Terinspirasi Go-Jek, Kominfo Dijitalisasi UKM

11

Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Rudiantara, S.Stat., MBA (60) memang sangat kreatif dan aktif, memiliki rancangan menjadi UKM (usaha kecil menengah) Indonesia jadi raksasa dengan dikaitkan kepada dijitalisasi.

“Unicorn atau Start-up Indonesia itu kalau dilihat dengan seksama sebenarnya sama dengan koperasi, banyak member terkumpul jadi satu dan menghasilkan suatu bisnis yang menguntungkan bersama,” papar Menteri Rudiantara khusus kepada Media kemarin malam (9/6/2019).

Menteri Rudiantara mencontohkan Gojek Indonesia yang dipegang Nadiem Makarim (34) yang masih muda dan sukses dengan bisnis nya tersebut.

“Gojek kan punya anggota para pengendara yang melayani berbagai hal terutama kalau kita lihat Foods nya luar biasa besar sekali omset bisnis tersebut.

Pesanan dari rumah masyarakat, pengandara Gojek mengambil makanan dan mengantar ke rumah pemesan. Itu gabungan banyak anggota masyarakat kecil yang juga punya usaha sendiri kecil-kecil tergabung ke dalam lingkaran Gojek. Itu kan juga sama dengan Koperasi tetapi terkait lewat dijitalisasi internet dan aplikasi,” jelasnya.

Itulah sebabnya Rudiantara sangat optimis di masa depan Koperasi Indonesia akan sangat besar dan banyak sekali, mungkin akan jadi koperasi terkuat dan terbanyak di dunia.

“Jadi itu sebenarnya Koperasi cuma kita beri nama Unicorn atau start-up company saat ini, mungkin juga biar keren ya.”
Meskipun demikian menteri Rudiantara melihat tugas besar negara Indonesia tersebut khususnya membesarkan koperasi bukanlah di tangan satu kementerian saja.

“Itu harus lintas kementerian semuanya ikut bertanggungjawab dan saling koordinasi membuat usaha koperasi besar tersebut.”

Misalnya kementerian tenaga kerja juga terlibat, kementerian UKM juga terlibat, kementerian informasi yang dipegang Menteri Rudiantar ajuga terlibat dan berbagai kementerian lain, kemudian membuat satu organisasi khusus yang besar yang fokus membesarkan koperasi koperasi modern tersebut.

“Apabila model koperasi kerjasama antar departemen itu bisa terjadi dengan baik, sinergi dengan baik, luar biasa sekali dampaknya bagi perekonomian Indonesia khususnya. Ini juga salah satu upaya mencari pola-pola baru pengembangan usaha di Indonesia.”

Untuk itu lembaga koordinasi tersebut perlu dipegang anak muda seperti Nadiem yang sudah kuat, sudah establshed, sudah tak perlu apa-apa lagi, punya banyak uang, sehingga bisa fokus upaya nya untuk mensejahterakan rakyat Indonesia keseluruhan.

“Kalau pemimpin organisasi itu masih berkekurangan ditakutkan dia akan mencari kepentingan bagi dirinya sendiri nantinya, kurang fokus untuk masyarakat luas. Demikian pula harus masih muda sehingga bisa aktif dan agresif bekerja dengan baik mencurahkan daya pikiran tenaga dan segalanya untuk masyarakat luas,” tekannya lagi.

Pola-pola baru mengembangkan Indonesia justru menarik dikembangkan saat ini di tengah friksi dagang dua negara besar antara China dan Amerika Serikat.

“Misalnya Indonesia menjadi sangat baik sebagai tempat investasi karena sumber daya manusianya relatif masih murah dan kemudahan bagi investor asing berinvestasi dan berbisnis di Indonesia.”

Dengan friksi dagang kedua negara besar tersebut Indonesia justru harus bisa mempersolek diri secantik mungkin sehingga jadi pilihan tempat investasi terbaik di dunia ketimbang di kedua negara yang berperang dagang saat ini tersebut.

(tribunnews/tow)