatkan lebih banyak job pengantaran. Dan, gayung juga akan bersambut: dengan makin banyaknya order dari Tokopedia, pada gilirannya akan makin banyak driver yang mau bergabung ke Gojek.

Bahkan, kami juga bisa menciptakan produk-produk baru yang unik menyasar 100 juta pengguna Tokopedia dan Gojek. Termasuk, mengembangkan berbagai loyalty program secara bersama karena ada produk yang bisa disinergikan,” kata Kevin. Ia mengungkapkan bahwa sejatinya Gojek dan Tokopedia sudah “berpacaran” dengan membuat program bersama sejak 2015.

Jangan lupa, salah satu benefit merger yang diprediksi bakal berdampak paling signifikan yaitu dari sisi bisnis keuangan. Gojek saat ini sudah punya GoPay dan sedang agresif membangun ekosistem finansial digital, termasuk berkerjasama dengan Bank Jago dan beberapa bank lain. Layanan finansial dalam ekosistem digital itu tentu saja nanti bisa “dikawinkan” dengan pelanggan dan mitra bisnis Tokopedia yang jumlahnya jutaan –juga pelanggan Gojek sendiri. Kalau disrupsi di bidang finansial ini sukses, GoTo diprediksi bakal menjadi kekuatan baru industri keuangan yang skalanya sangat dahsyat.

Baca Juga :  Video Gojek Beri Bantuan untuk Mitra yang Terdampak Banjir Bandang Sukabumi

Tentang sinyalemen itu, baik Andre maupun Kevin tak membantahnya. Bahkan, tampak sekali bahwa GoTo memang sedang mengarah ke sana. Andre menjelaskan, pihaknya sedang mengembangkan sistem yang memudahkan konsumen mengakses layanan perbankan dan pinjaman dengan cara yang lebih simpel. Selama ini, di perbankan konvensional, approval kredit sangat rumit dan lama. Karenanya, banyak pelaku usaha mikro yang tak bisa mengakses layanan perbankan.

Ke depan, GoTo akan berusaha menyediakan berbagai pilihan akses perbankan ke konsumen dengan cara mudah. “Kami sebagai perusahaan sudah tahu behaviour konsumen dan mitra-mitra kami, mana saja yang lancar pembayarannya melalui Tokopedia, Gojek, nilai transaksinya, dll. Kami tahu history data transaction, ini bisa dikembangkan untuk mempermudah akses mitra dan pelanggan kami ke kredit,” Andre menjelaskan.

Bahkan nantinya, konsumen yang membeli atau kulakan di Tokopedia bisa diberi alternatif pembayarannya, apakah secara cash, bayar minggu depan, mencicil berapa kali, atau opsi lain. Solusi finansialnya bisa disediakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pelanggan. “Kami akan banyak menggunakan teknologi machine learning untuk mengembangkan layanan yang lebih baik. Kami harapkan akan makin banyak masyarakat yang masuk dalam digital ecosystem kami,” kata Andre.

Dalam kacamata pemegang saham, diakui atau tidak, aksi korporasi merger Gojek-Tokopedia tentu tak lepas dari pengaruh fenomena bisnis global yang belakangan ini diwarnai sejumlah megadeal berupa merger di kalangan unicorn, go public (listing) di bursa Amerika Serikat, ataupun merger dengan special purpose acquisition company (SPAC). Ya, sejumlah perusahaan rintisan (startup) terkemuka dunia seperti sedang berlomba-lomba melakukan aksi merger dengan perusahaan cangkang yang biasa disebut SPAC.

Contohnya, Grab Holdings sudah menyetujui merger dengan perusahaan SPAC, Altimeter Growth Corp yang berbasis di AS, dengan kesepakatan nilai ekuitas di level US$ 39,6 miliar atau setara dengan Rp 530 triliun. Unicorn AeroFarms dan Spring Valley Acquisition Corp, AppHarvest dan Novus Capital Corp, dan banyak lagi.

Dunia investasi global memang diramaikan aksi merger unicorn dan SPAC boom. Wajar bila pemegang saham Gojek-Tokopedia juga tertarik menunggangi momentum itu dengan model aksi korporat yang dirasa paling tepat, agar juga punya kesempatan mendapatkan cuan dengan valuasi yang aduhai.

GoTo pun akan segera melakukan IPO untuk meningkatkan corporate value perusahaan. “Kami harapkan IPO bisa direalisasikan di tahun 2021 ini,” ujar Andre.

Kabarnya, GoTo akan melakukan dual listing, yakni IPO di Bursa Efek Indonesia dan di AS. Untuk IPO di Indonesia, saat ini masih menunggu arahan dari pihak otoritas bursa. BEI kini dikabarkan sedang merevisi peraturan pencatatan (syarat listing) agar dapat mengakomodasi IPO kalangan perusahaan raksasa digital startup yang memang treatment-nya berbeda dengan perusahaan konvensional karena pola investasinya berbeda.

Baca Juga :  GoFood Festival Hadir di Setiabudi One, Ada Cashback Loh

Adapun untuk listing di bursa AS, bukan tak mungkin GoTo bakal menggunakan SPAC Bridgetown Holdings. Bridgetown adalah SPAC yang didukung investor kawakan Silicon Valley, Peter Thiel, dan taipan asal Hong Kong, Richard Li, yang bukan orang asing bagi GoTo. Pasalnya, melalui perusahaan investasinya, Pacific Century Group, Richard sudah menjadi investor minoritas di Tokopedia karena pernah memimpin pendanaan seri D ke Tokopedia. “Semua opsi IPO masih kami pertimbangkan,” ujar Andre.

Yang tentu saja bakal menggiurkan, manakala melihat valuasi gabungan GoTo. Diperkirakan valuasi GoTo saat ini sudah akan mencapai sekitar US$ 18 miliar. IPO yang akan dilakukan di AS pun dikabarkan memburu dana sekitar US$ 18 miliar itu. Dan setelah listing di AS, valuasi GoTo ditargetkan mencapai US$ 35 miliar-40 miliar. Ya, nilai valuasi yang tentu saja sangat aduhai, apalagi bagi perusahaan rintisan asli Indonesia yang terkadang masih dibebani country image minor.

Data Statista menyebutkan, merger Gojek-Tokopedia akan menjadikan GoTo sebagai startup dengan nilai tertinggi ke-12 di dunia dan membuka pintu Indonesia dalam jajaran 20 unicorn teratas di dunia. Sejauh ini, jajaran unicorn itu didominasi perusahaan China dan AS.

Karena itu, sangat relevan menyimak pernyataan Nadiem Anwar Makarim, founder Gojek yang kini menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. Menurut Nadiem, kehadiran GoTo diharapkan menjadi pendorong perkembangan talenta digital nasional.

Hadirnya GoTo menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menciptakan gagasan perkembangan teknologi. Saya berharap hadirnya GoTo dapat mendorong talenta digital dalam negeri sekaligus memberi semangat bagi seluruh orang Indonesia, mulai dari siswa hingga tenaga didik dan ahli-ahli di bidangnya, bahwa bangsa kita bisa melahirkan gagasan baru yang mendobrak dunia,” kata Nadiem dalam laman YouTube Gojek Indonesia.

William Tanuwijaya, founder Tokopedia, berharap merger Gojek-Tokopedia menjadi GoTo jangan hanya berdampak baik dalam perspektif bisnis bagi internal GoTo. “Harus juga baik dilihat dari sisi social impact-nya. Kami berharap bisa memberikan lebih banyak solusi ke masyarakat. Seperti dulu Gojek hadir untuk memberi solusi atas kemacetan Jakarta dan Tokopedia hadir sebagai solusi bagi warga di luar Jawa yang kesulitan membeli produk-produk berkualitas,” katanya.

Tak hanya itu, William pun berharap GoTo juga punya dampak yang baik bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, termasuk untuk generasi berikutnya. Terlebih, diakuinya, selama ini 90% mitra GoTo merupakan kalangan UMKM yang memang butuh bantuan pengembangan dan marketplace yang mampu menjembatani mereka dengan market. Ini tampak jelas saat pandemi ini, jumlah mitra GoFood justru bertambah 800 ribu orang dan mitra Tokopedia bertambah 2 juta.

William sangat optimistis ke depan GoTo mampu memberikan lebih banyak dampak dan solusi baru melalui ekosistem digital yang dikembangkannya. Terutama, setelah ide-ide pascamerger direalisasikan dengan baik. Ya, kita tunggu saja langkah GoTo selanjutnya.

(TOW)

Artikel ini telah tayang di swa.co.id

Loading...