Transportasi Online Marak, Bagaimana Nasib Bemo di Kota Malang?

17

Eksis di 1970-an, bemo si biru yang dulu sering lalu lalang di jalanan Kota Malang kini semakin jarang ditemui. Ketika bertemu di jalanan, moda transportasi roda tiga ini mungkin akan membuat generasi milineal kaget sekaligus takjub dengan penampilannya.

Karena bentuk si bemo jauh dari kata mewah. Berbeda dengan kendaraan pribadi atau bahkan taksi online yang sering digunakan anak muda zaman sekarang. Tapi meski begitu, bemo banyak menarik perhatian saat melintas di jalan.

Sebelum mengenal taksi online, ojek online, dan angkutan kota, masyarakat di beberapa kota, termasuk Malang, pasti mengenal bemo. Keseharian masyarakat selalu ditemani oleh transportasi umum di dalam kota generasi pertama itu.

Pakar transportasi Universitas Brawijaya Malang Prof Harnen Sulistio MSc PhD mengatakan, bemo merupakan generasi pertama transportasi umum di kota pendidikan ini. Namun karena dianggap terlalu bising, transportasi roda tiga itu dilarang dan digantikan dengan mikrolet. “Mikrolet sampai saat ini masih tetap beroperasi,” katanya kepada MalangTIMES belum lama ini.

Meski begitu, sisa dari bemo masih ada sampai sekarang. Tak sedikit pemilik kendaraan roda tiga ini memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dan bukan lagi sebagai angkutan umum. Jadi, meskipun jarang, si roda tiga ini masih bisa ditemui di beberapa sisi. Biasanya digunakan untuk mengangkut sembako.

Warnanya pun tak melulu biru seperti bemo yang digunakan sebagai angkutan umum. Tapi sudah ada yang dicat dengan warna lain, seperti warna merah dan hijau. Ada pula yang mempertahankan warna biru seperti semula.

Menghilangnya bemo dari jalanan Kota Malang, menurut Harnen, lantaran dikelurkannya kebijakan oleh Pemerintah Kota Malang. Tahun 1990-an, pemerintah saat itu mengganti bemo dengan mikrolet sebagai transportasi umum di dalam kota.

Ketika pertama beroperasi, jumlah mikrolet yang digunakan sangat melebihi kapasitas. Sekitar 1.200 mikrolet dioperasikan. Sehingga, terjadi banyak menimbulkan masalah, diantaranya adalah perebutan penumpang.

“Waktu itu mikrolet yang dioperasikan jumlahnya sangat melebihi dan saya juga bingung dari mana hitungan itu. Saat itu hanya ada kebijakan jika tiga bemo digantikan dengan satu mikrolet,” jelas pria ramah itu.

Ketika dimunculkan pertama, menurut Harnen, volume kendaraan dan transportasi umum di Kota Malang tak sepadat seperti sekarang. Namun pemerintah saat itu memang ia nilai kurang melakukan persiapan untuk mengantisipasi dampak dalam jangka panjang.

(malangtimes/tow)