Tanggapi Kasus Pelecehan Seksual Driver Grab, Komnas Perempuan: Perlindungan Aplikator Lemah

17

Komnas Perempuan menilai pelecehan penumpang perempuan Grab oleh pengemudi mitra yang terus berulang, merupakan buntut dari tanggung jawab parsial operator yang lemah. Dari kejadian, seharusnya terjadi pembenahan yang sistematis dan menyeluruh.

Pelecehan tersebut ramai diperbincangkan di sosial media, khususnya Twitter dalam beberapa hari terakhir. Terhitung 13-14 Mei 2019, terlihat percakapan (mention dan retweeted) terkait pelecehan tersebut mencapai 135 postingan.

Kasus itu bermula dengan seorang gadis, penumpang Grab, mengaku mengalami perlakuan pelecehan seksual. Pada 11 Mei, temannya bernama Sarah Noer pemilik akun twitter @noergasme, menayangkan kronologis kejadian yang menimpa si gadis.

Unggahan berupa tangkapan layar komunikasi antara Sarah dan temannya yang jadi korban tersebut menjelaskan, ada kerentanan bagi penumpang wanita sebagai pengguna Grab.  Dalam tangkapan layar yang diunggah pada akun twitter tersebut, secara jelas ada identitas akun sang pengemudi berinisial AS.

Berdasarkan informasi tersebut, korban sebenarnya telah mengendus gelagat tak baik dari pengemudi. Sepanjang jalan, pengemudi Grab itu dengan sengaja memainkan rem, agar dada penumpang menempel ke punggung si pelaku.

Singkat cerita, korban memilih turun sebelum sampai tujuan. Nahas, sewaktu korban berjalan kaki tak jauh dari titik turun, pelaku dengan mengendarai sepeda motornya, malah meremas payudara korban.

Sebelumnya, karen amaraknya kasus pelecehan seksual oleh driver Grab tersebut berbuntu pada petisi di Change agar pemerintah menutup izin operasi Grab. Hingga hari ini, petisi tersebut telah ditandatangani dua ribuan orang lebih.

(tautan petisi:Banyak Kasus Pelecehan, Pemerintah Bekukan Izin Operasi Grab!)

Segera Respons                    

Kejadian ini pun telah direspons Grab. “Terima kasih atas data yang kakak berikan, kami akan segera melakukan pengecekan terkait hal ini,” balas Akun GrabId, kepada Sarah Noer.

Sarah Noer memperingatkan kejadian yang menimpa rekannya bukan kali pertama. “Bukan pertama, bukan kali kedua. Sistem kalian yang mesti kalian ubah,” sergahnya.

Peristiwa yang seringkali menimpa penumpang Grab itu pun dibenarkan Komisi Nasional untuk Perempuan (Komnas Perempuan). Menurut Pengampu Komnas Perempuan Imam Nakha’i, sejauh ini perlindungan konsumen dari aplikator lemah.

Dia mengutarakan selama ini, aplikator tidak melakukan perubahan secara menyeluruh untuk meningkatkan perlindungan konsumen perempuan. “Jika terjadi pelecehan, terhadap pelaku, hanya dikeluarkan saja akunnya. Selebihnya korban yang menanggung,” tegasnya.

Imam mengungkapkan sebenarnya kejadian seperti yang menimpat penumpang perempuan dari Grab, bisa dicegah. Pasalnya, kejadian serupa bukan pertama kali muncul.

“Dari Komnas [Perempuan], kami mendorong aplikator juga membenahi sistem penerimaan pengemudi mitra. Harus mereka awasi, kaji, dan evaluasi siapa calon pengemudi, rekam jejak seperti apa,” ungkapnya.

Di sisi lain, Imam melanjutkan tindakan pelecehan juga bersumber dari paradigma pelaku yang salah. “Relasi kekuasaan, dominasi, yang ada di kepala pelaku juga harus dibenahi,” tegas Imam.

City Manager Central Java and DIY Grab Indonesia, Hervy Deviyanto, mengatakan Grab Indonesia terus berkomitmen menjalankan roadmap keselamatan pengemudi. Program tersebut merupakan kerja sama dengan Komnas Perempuan. “Roadmap safety terus kami jalankan, itu serentak dari pusat, seluruh daerah ada,” kata Hervy saat dihubungi Media, Selasa (14/5).

Hervy menjelaskan roadmap safety berupa pelatihan, pembinaan dan penertiban pada driver ojek online agar menjalankan prosedur komunikasi dengan pelanggan perempuan sesuai standarnya. “Teknis detailnya ada di pusat tetapi di DIY juga sudah dijalankan. Terhitung sejak bulan kemarin,” kata Hervy.

(harianjogja/tow)