Banjir Insentif IPO, BEI Dekati Traveloka, Tokopedia dan Gojek

Foto: Garibaldi Thohir (Boy Thohir) (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel)

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan perusahaan rintisan (startup) unicorn terkait rencana perusahaan ini melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di bursa saham Indonesia.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI IGD N Yetna Setia mengatakan Bursa dan pemerintah sudah memberikan insentif untuk perusahaan yang melakukan IPO di dalam negeri. Selain untuk menambah jumlah emiten, juga untuk menarik minat perusahaan ini mau mencatatkan saham di dalam negeri.

“Kita sudah berapa kali ketemu sama Traveloka, sebelum pernyataan disampaikan sudah ketemu, kami tunggu dari mereka. Sudah semua yang kamu sebutkan [startup unicorn] sudah ketemu,” kata Yetna di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Menurut dia, Bursa akan terus melakukan komunikasi dengan perusahaan-perusahaan tersebut untuk mengidentifikasi kendala lainnya yang menghalangi eksekusi aksi korporasi tersebut.

“Kan ada pajak [pajak IPO dan keringanan pajak dividen] sudah ada Omnibus Law, kita bahas itu … Kita [bursa] dalam posisi follow up ke mereka untuk cari jalan keluar,” imbuhnya.

Baru-baru ini Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan akan memberikan insentif tambahan untuk perusahaan yang sahamnya tercatat di BEI. Jika seluruh perusahaan di Indonesia mendapatkan pengurangan pajak sebesar 5% secara bertahap, dari 25% menjadi 20%, maka perusahaan yang menjadi emiten di pasar modal akan mendapatkan tambahan insentif lagi sebesar 3%.

Selain itu, adalah menghapuskan pajak dividen. Sebelumnya, perusahaan dalam negeri yang melakukan ekspansi dan memiliki share di bawah 25% dikenakan pajak dividen, saat ini tidak dikenakan.

“Contoh, kalau misalnya Gojek buka di Filipina dan Vietnam ada share lebih dari 25% otomatis tidak dipajakin, tapi selama ini kurang dari itu tetap dipajakin. Semua ada revenue pakai conditional atau tidak, contoh selama dividennya di-invest di Indonesia, tujuannya capital flow di Indonesia,” kata Sri Mulyani di Hotel Ritz Carlton, Kamis (28/11/2019).

Adapun rencana untuk melakukan IPO ini sudah sempat disampaikan oleh Tokopedia dan Gojek. Rencana ini akan dilakukan perusahaan setelah mampu mencatatkan laba.

“Secara komitmen tahun depan kita sudah profitable. Menghadapi persaingan apapun ayo. Strateginya tahun depan harus profit,” jelasnya.

Meski mengejar profit, Tokopedia belum akan melantai di Bursa saham tahun depan. Alasannya, masih memiliki modal yang cukup dari dua investornya yakni SoftBank dan Alibaba.

“Harapannya dalam beberapa tahun ke depan bisa go public,” ujar William Tanuwijaya, seperti dikutip dari CNNIndonesia.

Begitu juga dengan penyedia transportasi dari PT Karya Anak Bangsa (Gojek), juga menyampaikan minatnya untuk menjadi salah satu emiten saham di bursa. Namun perusahaan tidak secara spesifik menyampaikan kapan rencana tersebut akan dilaksanakan.

Co-Chief Executive Karya Anak Bangsa, Andre Soelistyo mengaku pihaknya sudah menyiapkan rencana tersebut.

“Doakan saja kalau bisa jadi IPO. Kita lagi persiapan ke arah sana, tapi waktunya kapan belum ditentukan karena banyak faktor yang mendukung atau tidak mendukung yang harus dipertimbangkan,” kata Andre dalam konferensi pers ulang tahun ke-9 GoJek di Jakarta, Sabtu (2/11/2019).

Ia memastikan GoJek akan melantai di BEI. Tidak menutup kemungkinan GoJek akan melakukan dual listing di negara lain. Pertimbangannya adalah pangsa pasar dan kondisi negara, apakah pro atau kontra menyikapi kehadiran aplikasi transportasi online ini.

(CNBC Indonesia/transonlinewatch)

Loading...