Sejarah Transportasi Online di Indonesia

20407
Massa Driver Online dan Konvensional foto : republika

Tahun 2015 merupakan masa yang fenomenal bagi perkembangan layanan transportasi on demand, atau yang biasa dikenal dengan transportasi online. Dalam rentang waktu dua belas bulan, GO-JEK berkembang dari sebuah aplikasi mobile baru menjadi sebuah layanan besar, yang kemudian mendapat perlawanan dari GrabTaxi dengan layanan GrabBike. Persaingan tersebut pun semakin sengit dengan masuknya layanan asal Amerika Serikat, Uber, yang hadir di tanah air sejak tahun 2014.

Memasuki tahun 2016, persaingan ketiga startup tersebut justru bertambah sengit. GrabTaxi mengubah namanya menjadi Grab, dan berusaha menyaingi GO-JEK di bisnis pengantaran makanan dengan membuat layanan GrabFood. Ketika GO-JEK meluncurkan GO-PAY, Grab pun turut meluncurkan fitur serupa dengan nama GrabPay Credits.

Uber pun turut memanaskan persaingan dengan menghadirkan UberMotor, demi bersaing dengan GrabBike dan GO-JEK. Seperti ingin memberi serangan balasan, GO-JEK pun turut hadir dengan layanan GO-CAR demi menghadang perkembangan layanan UberX dan GrabCar tepat seminggu setelah Uber meluncurkan UberMotor.

Bagaimana sebenarnya persaingan ketiga startup tersebut sepanjang tahun ini?

Tekanan sesaat dari perusahaan taksi konvensional

Di awal tahun 2016, ribuan pengemudi angkutan umum yang merasa pendapatan mereka menurun akibat kehadiran layanan transportasi online akhirnya melakukan demonstrasi. Massa yang didominasi oleh para pengemudi taksi tersebut menuntut layanan seperti Uber dan Grab agar segera ditutup.

Insiden ini tak hanya berlangsung sekali, mereka pun kembali melakukan aksi demonstrasi seminggu setelahnya. Hal ini pun memaksa pemerintah untuk segera mengambil sikap. Mereka pun membuat aturan yang mengharuskan kendaraan yang digunakan oleh Uber, Grab, dan GO-CAR untuk melakukan uji kir, serta bernaung di bawah badan hukum berbentuk koperasi.

Pemerintah juga sempat mengharuskan para pengendara kendaraan transportasi online untuk mengubah nama di Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) menjadi nama perusahaan atau koperasi. Namun pemerintah kemudian membatalkan aturan tersebut.

Uniknya, menjelang akhir tahun 2016, perusahaan taksi yang sebelumnya seperti menentang layanan transportasi online, justru mengubah sikap. Mereka akhirnya melirik layanan transportasi online sebagai sebuah kesempatan, dan menjalin kerja sama dengan mereka.

Hal ini ditunjukkan dengan kerja sama yang dilakukan Blue Bird dengan GO-JEK, serta Express Group dengan Uber. Nantinya, kamu akan bisa memesan armada taksi. Blue Bird lewat aplikasi GO-JEK, atau mendapatkan armada taksi Express ketika memesan layanan UberX

GO-JEK dan Grab menjelang akhir tahun 2016 ini justru mendapat tekanan dari para pengemudi mereka sendiri, yang merasa pendapatan mereka terlalu kecil.

Hadirkan layanan unik demi menjadi yang terdepan

Keperkasaan GO-JEK, Uber, dan Grab bukannya tanpa akibat yang buruk. Layanan baru yang mencoba mengikuti kesuksesan mereka bertiga seperti Blu-Jek, TopJek, dan LadyJek kini hampir tidak terlihat lagi di jalanan ibu kota. Dari akun media sosial mereka, bisa terlihat kalau layanan-layanan tersebut kini justru mengalihkan fokus ke bidang logistik.

GO-JEK, Uber, dan Grab sendiri pun harus terus berinovasi demi menjadi layanan terdepan di tanah air.

Berbeda dengan para pesaingnya, GO-JEK merupakan startup yang menghadirkan layanan paling banyak. Setelah membaut layanan seperti GO-CLEAN dan GO-MASSAGE di tahun lalu, pada tahun ini mereka kembali menghadirkan layanan baru berupa layanan perbaikan dan cuci kendaraan GO-AUTO, layanan isi pulsa GO-PULSA, serta layanan pengiriman obat GO-MED.

Sadar kalau metode pembayaran seringkali menghambat para pengguna dalam menggunakan layanan-layanan mereka, tahun ini GO-JEK pun meluncurkan metode pembayaran GO-PAY. Kamu kini bisa mengisi saldo GO-PAY lewat berbagai cara, mulai dari transfer bank hingga dengan memberikan uang langsung ke pengemudi GO-JEK.

Seakan ingin memperkuat posisi GO-PAY sebagai metode pembayaran mereka, GO-JEK pun mengakuisisi sebuah layanan pembayaran bernama PonselPay di tahun 2016 ini.

Tak berhenti sampai di situ, GO-JEK pun turut memperkuat layanan lama mereka, seperti GO-SEND. Saat ini, mereka telah bekerja sama dengan marketplace Tokopedia dan Bukalapak untuk mengantarkan barang pesanan dari penjual kepada para pembeli.

GO-JEK pun telah bekerja sama dengan aplikasi chat LINE, sehingga pengguna LINE kini bisa memesan GO-JEK langsung di aplikasi tersebut. Menjelang akhir tahun, Uber pun kemudian ikut membuat fitur serupa.

Berbeda dengan GO-JEK yang coba merambah bisnis lain di luar transportasi, Grab justru fokus di bidang transportasi online dengan menghadirkan layanan GrabHitch. Dengan layanan GrabHitch ini, para pengguna Grab yang membawa sepeda motor bisa berbagi tumpangan kepada pengguna lain, serupa dengan layanan Nebengers dan TemanJalan.

Demi memudahkan pengguna ketika menghubungi para pengemudi, Grab pun menghadirkan fitur chat di dalam aplikasi mereka.

Selain itu, Grab pun membuat sebuah program loyalitas yang bernama Top Partners untuk pengemudi, serta GrabRewards untuk para pengguna mereka. Langkah ini seperti mengikuti GO-JEK yang sebelumnya juga berusaha memudahkan para pengemudi mereka untuk mengakses fasilitas keuangan dengan program bernama Swadaya.

Tak mau kalah dengan kedua pesaingnya, Uber pun turut menghadirkan beberapa layanan baru. Sepanjang tahun ini, mereka telah meluncurkan layanan berbagi tumpangan UberPool dan layanan sewa mobil harian UberTrip.

Selain menambah berbagai layanan baru, baik GO-JEK, Uber, dan Grab pun turut memperluas jangkauan mereka ke kota-kota baru. GO-JEK menjadi layanan yang paling gesit dengan hadir di Malang, Solo, Samarinda, dan Manado sepanjang tahun 2016 ini. Mereka pun diikuti oleh Uber yang tahun ini mulai beroperasi di Surabaya, Yogyakarta, dan Malang.

Berbeda dengan dua pesaingnya, Grab justru tidak membuka layanan mereka di kota baru. Namun mereka menghadirkan layanan lama mereka seperti GrabBike dan GrabExpress di Bali, di mana mereka sebelumnya hanya menyediakan layanan GrabCar.

GO-JEK yang kian erat dengan developer India

Tahun 2016 juga merupakan penanda kian eratnya hubungan GO-JEK dengan para developer asal India. Hal ini bisa terlihat dengan empat akuisisi yang mereka lakukan terhadap berbagai perusahaan asal negeri Bollywood tersebut.

Perusahaan pertama dan kedua yang mereka akuisisi tahun ini adalah C42 Engineering dan CodeIgnition. Selanjutnya mereka juga mengakuisisi startup kesehatan Pianta, yang kemudian dilanjutkan dengan akuisisi terhadap startup teknologi LeftShift.

Di tahun 2017 nanti, persaingan antara GO-JEK, Uber, dan Grab di Indonesia sepertinya masih akan berlangsung seru. Pasalnya, GO-JEK baru saja mendapat pendanaan sebesar US$550 juta (sekitar Rp7,3 triliun). Hal ini juga diikuti oleh Grab yang meraih investasi US$750 juta (sekitar Rp10 triliun) pada bulan September tahun ini yang kemudian diikuti dengan investasi dari perusahaan otomotif Honda.

Saat musim hujan tiba, layanan transportasi online apa yang paling cocok digunakan

Seperti tak mau ketinggalan, Uber pun mendapat beberapa kali pendanaan tahun ini, mulai dari Letterone Holdings, Morgan Stanley, hingga Public Investment Fund Saudi Arabia. Persaingan bisnis transportasi online di tanah air kini resmi menjadi perang antara tiga startup unicorn.

Menarik untuk ditunggu bagaimana ketiganya menghadirkan lebih banyak inovasi demi menjadi yang terdepan di tahun 2017.

(techinesia/tow)