“Udang” Di Balik Transportasi Daring

15146

Transportasi daring beberapa tahun belakangan ini marak di jalan. Kemudahan yang ditawarkan transportasi daring dan juga tarif yang sangat murah menjadikan masalah bagi pengelola taksi reguler, suhu memanas antara operator taksi online dan taksi reguler juga terasa memanas bahkan sampai terjadi demo taksi reguler dengan kekerasan. Belakangan ini, transportasi daring juga sepertinya sedang bergejolak, melihat beberapa hari ini ramai demonstrasi dari para mitra Grab yang mengeluh soal kebijakan perusahaan.

Saya sempat melakukan penelitian kecil-kecilan, melalui sosial media maupun wawancara langsung dengan beberapa mitranya ketika saya sedang menggunakan jasa mereka. Baru kemarin saya berbicara dengan seorang pengemudi Go-Jek yang sudah tiga tahun mencari rejeki dengan menjadi pengemudi ojek, sejak awal Go-Jek baru muncul di Indonesia.

Awal bergabung, ia mengaku penghasilan dia dari menjadi supir ojek bisa mencapai 15-20 juta rupiah per bulan. Sungguh angka yang luar biasa. Angka yang sungguh besar ini membuat pelamar Go-Jek membludak, dan di sinilah muncul aplikasi-aplikasi transportasi daring lainnya seperti Grab dan Uber.

Grab dan Uber memang sudah lama berdiri, tapi pada saat itu mereka hanya berfokus pada taksi online, dan mulai melebarkan sayapnya untuk menyediakan jasa ojek juga. Selain Go-Jek, Grab dan Uber juga muncul transportasi daring namun tidak lama usianya, seperti Blu Jek, dan Lady Jek yang sekarang sudah jarang terlihat. Sepertinya sikut-menyikut antar perusahaan juga terjadi. Sekarang hanya 3 aplikasi yang masih bertahan, yaitu Go-Jek, Grab dan Uber.

Banyaknya jumlah pengemudi ojek online ini membuat jumlah pendapatan mereka juga berkurang. Saat ini rata-rata pendapatan pengemudi Go-Jek berkisar 8 jutaan rupiah per bulan, masih cukup besar dan jauh di atas UMR.

Berbagai cara dilakukan oleh penyedia aplikasi untuk sikut menyikut dan memenangkan hati penumpang. Mulai dari promo diskon, sampai iklan besar-besaran seperti yang dilakukan Grab, membayar artis-artis papan atas untuk menjadi tukang ojek supaya pelanggan tertarik untuk memesan.

Jujur, saya hanya mengunduh dua aplikasi di handphone saya, yaitu Go-Jek dan Grab, karena saya kurang begitu suka dengan sistem Uber yang tidak memberikan fix fare (harga yang pasti), sehingga bikin saya deg-degan menggunakan jasa mereka, takut tiba-tiba kemahalan. Untuk hal ini bahkan menurut saya Uber tidak bisa menang dari taksi konvensional, bahkan untuk pesan bajaj atau naik angkot saja harganya sudah dipastikan di awal.

Go-Jek saya lihat tidak menghabiskan biaya yang banyak untuk sebuah iklan, semua disubsidi untuk promo dan mensejahterakan mitranya. Menurut saya hal inilah yang membuat pelanggan dan mitra setia dengan perusahaannya. Berbeda dengan Grab yang terlalu jor-joran menghabiskan promo untuk iklan, tanpa memikirkan kesejahteraan mitranya, yang ujung-ujungnya berimbas kepada penumpang.

Mengapa saya berkata demikian? Saya bergabung dengan banyak forum dan komunitas yang diikuti mitra Go-Jek, Grab, dan Uber. Di sana saya dapat melihat jelas apa masalah yang terjadi dan dialami mitra dan penumpang, dan tentunya info yang saya dapat juga dibenarkan dari hasil wawancara langsung bersama pengemudi Go-Jek dan Grab.

Saya juga pengguna fitur GoPay, yang membuat saya tidak perlu membawa uang banyak. Ini ide bagus dari Go-Jek untuk mengajak penumpangnya cashless. Ia mampu mengajak pelanggan untuk menggunakan layanan ini dengan iming-iming memberikan diskon bahkan sampai separuh harga.

Yang menjadi pikiran saya waktu itu, “apakah pengemudi ojeknya juga didiskon pendapatannya?”
Pertanyaan ini dijawab langsung oleh pengemudi Go-Jek, bahwa mereka tetap mendapatkan harga yang sama sebelum didiskon, jadi supir tidak mengalami kerugian dan penumpang juga mendapatkan untung. Bahkan dengan fitur GoPay ini saya bisa memberikan tips yang langsung tersimpan di kredit mereka.

Kebijakan seperti ini ternyata tidak terjadi pada supir Grab, yang juga memiliki fitur serupa bernama GrabPay. Dari hasil wawancara saya dan pengamatan dari media sosial, orderan dengan menggunakan GrabPay memberikan potongan lebih kepada pengemudinya. Lebih parahnya lagi, pencairan hasil keringat mereka ini membutuhkan waktu yang lama.

Narik hari ini, uangnya bisa dia dapet seminggu bahkan 2 minggu kemudian. Ini yang membuat pengemudi Grab menolak orderan dengan menggunakan GrabPay dan promo, karena mereka juga butuh uang untuk modal narik.

Imbasnya yang paling besar adalah kerugian pada konsumen yang tertarik dengan fitur GrabPay. Fitur ini dianggap memudahkan tapi justru membuat mereka kedapatan penolakan, bahkan jadi sasaran caci maki supir.

Ini perlu dievaluasi bagi penyedia aplikasi, karena yang dirugikan tidak hanya mitra tapi juga pelanggan, lambat laun mitra dan pelanggan akan hilang kepercayaannya.

Apalagi info yang saya dapat beberapa hari ini soal demonstrasi pengemudi yang menuntut janji yang diberikan oleh Grab, setelah mencapai target justru supir mengalami pemberhentian massal oleh perusahaan. Mereka yang bekerja pada Grab juga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari, agar hidup mereka sejahtera. Sepertinya Grab perlu mengingat bahwa mereka sedang memperkerjakan manusia, bukan mesin motor.

Yaah, beginilah hasil penelitian kecil-kecilan saya, semoga bisa menjadi masukan ke perusahaan dan informasi untuk menambah wawasan masyarakat mengenai udang di balik transportasi daring.

“Salam satu aspal”

Ratna Ningrum Kumalasari

Pengamat sosial