Akun Grab di Banjarmasin Marak Diperjual Belikan

Syahril tampak lunglai. Kemarin (25/2) pagi ia mendatangi kantor Official Grab Banjarmasin. Semangatnya sirna seketika karena penyedia layanan taksi online itu menolak pendaftaran driver baru.

“Rupanya sudah sebulan terakhir ditutup. Ditanya kapan lowongannya dibuka lagi, jawabannya tak jelas. Katanya mereka juga masih menunggu keputusan dari Jakarta sana,” ujarnya.

Pemuda 31 tahun itu sudah menganggur selama dua bulan terakhir. Dia butuh uang. Dan menjadi sopir taksi online tampaknya menjadi sebuah jalan keluar.

“Saya punya mobil, hasil dari pekerjaan yang lama,” imbuhnya.

Grab menumpang lantai tiga sebuah gedung di Jalan Belitung Darat, Banjarmasin Barat. Lantai bawah diisi deretan kios. Paling depan adalah kios pangkas rambut.

Di sini, dua perempuan muda tampak sibuk dengan laptopnya. Di depan mereka berderet kursi tunggu. Penanda bahwa inilah kantor Grab hanyalah spanduk kecil berwarna hijau yang dipasang di tangga. Sederhana sekali.

Baca Juga :  Begini Perjuangan Driver Ojol Mengantar Makanan hingga Gunakan Perahu

Radar Banjarmasin sempat lama menunggu. Hingga akhirnya sang manajer menolak berkomentar.

“Katanya langsung wawancara ke kantor Jakarta saja, mas. Takut salah ngomong,” kata satpam yang berjaga di meja depan kantor.

Penutupan lowongan sopir taksi online baru dampak awal. Setelah peraturan gubernur membatasi jumlah taksi online yang beredar di Kalsel. Hanya 980 unit saja.

Tentu saja, pembatasan ini tak sembarangan. Ada hitung-hitungannya, disesuaikan dengan jumlah penduduk dan luas wilayah.

Paling banyak dijatah untuk Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura. Masing-masing dijatah 570 unit, 200 unit, dan 65 unit. Sisanya dibagi-bagi untuk sepuluh kabupaten lainnya.

Dampak sebenarnya dirasakan oleh pelanggan. Kini muncul fenomena jual-beli akun. Sopir taksi online yang sudah malas narik, memilih menjual akunnya kepada para peminat. Pelanggan pun menjadi korban.

Baca Juga :  Go-Jek Turunkan Tarif, Simak Penjelasan Nadiem Berikut

Peristiwa tak menyenangkan itu dialami Rahimah, 30 tahun. “Beberapa hari yang lewat saya mau ke Banjarbaru. Sudah order, pas datang, eh foto antara akun dan sopirnya ternyata berbeda,” kisahnya.

Bukan hanya foto. Mobil dan nomor pelat kendaraan juga sudah pasti berbeda. Maka wajar jika Rahimah merasa was-was. Dia hampir saja membatalkan pesanan tersebut. Jika tak menerima penjelasan bahwa akun itu telah dibeli dari orang lain.

Bagi karyawati swasta ini, taksi online menjadi pilihan bukan hanya karena kenyamanan dan harga miring.

“Tapi juga keamanan. Nama drivernya jelas, fotonya juga jelas. Tapi kalau diperjualbelikan, malah jadi enggak jelas. Pemilik aplikasi mestinya menertibkan akun-akun aspal ini,” tegasnya.

Baca Juga :  Ratusan Pengemudi Ojek Online Kota Malang Mendapat Vaksinasi di RS Husada Bunda

Fenomena jual beli akun itu dibenarkan salah seorang taksi online di Banjarmasin. Phanel menyebutkan satu akun paling murah dihargai Rp500 ribu.

“Adapula yang harganya sampai tiga kali lipat. Tapi cuma berlaku buat akun yang masih bagus. Kami menyebutnya akun perawan,” ujarnya.

Perawan karena riwayat akun itu belum pernah diperingati. Apalagi dikenai suspend (dibekukan).

“Saya juga tak setuju dengan aksi jual-beli akun. Inilah yang merusak citra kami. Amat merugikan,” tegas pemuda 25 tahun itu.

(prokal.co/tow)

Loading...