Puluhan Driver Go-Jek Pontianak Tuntut Manajemen Menghalalkan Fake GPS

8

Transonlinewatch- Puluhan driver ojol (ojek online) Gojek Pontianak yang tergabung dalam Komunitas Driver Gojek Khatulistiwa Pontianak mengadakan aksi damai, di depan kantor Gojek cabang Pontianak, Jalan Uray Bawadi, Sungai Bangkong, Rabu (07/11/2018) sekitar pukul 14.00 WIB.

Dalam aksi ini, setidaknya para massa memiliki 3 tuntutan kepada Manajemen Gojek Pontianak yakni diantaranya:

1. Penghentian atau penutupan penerimaan Driver Gojek secara online di wilayah operasional Gojek cabang Pontianak.

2. Menyampaikan secara terbuka melalui media cetak dan elektronik penutupan dan penerimaan driver Gojek baru secara online di wilayah operasional Gojek cabang Pontianak.

3. Menyampaikan secara terbuka melalui media cetak dan elektronik jumlah driver Gojek dan Gocar selama kurun waktu satu tahun tujuh bulan selama beroperasinya Gojek di wilayah Pontianak.

Selain tiga hal tersebut, massa juga menuntut pihak Gojek Pontianak untuk “menghalalkan” penggunaan aplikasi fake GPS, yang mana aplikasi tersebut massa sebut telah diperbolehkan di beberapa kota, yakni Jakarta, Surabaya, dan Makassar.

Sam, salah seorang koordinator aksi menuturkan, penggunaan aplikasi ini padahal menimbulkan dampak positif. Karena para driver tidak perlu ngetem di suatu tempat untuk mencari orderan, sehingga tidak menggangu kenyamanan tempat tersebut.

“Kalau kita lihat dari daerah lain seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar, itu fake GPS sudah disetujui oleh pihak Gojek karena dengan fake GPS itukan mereka tidak ngetem di restoran-restoran,” ujarnya.

Aplikasi tersebut, lanjutnya, juga bukan merupakan aplikasi yang dilarang. Sebab, aplikasi ini dapat diunduh siapa saja karena terdapat di Google Play Store.

Para driver yang menggunakan aplikasi ini, kata Sam, disebabkan karena menjamurnya driver Gojek di wilayah Pontianak yang saat ini mencapai 10 ribu orang. Mereka menggunakan aplikasi ini dengan tujuan agar para driver tidak menumpuk di jalan.

Mereka juga menolak disebut “tuyul” karena menggunakan aplikasi ini. “Kalau kita yang gunakan fake GPS ini, kita datang beli orderan, antar orderan. Jadi bukan fiktif. Kita hanya dibantu,” terangnya.

Jika pihak Gojek nantinya masih tidak “menghalalkan” penggunaan aplikasi ini, Sam bersama yang lain mengaku akan mengirimkan surat permohonan kepada Dinas Perhubungan dan Gubernur.

“Supaya driver yang duduk di warung-warung bisa geser. Kan malu orang datang mau makan terganggu dengan mereka. Inikan tidak bagus,” paparnya.

Saat ini, menurut Sam, telah terjadi benturan antara driver Gojek yang menggunakan fake GPS di lapangan dengan yang tidak. Pihak Gojek, diakuinya hanya diam dan tak mau menjadi mediator. “Ketika ada sesuatu di lapangan, pihak Gojek hanya diam,” timpalnya.

Aksi diakhiri dengan penempelan poster-poster berisikan kata-kata protes mereka di luar Kantor Gojek.

Sementara itu, salah satu staff Manajemen Gojek Pontianak tidak bersedia dimintai keterangan, lantaran kata dia, kewenangan berbicara harus dari perwakilan Gojek Pusat yang saat itu sedang tidak di lokasi.

(netizen.media/tow)