Penutupan Transportasi Online Balikpapan, Warga: Rezeki Tidak Akan Tertukar

50

Aksi demonstrasi yang dilakukan sopir angkutan kota (angkot) dan taksi argo yang sempat mogok kerja memprotes taksi online disesalkan masyarakat. Konsumen transportasi umum justru menilai, keberadaan taksi online sangat dibutuhkan.

“Kenapa mesti demo segala, apakah mungkin adanya taksi online mengurangi pendapatan mereka,” ujar Sumantri, warga Damai Baru kepada media, kemarin (11/10).

Baca:

Lanjut Sumantri mengemukakan, sopir taksi konvensional tak pantas memprotes keberadaan taksi online karena justru dibutuhkan oleh masyarakat. Berbagai kemudahan dan kejelasan tarif membuat layanan transportasi umum berbasis online menjadi pilihan masyarakat.

“Tentunya warga memilih taksi online mengingat kemudahan-kemudahan dan fasilitas yang diberikan lebih baik,” sambungnya.

Salah satu contoh, Sumantri menyebutkan, ketika terburu-buru ingin pergi ke suatu tempat, konsumen tinggal pesan via aplikasi handphone mobil maupun motor jasa online akan langsung datang sampai di depan rumah.

“kalau naik angkot, harus keliling-keliling dulu. Sopir harus mencari penumpang lainnya dan lebih besar kemungkinan terkena macet,” terang dia.

Hal yang sama juga disampaikan Riswan warga Sepinggan. Dirinya menilai, sebagian sopir angkot terkadang tidak memperhatikan keselamatan penumpang. Mereka membawa kendaraan secara ugal-ugalan.

“Bahkan sering saya jumpai sopir yang mungkin baru bisa menyetir dan belum memiliki SIM, terutama sopir tembak,” beber Riswan.

Tak hanya itu, ia menambahkan, penumpang tak jarang diturunkan di jalan padahal belum sampai tujuan. Konsumen tadi diminta untuk mencari angkot lain dengan alasan jarak yang dituju penumpang terlalu jauh. Malahan sopir bisa marah ke penumpang apabila penumpang tidak mau turun dan mencari angkutan lain.

“Kami sebagai konsumen berhak untuk memilih mana yang kami butuhkan,” tandas Riswan.

Dirinya berharap para sopir angkot memperbaiki kualitas dalam memberi pelayanan ke warga. Sopir angkot jangan berhenti mendadak sehingga membahayakan pengendara yang berada di belakang dan ugal-ugalan di jalan.

“Saya yakin, tidak semua konsumen menggunakan jasa online. Masih banyak yang tetap menggunakan jasa angkutan umum (konvensional, Red),” tuturnya.

Bukannya ingin memutus rezeki sopir angkutan umum, kata Riswan, namun rezeki sudah ada yang mengatur. Sopir angkutan umum konvensional merasa harus menghidupi keluarga. Begitu pula dengan para sopir taksi online mereka juga punya keluarga yang harus dihidupi.

“Intinya kalau memang rezeki tidak akan kemana-mana dan tak akan tertukar,” pungkas Riswan.

(prokal/tow)