WhatsApp Down, Gunakan Aplikasi Alternatif seperti Go-Jek dan Telegram

10

Merespons aksi massa 22 Mei, Pemerintah melakukan pembatasan penggunaan internet, termasuk pesan instan. Menko Polhukam Wiranto, menegaskan bahwa pembatasan dilakukan “semata-mata demi keamanan nasional.”

Melalui Twitter, netizen mengeluhkan kesulitan akses WhatsApp dengan tagar #WhatsAppDown. WhatsApp adalah aplikasi pesan instan terpopuler, dengan 1,6 miliar pengguna aktif bulanan. Tapi, di dunia digital, ia bukan satu-satunya. Tatkala WhatsApp sukar diakses, Telegram, aplikasi pesan instan dengan 200 juta pengguna aktif, jadi pilihan. Jika WhatsApp kerap dirudung masalah privasi, Telegram sebaliknya.

Meskipun WhatsApp pun telah menggunakan end-to-end encryption, Telegram merupakan salah satu aplikasi pelopor fitur keamanan ini. Artinya, pesan dalam teks biasa yang dikirim akan diubah menjadi kode-kode enkripsi dan hanya bisa dibaca atau didekripsi (decrypt) oleh akun yang dituju.

Enkripsi Telegram ini sangat sulit untuk ditembus peretas. Pada 2014, Telegram membuat kontes berhadiah 300 ribu dolar AS, menantang para peretas untuk membongkar enkripsi Telegram. Sayangnya, tidak ada satu pun peretas yang sanggup. Dalam acara TechCrunch Disrupt 2015, pendiri Telegram Pavel Durov, sesumbar kehebatan aplikasi ciptaannya.

Ia menyebut keamanan WhatsApp “absolutely suck” alias busuk. “Saya memiliki teman di Rusia. Suatu ketika ia ditangkap polisi dan polisi menunjukkan ke teman saya itu bukti-bukti berupa screenshot percakapan di WhatsApp-nya,” kisah Durov.

Namun, dalam laporan “For Your Eyes Only? Ranking 11 Technology Companies On Encryption And Human Rights” (2016) yang diterbitkan Amnesty International, menyatakan bahwa aplikasi pesan instan dari Facebook, yakni Facebook Messenger dan WhatsApp, menjadi aplikasi dengan peringkat terbaik.

Amnesty International memberi Facebook Messenger dan WhatsApp skor 73 dari 100, mengungguli Telegram (67/100), Blackberry Messenger (20/100), dan WeChat (0/100). Alternatif WhatsApp, khususnya untuk mengelabui pengawasan maupun pemblokiran, bukan hanya Telegram.

Sebagaimana diwartakan Forbes, serangan di Perancis yang terjadi Jumat malam di bulan November 2015, yang menewaskan setidaknya 127 orang dan mengakibatkan lebih dari 300 orang terluka, dilakukan dengan memanfaatkan PlayStation 4 sebagai saluran komunikasi para peneror saat merancang aksi keji tersebut. Atas digunakannya PS4 oleh para teroris merencanakan aksinya tersebut, Menteri Dalam Negeri Belgia Jan Jambon mengatakan, “PlayStation 4 lebih sulit dilacak daripada WhatsApp.”

Pengguna PS4, bisa mengirimkan pesan memanfaatkan PlayStation Network (PSN) di konsol gim itu. Pengguna PSN sendiri, menurut data yang dipublikasikan Statista, berada di angka 150 juta per September 2013 lalu. Selain memanfaatkan pengiriman pesan melalui PSN, pengguna pula bisa saling berkirim pesan memanfaatkan fitur chat yang tersedia di dalam sebuah gim yang bisa dimainkan di konsol tersebut.

Sebuah dokumen yang dibocorkan oleh Edward Snowden pada 2013, sebagaimana diwartakan ProPublica, menunjukkan gim online menjadi sarana potensial untuk dimanfaatkan para penjahat teroris untuk saling berinteraksi. Bocoran tersebut mengungkapkan bahwa National Security Agency (NSA) dan Inggris, melalui agen-agen mereka, menyusup pada gim online berjudul World of Warcraft dan Second Life.

Baik NSA maupun Inggris menduga gim online yang cukup populer tersebut dimanfaatkan oleh kalangan teroris untuk mengadakan pertemuan virtual. Selain memanfaatkan fitur chat di gim online, untuk mengelabui, netizen bisa memanfaatkan fitur chat di aplikasi ride-sharing Go-Jek.

Atas kerja sama dengan Sendbird, perusahaan pesan instan business-to-business asal Amerika Serikat, aplikasi Go-Jek memiliki fitur percakapan. Fitur itu bukan hanya dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan driver atau pengemudi Go-Jek tatkala memesan ojek atau makanan, fitur tersebut dapat pula dimanfaatkan antar-pengguna. Memanfaatkan akses ke kontak, chat di Go-Jek bisa digunakan siapapun.

(detik/tow)