Tanggapi Kisruh Taksi Online, Kadishub Bali Minta Bersaing Meningkatkan Pelayanan

6

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Gede Samsi Gunartha menyatakan kisruh antara taksi online dengan taksi konvensional di Bali merupakan suatu hal yang wajar dalam sebuah persaingan.

Menurut Samsi, persaingan tersebut sebetulnya kalau dilihat secara seksama tak lebih dari sebuah persaingan usaha.

“Saya kira normal-normal aja kok. Mereka itu cari makan sama-sama. Persoalannya satu dengan yang lainnya sedang bersaing,” kata Samsi saat ditemui di Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Bali, Jumat (17/5/2019).

Hanya saja, kata dia, angkutan yang menggunakan sistem online memiliki market yang agak lebih mudah diakses karena bisa dipesan dengan cara online.

Sedangkan yang tidak online atau kovensional harus mencari penumpangnya sendiri secara manual.

Samsi melanjutkan, sebetulnya kalau mau semuanya bisa di-online-kan.

Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memperbaiki competitiveness masing-masing usaha, karena ada istilah yang sering digunakan konsumen yakni tergantung seberapa baik pelayanan yang bisa diberikan.

Dan yang terpenting, menurut dia, adalah masyarakat mendapat kualitas pelayanan yang terbaik dan bertanggung jawab.

“Mereka (taksi online dan konvensional) mestinya bisa bersaing di pelayanan. Kalau kita lihat kedepan ini memang tidak ada pilihan karena kita harus maju, tetapi pengaturan usahanya yang diberlakukan lebih baik. Misalnya kalau (hotel/Vila) sudah bekerja sama dengan konvensional, diusahakan itu yang diprioritaskan terlebih dulu,” ujarnya.

Selanjutnya dalam Permenhub nomor 118 tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus menyebutkan yang diperbolehkan diatur pemerintah daerah adalah terkait jumlah kuota dan daerah operasionalnya.

“Jadi di peraturan menterinya mengatur demikian. Itu peluang kita mengatur disana,” imbuhnya.

Mengenai tawaran aplikasi online dari perusda kepada driver taksi konvensional, pihaknya terbuka saja karena aplikasi apapun bentuknya yang memang bisa membantu atau memberikan penguatan kepada budaya lokal atau krama Bali, maka positif untuk didorong.

Bagaimana kalau ada penolakan dari driver taksi konvensional untuk membuat aplikasi baru?

Ia menyatakan akan mengajak kedua belah pihak untuk duduk bersama mencari solusinya.

“Saya dengar mereka masih menunggu sampai dirilis. Kita sedang membentuk perwakilan masing-masing untuk berdialog. Supaya kalau kita membangun aplikasi baru masuk seperti apa yang diinginkan driver konvensional dan kemudian tidak mencederai sistem usaha non monopoli,” tuturnya.

Saat ini, sambung Samsi, beberapa peluang masih dilihat sebelum diambil sebuah kebijakan, yakni gagasannya seperti apa, apa yang bisa dikembangkan dari gagasan itu, dan kemudian baru dicarikan jalan terbaik.

“Kita masih membuka berbagai opsi dan akan dilihat apakah bertentangan dengan peraturan diatasnya. Kalau tidak bertentangan kira-kira apa untung ruginya dari kebijakan yang akan diambil itu,” ungkapnya.

(tribunnews/tow)