Pelajaran Hidup dari Pak Gun, Sopir Taksi Online

291

“Kita bekerja setiap hari itu untuk mencukupi kebutuhan, bukan untuk menuruti kesenangan. Kalau itu dilakukan, tak akan ada kesulitan dalam menjalani hidup.” Kalimat inilah yang masih terus terngiang di telinga saya sampai sekarang. Orang yang mengatakan adalah Pak Gun, sopir taksi online yang membawa saya pekan lalu ke Kuningan, Jakarta.

Pak Gun melanjutkan, sekarang ini sudah banyak yang salah-kaprah dalam menjalani hidup. Mengejar uang setiap hari, begitu dapat, bukan untuk mencukupi kebutuhan tapi kesenangan malah di nomor-satukan. Padahal kalau kebutuhan diutamakan, hati akan tenang. Batin juga. Menjalani hari-hari juga menyenangkan. Tak akan pernah ada rasa khawatir kekurangan.

Jadi sebenarnya, kesulitan itu asalnya dari diri sendiri. Dibuat sendiri. Karena, Tuhan sudah membagikan rezeki kepada setiap umatnya sesuai kebutuhan hidupnya. Persoalannya, apakah rezeki yang dibagikan Tuhan itu digunakan sesuai dengan kebutuhannya?

“Nah, di sinilah bedanya satu orang dengan orang lain, Mas,” kata Pak Gun kepada saya. Begitu Tuhan kasih rezeki, bukan kebutuhan yang lebih dulu dicukupi, tapi kesenangan. Akhirnya, susah sendiri. Itu terjadi karena banyak orang menuruti nafsu, gengsi dan gaya hidup. Belum mampu beli mobil, memaksakan diri kredit mobil. Ujung-ujungnya bingung bayar kreditan. Uang sekolah anak belum dibayar, duitnya malah untuk belanja yang nggak perlu-perlu amat di mal. Demi gengsi, akhirnya menyulitkan diri sendiri.

Mendengar ceritanya selama perjalanan menuju Kuningan, saya begitu terkesan. Usia Pak Gun 57 tahun. Dua tahun lalu ia resign dari pekerjaannya. uang pesangonnya dibelikan mobil. Jadilah ia sekarang sopir taksi online. Sehari-hari, ia memang mengarungi hidupnya bersama roda-roda mobil Ertiga-nya di belantara ibukota Jakarta. Tapi tahu tidak misinya jadi sopir taksi online?

Ia ingin punya kenalan baru. Lewat penumpang-penumpang yang diantar. Dengan begitu relasinya akan bertambah. Siapa tahu bisa menjalin kerjasama bisnis baru, begitu katanya.

Dua anaknya yang sudah mandiri sebenarnya melarang. Kepengen sang ayah istirahat saja sambil momong cucu. Tapi dasar Gun ‘bandel’. Ia tak mau hidup tanpa aktivitas yang menghasilkan. Ditambah lagi sifatnya yang tak pernah mau berdiam diri.

Anak pertamanya laki-laki. Buka online shop. Dari bisnisnya, kata Gun, sudah bisa dikatakan sukses. Sebuah rumah dan satu ruko sudah dimiliki. Lalu yang kedua—juga laki-laki, kerja di bidang IT. Juga tak jauh beda dengan kakaknya. Juga sukses. Masih bujangan, tapi kini sedang membangun rumah. Dari jerih payah hasil kerjanya sendiri.

Tapi buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Meski boleh dikatakan sukses dalam karir masing-masing, dua anaknya ini tak mau berpuas diri. Kini, dua bersaudara itu sedang join. Mengembangkan usaha jual-beli online lebih besar lagi. Bisnis baru untuk sumber penghasilan yang baru. Untuk mencukupi kebutuhan, bukan kesenangan. Seperti yang diajarkan ayah mereka.

Baca:

Sambil bercerita, Pak Gun terus memacu kendaraannya. Di sebuah tempat, tangan kanannya menunjuk salah satu bangunan. Sebuah tempat hiburan malam. “Lihat itu, Mas. Pengunjung di dalamnya, kebanyakan orang-orang seusia Mas, ya sekitar 35 sampai 40 tahunan lah. Pulang kerja, mereka bukannya pulang ke rumah, tapi mencari kesenangan di sana.”

Padahal, lanjut Pak Gun, kesenangan dan ketenangan itu adanya di rumah. Berkumpul bersama keluarga, istri dan anak-anak. Di tempat itu tadi, yang ada hanyalah kesenangan dan ketenangan semu.

“Coba saja, begitu mereka keluar dari tempat itu untuk pulang, dalam benaknya, kesenangan dan ketenangan yang baru saja mereka dapat akan berubah menjadi kegelisahan. Takut ketahuan istrinya. Cicilan rumah dan mobil yang belum dibayar. Kebutuhan lain keluarga yang belum diselesaikan. Itulah. Mereka lebih mementingkan kesenangan. Padahal, di usia mereka yang masih sangat produktif, harusnya mereka prioritaskan mencukupi kebutuhan.”

Mobil sudah sampai tujuan saya. Pak Gun pun menyudahi ceritanya. Ia pun kembali mengarungi hidupnya bersama roda-roda mobil Ertiga-nya. Bukan untuk kesenangan, tapi untuk mencukupi kebutuhan dan ketenangan.

(plimbi.com/tow)