Signifikansi Transportasi Online dalam Mengurangi Pengangguran

336

Hadirnya transportasi berbasis aplikasi di tengah- tengah masyarakat dewasa ini tidak bisa dipungkiri telah memberikan banyak manfaat kepada masyarakat. Hal ini dirasakan langsung oleh warga, baik yang menggunakan jasa transportasi online tersebut maupun yang menjadikannya sebagai lahan pekerjaan baru.

Di tengah lesunya kondisi perekonomian saat ini. Transportasi online justru dapat mengambil peran cukup signifikan yaitu mengurangi tingkat pengangguran dengan menyerap banyak tenaga kerja. Hal ini sudah banyak dibuktikan oleh beberapa lembaga riset yang cukup kredibel dan dapat percaya seperti INDEF dan Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (PUSKAKOM UI)

Baca :

Meskipun demikian, kehadiran transportasi online juga mengalami penolakan di beberapa daerah seperti Batam, Magelang dan Garut. Kebanyakan mereka yang menolak kehadiran transportasi online adalah ojek pangkalan dan taksi konvensional. Mereka menolak keberadaan transportasi online karena mengikis penghasilannya. Alasan lainnya, sebagian besar terkait persoalan regulasi.

Baca:

Peraturan tersebut dirasakan belum cukup komprehensif mengatur permasalahan transportasi online. Dalam Permenhub No.26 Tahun 2017 misalnya, regulasi tersebut tidak mengatur akan keberadaan ojek online yang justru lebih banyak digunakan oleh masyarakat dan dapat mengurangi kemacetan di kota-kota besar seperti Jakarta.

Terlepas dari semua  itu, ternyata kehadiran transportasi berbasis aplikasi tersebut juga membawa dampak negatif seperti maraknya kasus pelecehan seksual yang dialami oleh konsumen perempuan. Jenis kasusnya pun bermacam- macam, mulai dari chatting berbau pornografi, kekerasan verbal, hingga pelecehan seksual yang dilakukan oleh driver transportasi online.

Baca:

Padahal, menurut data PUSKAKOM UI, sebagian besar pengguna  transportasi berbasis aplikasi tersebut adalah kaum hawa yang berusia 20-30an. Sebesar 84% mengenyam pendidikan S1 (50%)  dan belum menikah (56%) serta belum memiliki anak sebesar 49%.

Melihat fenomena dan data demikian, pemerintah diharapkan membuat regulasi yang dapat lebih memberikan rasa aman dan nyaman  kepada konsumen perempuan. Pelaku pelecehan seksual yang dilakukan oleh pengemudi transportasi online tidak hanya menjadi persoalan penyedia jasa transportasi online tersebut, namun juga kepolisian untuk menimbulkan efek jera hingga mencegah agar tidak berulang lagi.

(Pengamat Transportasi Online)