Rating sempurna di Go Massage, Sumadi, Pemijat Tunanetra Terima Penghargaan dari Presiden Jokowi

9
Pemijat tunanetra Sumadi yang pernah mendapat penghargaan dari Presiden Joko Widodo. Dok. Go-Jek

Salah satu profesi yang paling banyak dilakoni tunanetra adalah pemijat atau massious. Pekerjaan ini seperti melekat pada citra tunanetra, di manapun berada. Untuk mengakomodasi potensi itu, perusahaan Gojek menyediakan layanan Go Massage dari para tunanetra untuk pelanggannya.

Salah seorang pemijat yang terbilang berprestasi di kalangan tunanetra adalah Sumadi. Pria asal Jawa Tengah ini adalah seorang pemijat yang memiliki rating sempurna di platform Go Massage. Sumadi tidak hanya memiliki teknik memijat yang tepat, namun juga rapi, bersih, dan memperhatikan penampilannya ketika menangani klien.

“Saya bekerja menawarkan jasa, tentu yang dinilai adalah jasa dan kinerja saya. Saya berharap rating lima dari Gojek yang diberikan kepada saya bukan semata-mata karena kasihan,” ujar Sumadi di acara Musyawarah Nasional Persatuan Tunanetra Indonesia ke-9 di Ballroom Hotel Mega Anggrek, Rabu 21 Agustus 2019.

Lantaran teknik memijat serta prestasinya di Gojek, Sumadi menjadi salah seorang penerima penghargaan mitra start up terbaik yang diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 2018. Penghargaan ini membuktikan bahwa tunanetra masih memiliki taring di dunia massage, meski banyak perusahaan atau klinik spa modern bermunculan.

Sumadi berbagi tips agar tak kalah dengan spa modern, maka setiap pemijat sebaiknya tampil bersih, bekerja profesional, dan tidak malas menerima ilmu baru. “Saya selalu ingat, di atas langit selalu ada langit,” ujar Sumadi.

Tunanetra yang pernah dua kali bekerja sebagai massious di perusahaan spa ini menjelaskan salah satu cara mempopulerkan jasa pijatnya adalah menggunakan metode pemasaran digital. Dia juga kerap mempresisikan klinik pijatnya dengan peta di Google agar klien atau pelanggan mudah mencarinya.

“Saya selalu update tempat atau posisi saya berada, terutama untuk klinik pijat milik sendiri agar mudah dicari dan diidentifikasi,” ujarnya di depan peserta Munas Pertuni itu. Sumadi juga mengingatkan agar pemijat tidak anti-kritik ketika memberikan jasanya, baik saran dari pelanggan atau orang di sekitarnya. Misalnya, bagaimana cara berkomunikasi dan berpenampilan, juga menjadi faktor penunjang yang penting. “Jangan sering menelepon atau mengobrol ketika memberikan jasa massage.”

Dengan keberhasilan Sumadi, profesi massious di antara tunanetra tak bisa dipandang sebelah mata. Banyak tunanetra yang berhasil memberdayakan diri dan berjasa bagi keluarganya melalui profesi ini. Bahkan beberapa di antara mereka dapat memiliki aset tetap, seperti rumah dan menyekolahkan putra putrinya, dari hasil memijat.

(tempo/tow)

Loading...