Selain Layanan Antar Makanan, Go-Jek Kuasai Pembayaran Digital

13

Go-Food dianggap sebagai pelopor food delivery dan pemimpin pasar layanan antar makanan online. Hal itu dinilai oleh mayoritas pengguna aplikasi pesan antarmakanan di semua kelompok usia.

Alvara Research Center melakukan survei tersebut dengan mengukur berdasarkan brand awareness, penggunaan (usage) dan loyalitas konsumen (loyalty).

1. Go-Food mendominasi pasar pesan-antar makanan

Go-Food mendominasi pasar pesan-antar makanan karena jauh lebih banyak digunakan oleh konsumen atau 71,7 persen dibanding GrabFood 39,9 persen. Responden dapat memilih lebih dari satu aplikasi.

Seperti di transportasi, mayoritas millennial juga memilih Go-Food karena aspek kualitas layanan. Sementara, GrabFood lebih diasosiasikan dengan harga dan promo murah.

“Jonsumen lebih banyak merekomendasikan Go-Food dengan skor net promoter 14,9,” jelas CEO dan Founder Alvara Research Hassanudin Ali.

2. Go-Pay unggul dibanding OVO, Dana, PayTren, dan LinkAja

Tak hanya itu, Brand Awareness Go-Pay juga mencapai 100 persen di kalangan milenial. Angka ini mengungguli para pemain lain seperti OVO yang berasosiasi dengan Grab (96,2 persen), Dana (50,3 persen), PayTren (47 persen), dan LinkAja (35 persen).

Go-Pay paling banyak digunakan oleh 67,9 persen responden, dibanding dengan pemain aplikasi pembayaran digital sejenis.

“Konsumen juga lebih mempromosikan Go-Pay dibanding aplikasi pembayaran digital sejenis. Ini berdasar dari nilai net promoter yang lebih tinggi yaitu 14,3,” katanya.

3. E-commerce Indonesia diharapkan jadi pemain utama

Hassanudin mengatakan, momentum para millennial yang lebih memilih aplikasi e-commerce buatan Indonesia harus dijaga. Dengan demikian, Indonesia bisa menjadi pemain utama di era ekonomi digital, tidak hanya menjadi pasar.

“Apalagi, berbagai outlook ekonomi menyebutkan bahwa potensi transaksi e-commerce di Indonesia sangat besar,” ungkap Hassanudin.

Tahun 2020, transaksi e-commerce di Indonesia diperkirakan mencapai US$130 miliar atau setara Rp1.700 triliun, naik tajam dibandingkan tahun 2016 dan 2013 yang sebesar US$20 miliar (Rp261 triliun), US$8 miliar (Rp104 triliun).

4. Ekonomi digital paling besar dikonsumsi millennial

Hassanudin menjelaskan, perkembangan ekonomi digital di Indonesia didorong paling besar oleh konsumsi para millennial. Sesuai riset bersama IDN Research Institute dan Alvara di awal tahun 2019, kelompok millennial Indonesia merupakan digital natives. Sebab, 98,2 persen telah memakai smartphone untuk mengakses internet.

“Mereka memiliki intensitas penggunaan smartphone yang tinggi hingga 6 jam per hari untuk menjalankan aktivitas chatting/messaging, jejaring sosial, hingga pembelian layanan jasa dan barang secara online,” kata Hassanudin.

5. Penelitian Alvara melibatkan 1.204 responden

Penelitian dilakukan Alvara melalui survei tatap muka dengan metode cluster random sampling terhadap 1.204 responden di Jabodetabek, Bali, Padang, Yogyakarta, dan Manado. Penelitian dilakukan dari minggu pertama April sampai dengan minggu kedua Juni 2019, meliputi tahap pengambilan data lapangan (survei tatap muka), analisa data dan penulisan laporan. Nilai margin of error penelitian berada di kisaran 2,89 persen.

Penelitian tersebut bertujuan mengetahui kebiasaan dan perilaku konsumen milenial dalam menggunakan mobile e-commerce application, baik buatan Indonesia maupun asing. Parameter yang diukur adalah brand awareness, perilaku dan kebiasaan konsumen, serta tingkat kepuasan pelanggan.

(idntimes/tow)