#SaveGojekMagelang Membahana, Menyusul Akan Ditutupnya Kantor Go-Jek dengan Paksa

117

Keputusan Pemerintah Kota Magelang melarang operasional ojek online benar-benar ditentang oleh masyarakat dan Paguyuban Go-Jek Magelang.

Masyarakat menilai Pemkot Magelang tidak melihat respon mereka terhadap kehadiran Go-Jek di daerahnya. Respon masyarakat jelas-jelas antusias menyambut kehadiran ojek online ini, karena banyak memberikan keuntungan. Tidak hanya murah, tetapi juga lebih efisien.

Pun demikian dengan respon para driver. Mereka sangat senang Go-Jek telah hadir di Magelang, karena memberikan lapangan kerja.

Tidak hanya masyarakat dan para driver, para ahli hukum juga mengkritik kebijakan Pemkot Magelang yang dinilainya karena ketakutan dengan desakan para sopir ojek konvensional.

Baca:

Sebagaimana diketahui bersama, keputusan Pemkot Magelang menghentikan operasional Go-Jek di wilayahnya, karena ada aksi demonstrasi dari sopir ojek konvensional yang menuntut Pemkot Magelang segera melarang ojek online.

Tidak hanya melarang ojek online beroperasi, Pemkot Magelang juga akan menyegel kantor Go-Jek disana.

Itulah yang membuat geram Paguyuban Go-Jek di Magelang. Setelah adanya rencana Pemkot tersebut, tersebar sebuah video para driver Go-Jek yang sedang siap siaga untuk menjadi pagar betis di depan kantornya.

Dalam video tersebut, para driver memulai dengan menyanyikan lagu Hari Merdeka (17 Agustus 1945). Setelah itu, koordinator dalam aksi damai tersebut menyampaikan orasinya.

Ia mengajak seluruh driver untuk menjadi pagar betis di depan kantor yang telah memberikan dirinya lapangan pekerjaan. Tak luput juga, sang koordinator menginstruksikan untuk tidak mengganggu lalulintas.

Berikut videonya:

Penolakan masyarakat terkadap keputusan Pemkot Magelang juga ramai di media sosial. Tagar #SaveGojekMagelang ramai diperbincangkan oleh warganet.

(TOW)