Tarif Naik Drastis, 7 dari 10 Konsumen Enggan Naik Ojek Online

21

Ojek online kembali menjadi perbincangan. Ini setelah beredar kabar besaran tarif batas atas dan bawah tersebut telah dipatok Rp 3.100-3.500 per kilometer.

Selama ini, aplikator Grab menerapkan tarif batas bawah ojek daring sebesar Rp 1.200 per kilometer, adapun Go-Jek memberikan Rp 1.600 untuk mitra pengemudi.

Jika kabar tersebut benar, artinya tarif ojek online naik hampir dua kali lipat.

Penelitian yang dilakukan oleh Research Institute of Socio-Economic Development menemukan bahwa kenaikan tarif Ojek Online yang drastis akan menurunkan permintaan konsumen hingga 71,12 persen.

Selain itu, dampak negatif lainnya adalah akan terjadi peningkatan frekuensi masyarakat dalam menggunakan kendaraan pribadi dalam beraktivitas sehari-hari yang kemudian berdampak secara langsung pada kemacetan.

Dari hasil penelitiannya, RISED mengingatkan bahwa penentuan kebijakan yang mempengaruhi harga sebaiknya dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu stabilitas pasar secara menyeluruh. Dengan kata lain, seluruh pemangku kepentingan harus dilibatkan dalam perumusan kebijakan baik produsen maupun konsumen.

Berdasarkan hasil survei juga ditemukan bahwa saat ini konsumen telah merasakan nyamannya menggunakan ojek online. Sebanyak 75 persen dari 2.001 konsumen pengguna mengaku lebih nyaman menggunakan ojek online ketimbang moda transportasi lainnya. Sebesar 85 persen responden juga menyatakan bahwa ojek online lebih unggul karena tiga hal utama yakni kemudahan mobilitas, fleksibilitas waktu, dan layanan door-to-door. 

Dengan kata lain, kehadiran ojek online saat ini telah menjadi kebutuhan utama masyarakat dalam bermobilitas jarak pendek. Fakta menarik lainnya yaitu sebanyak 8,85 persen responden tidak pernah kembali menggunakan kendaraan pribadi setelah adanya ojek online.

Berdasarkan data tersebut, Pemerintah hendaknya tidak gegabah dalam menetapkan kebijakan dalam bisnis ojek online.

(republika/rised/tow)