Merasa Lebih Aman, Siswa SD di Malang Setiap Hari Naik Ojek Online

77

Hidup di masa sekarang apa pun serba teknologi. Bila sudah terhubung ke internet, apa saja bisa dilakukan. Mau pergi ke mana? Cukup unduh aplikasi transportasi berbasis online. Ada Go-Jek, Grab, atau Uber? Atau bahkan ingin mengunduh semua? Bisa.

Tiga moda transportasi berbasis online, yakni Go-Jek, Grab, dan Uber, sudah banyak berseliweran di jalanan Malang Raya. Pertengahan tahun 2016, Go-Jek mengawali moda transportasi online masuk ke Malang. Setelah itu disusul Uber, lalu Grab. Ketiga transportasi online itu harus diakui mampu merebut hati warga Malang.

Bukan hanya kalangan dewasa. Ternyata dua siswa Sekolah Dasar (SD) menjadi pelanggan setia transportasi online. Bahkan setiap hari mereka menggunakan jasa transportasi online. Seperti apa pengalaman mereka?

Tehezkiel Jofalino Sumbayak atau akrab disapa Tyo langganan Go-Jek dan Grab. Orang tua Tyo merasa lebih aman bila sang anak diantar-jemput oleh transportasi online. Maka, sang Mama memesan Go-Jek atau Grab.

“Mama yang pesan. Nanti antar dan jemput saya di sekolah. Setiap hari. Kalau les, juga naik. Nggak mesti. Kadang naik Grab dan kadang naik Go-Jek. Kalau malam naik Grab-Car karena lebih aman,” tutur siswa SD Negeri Kauman 1 Malang itu, Senin (18/9/2017).

Baca:

Tyo menjelaskan, menjadi pelanggan tetap dua moda transportasi online itu memiliki banyak keuntungan. “Banyak promo apalagi saya pakai berlangganan dan lebih banyak bayar pakai kartu,” kata dia.

Memilih Go-Jek dan Grab juga lantaran faktor keamanan. Tyo menuturkan, orang tuanya lebih yakin apabila ia diantar-jemput oleh sopir transportasi online. “Kakek sudah tua dan Papa kerja kontraktor, jadi enggak selalu bisa antar dan jemput. Mama juga sibuk. Kalau naik Go-Jek atau Grab Mama tau drivernya siapa jadi lebih aman,” jelas Tyo.

Sekali jalan, Tyo mengaku rata-rata tarif yang dikenakan sekitar Rp 8 ribu. “Banyak promo. Kalau Grab juga banyak. Pokoknya kalau enggak Grab, ya Go-Jek saya pakainya. Naik yang motor. Kalau malam baru mobil,” imbuhnya.

Selain Tyo, siswa SD yang juga setiap hari menggunakan jasa transportasi online ialah Mehadon Noor. Bila Tyo menjadi pelanggan jasa transportasi, maka Meha setiap hari membeli makanan melalui fasilitas Go-Food.

Ya, fitur pemesanan makanan yang disediakan oleh Go-Jek jadi favorit bocah berkacamata itu. “Ada sekitar 75 tempat makan di area Malang sudah ada di Go-Food. Jadi, saya pesan makan ya lewat Go-Food saja,” katanya.

Meha setiap hari menggunakan aplikasi Go-Food. Saking seringnya ia sampai kena marah orang tua. “Kalau sekolah nggak boleh bawa handphone. Tapi di rumah kan boleh. Jadi saya selalu pesan macam-macam makanan. Paling sering pesan sushi,” ungkapnya.

Tyo dan Meha adalah potret anak muda masa Malang masa kini. Bahkan mereka terbilang belia lantaran masih duduk di bangku SD. Dari pendapat mereka, kedua bocah itu merasakan bahwa transportasi online lebih baik lantaran aman, mudah, dan praktis.

Meha bahkan lebih kritis. Di usianya yang belum beranjak 12 tahun, ia bilang bahwa sudah saatnya orang melek teknologi. Ia berkali-kali menggelengkan kepala saat ditanya mengapa tidak memilih naik ojek atau naik taksi konvensional. “Tidak aman, tidak. Sudah ada aplikasi transportasi online kenapa tidak dipakai,” ujarnya.

Lagi-lagi, soal transportasi online masyarakat kita masih pro dan kontra. Tidak semua orang, terutama bukan generasi milenial, memahami bahwa zaman sudah berubah. Orang tidak lagi mencari ojek di pangkalan. Atau menunggu di pinggir jalan lantas berteriak, “taksi.”

Generasi milenial di Malang Raya paham benar perubahan, termasuk di bidang transportasi dan perhubungan. Mereka yang terlahir di tahun 2000-an lebih memilih menekan ponsel pintar mereka lantas memesan jasa transportasi online.

Bagaimana dengan generasi seusia orang tua Tyo dan Meha? Faktanya, tidak semua warga Malang mengiyakan jasa transportasi online. Mereka yang masih mencintai cara-cara konvensional, tetap memilih naik angkutan umum atau pun memesan taksi konvensional.

Perkara transportasi konvensional ataukah online telah lama mengundang perdebatan di Malang. Setidaknya, dari catatan MALANGTIMES gelombang demonstrasi transportasi konvensional meletus empat kali. Supir angkutan umum dan taksi konvensional keukeuh menolak adanya jasa transportasi online di Malang Raya. Pun hingga hari ini, mereka berencana melakukan demonstrasi lagi.

Melihat transportasi baik konvensional ataupun online perlu dari berbagai sisi. Ada baiknya melihat apa saja yang ditawarkan oleh teknologi transportasi online. Tanpa melupakan transportasi konvensional yang sudah lama mendarah daging sebelum internet ada.

(jatimtimes/tow)