Pengguna GrabWheels Setuju Jakarta Batasi Skuter Listrik di Jalan Demi Keamanan

9
Icha pengguna skuter listrik. (Suara.com/Ditha)

Putri, pengguna skuter listrik setuju jika penggunaan skuter listrik di jalan raya dibatasi. Perempuan kisaran usia 26 tahun ini setuju penggunaan skuter listrik dibatasi demi keamanan di jalan.

Sebelumnya, Dinas Perhubungan DKI Jakarta akan mengkaji penggunaan skuter listrik di Jakarta. Putri biasa menggunakan GrabWheels. Suara.com menemuinya saat dia menggunakan GrabWheels di kawasan Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2019).

“Kalau (jalurnya) di kota jalan besar gitu, kan, takut membahayakan pengguna juga,” ujar Putri.

Putri pengunjung Jakarta asal Malang ini mengaku pertama kali menyewa skuter elektronik dan memanfaatkannya sebagai transportasi untuk ke suatu tempat.

Pengguna layanan skuter listrik Grabwheels dari Grab di Jakarta, Minggu (29/9/2019). [Antara/Laily Rahmawaty]
Pengguna layanan skuter listrik Grabwheels dari Grab di Jakarta, Minggu (29/9/2019). [Antara/Laily Rahmawaty]

“Baru pertama coba. Lucu, sih. Baru tahu karena di Malang tidak ada. Ini cuma mau ke Alfamart, daripada jalan,” tambahnya.

Pengguna GrabWheels tak hanya dari kalangan pekerja, pelajar pun sering menggunakan skuter listrik ini meski sekadar untuk jalan-jalan dan mencari kesenangan. Salah satunya Fahri, anak berusia 10 tahun.

“Main-main saja. Adu balap,” kata Fahri (10) sepulang sekolah.

Sementara itu, Christian 22 tahun juga pengguna skuter listrik. Pengajar vokal di Jakarta itu menggunakan skuter karena ingin menuju ke MRT sekaligus pertama kali mencoba.

“Jalanannya sempit, jadi dari tadi cuma sedikit naik. Mungkin kalau di jalan besar, yang lebih leluasa trotoarnya jadi lebih enak pakainya,” jelas Christian.

Pengkajian mengenai pembatasan dan jalur khusus skuter listrik GrabWheels dirasa memang diperlukan. Apalagi bagi pengguna transportasi umum. Menurut Christian, jika ada jalur khusus untuk skuter listrik akan lebih efektif adanya skuter bagi pengguna.

“Ya, kalau ada jalur yang bisa dikhususkan mungkin jadi lebih efektif adanya skuter ini,” ujar Christian.

Senada dengan Icha. Dia setuju jika ada jalur khusus untuk skuter listrik.

“Bagus, sih. Biar kalau ada mobil, motor, kan, jadi ini sendiri kan jalurnya. Daripada nanti satu jalur sama mobil motor nanti banyak yang protes juga, kan,” tanggapan Icha (18) mahasiswi STEI Rawamangun.

Pengguna skuter listrik. (Suara.com/Ditha)
Pengguna skuter listrik. (Suara.com/Ditha)

Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo mengatakan akan mengkaji regulasi penggunaan skuter listrik di Jakarta. Syafrin mengaku kekinian memang belum ada regulasi yang khusus mengatur penggunaan skuter listrik.

Hal itu dikatakan Syafrin menyusul banyaknya pengguna skuter listrik di Jakarta yang dikembangkan oleh perusahaan Grab. Untuk menyikapi hal itu, Syafrin mengatakan akan segera mengkaji regulasi terkait penggunaan skuter listrik.

“Nanti akan saya kaji lebih lanjut ya. Seperti apa model bisnis mereka, kemudian kita akan mencoba komparasi dengan penyiapan jalur sepeda yang sekarang sedang disiapkan oleh Pemprov DKI,” kata Syafrin saat dihubungi, Senin (7/10/2019).

Berkenaan dengan itu, Syafrin merespons positif atas adanya moda transportasi baru berbasis listrik tersebut. Sehubungan, belum adanya regulasi khusus, maka kata dia penggunaan skuter listrik di Jakarta pun diperbolehkan.

“Boleh, nanti akan kita kaji lebih lanjut. Tentu kalau memang mereka menggunakan kendaraan ramah lingkungan akan kita dukung,” ujarnya.

Adapun, Syafrin menyarankan selama belum adanya regulasi khusus bagi pengguna skuter listrik maka mereka dapat menggunakan jalur sepeda yang kekinian tengah disiapkan oleh Dishub DKI Jakarta.

“Untuk jalur sepeda itu memang khusus untuk pesepeda, untuk otoped (skuter listrik) ini kan elektrik, perihal kecepatan kan dia beragam. Saya pikir untuk masuk dan menggunakan jalur sepeda itu bukan masalah,” tandasnya.

(suara/Fransiska Ditha Edinia/transonlinewatch)