Tanggapan Go-Jek Soal Aksi Protes Driver di Solo

11
Layanan ojek motor berbasis aplikasi, Gojek, membawa penumpangnya.

Sejumlah driver mitra Go-Jek menggelar aksi demonstrasi di Solo memprotes harga layanan Go-Ride pada Rabu kemarin. Go-Jek memberikan tanggapan atas aksi itu.

Massa driver ojek online menggelar unjuk rasa di Solo. Para mitra Go-Jek itu merasa tarif baru yang ditetapkan perusahaan untuk layanan Go-Ride tidak manusiawi.

Menurut para driver, sejak 4 Maret 2019, Go-Jek menerapkan tarif baru, yaitu Rp 2.100 per km dengan hitungan jarak tempuh minimal 2,4 km. Jadi tarif minimal yang harus dibayar ialah Rp 5 ribu. Namun tarif tersebut masih dipotong 20 persen, yaitu menjadi Rp 4 ribu per perjalanan terpendek. Potongan inilah yang mereka permasalahkan.

Go-Jek memberikan tanggapan. Michael Reza, VP Corporate Affairs Go-Jek, mengatakan, terkait skema insentif, dapat disampaikan bahwa insentif adalah bonus tambahan yang diberikan Go-Jek demi menjaga kualitas layanan. Skema insentif, menurut Michael, akan selalu menyesuaikan dengan kondisi pasar karena tujuan utama skema insentif adalah mengupayakan titik temu terbaik antara permintaan pelanggan dan ketersediaan mitra Go-Jek.

“Fokus kami terkait kesejahteraan tidak hanya terbatas pada tarif dan insentif. Salah satu bentuk perwujudan aspirasi mitra adalah diluncurkannya berbagai program kesejahteraan mitra, melalui program Go-Jek Swadaya,” tutur Michael.

Berikut ini pernyataan lengkap Go-Jek mengenai aksi para mitra driver di Solo:

Berkenaan dengan penyampaian aspirasi yang dilakukan oleh mitra GOJEK di Solo tgl 13 Maret, Michael Reza, VP Corporate Affairs GOJEK menyampaikan:

Terkait skema insentif, dapat kami sampaikan bahwa insentif adalah bonus tambahan yang diberikan GO-JEK demi menjaga kualitas layanan. Skema insentif akan selalu menyesuaikan dengan kondisi pasar karena tujuan utama skema insentif adalah untuk mengupayakan titik temu terbaik antara permintaan pelanggan dan ketersedian mitra GO-JEK.

Fokus kami terkait kesejahteraan tidak hanya terbatas pada tarif dan insentif. Salah satu bentuk perwujudan aspirasi mitra adalah diluncurkannya berbagai program kesejahteraan mitra, melalui program GO-JEK SWADAYA. Program ini dapat meringankan pengeluaran sehari-hari mitra, memberikan akses kepada program asuransi terjangkau, serta memberikan akses kepada berbagai program pengaturan keuangan bagi masa depan mitra dan keluarganya. Bahkan, kami juga sedang mengeksplorasi berbagai program peningkatan kemampuan, keahlian dan pengetahuan untuk mitra, salah satunya melalui kegiatan Bengkel Belajar Mitra yang membekali mitra kami dengan pengetahuan kewirausahaan dan pengelolaan keuangan.

Terkait dengan penghapusan data mitra yang tersuspend, saat ini perusahaan sedang memprioritaskan perbaikan kebijakan sistem suspensi, dimana melalui sesi Kopdar secara berkala, kami rutin berdiskusi dengan mitra driver aktif kami. Sesi-sesi kopdar selama beberapa bulan belakangan ini membahas mengenai kebijakan suspension sehingga dapat lebih mudah dipahami dan terkomunikasikan dengan baik demi menjaga kualitas layanan GO-JEK.

Sedangkan terkait sistem alokasi (penghapusan order prioritas), GOJEK berkomitmen untuk terus meningkatkan kemudahan dan kenyamanan mitra driver dalam bekerja. Sejalan dengan hal tersebut, GOJEK telah menerapkan sistem alokasi order yang baru. Pada sistem yang baru ini, kedekatan dengan titik lokasi bukanlah satu-satunya parameter dalam pembagian order. Order yang dibuat oleh konsumen akan disebarkan kepada mitra yang berada pada radius tertentu. Kemudian, mitra yang paling rajin (tidak pilih – pilih order), punya rating tinggi, berpeluang lebih besar untuk mendapatkan order tersebut.

Melalui sistem yang baru ini, jumlah mitra driver yang berbuat curang menggunakan Fake GPS dapat berkurang. Sistem baru ini juga secara tidak langsung membuat pengguna mendapat kualitas pelayanan yang lebih baik.

(detik/tow)