Membandingkan Go-Jek dengan Aplikasi Lainnya seperti WeChat

124

Saat ini semakin banyak aplikasi bagus yang berkembang dan dimanfaatkan masyarakat. berbagai layanan ditawarkan mulai dari chatting, media sosial, mobile payments, games dan lainnya.

Sejumlah perusahaan ternama juga bermain menyediakan aplikasi. Sebut saja WeChat, Facebook Messenger, dan Line. Sementar dari Indonesia yang paling menonjol saat ini adalah Gojek, aplikasi layanan transportasi.

Situs Techinasia (12/2) memberikan ulasan khusus tentang aplikasi yang baru mendapatkan guyuran dana invertase triliunan rupiah ini. Menurut ulasan Techinasia, Gojek merupakan memberikan layanan antar dengan motor yang berbiaya murah.

“Seiring berjalannya waktu, perusahaan tersebut tumbuh memberikan layanan tranportasi bagi banyak orang dan pelayanan yang baik,” tulis Techinasia.

Baca: Go-Jek Resmi Berkolaborasi dengan GDN

Budaya masyarakat dalam menggunakan perangkat seluler serta jaringan internat yang memadai membuat aplikasi berkembang pesat.

Jejak Gojek sebagai aplikasi yang besar dinilai sangat berbeda dari aplikasi sejenisnya. Setidaknya ada tiga hal yang menjadi pembeda yaitu berakar dari kebutuhan transportasi, tidak menekankan pada media sosial, dan perusahaan induk yang kuat. Padahal aplikasi-aplikasi kuat lainnya hampir tidak ada yang mempunyai ‘jejak’ unik seperti Gojek ini.

Gojek memenuhi kebutuhan negara yang unik terhadap ojek. Aplikasi ini juga tidak menekankan pada layanan media sosial seperti WeChat, Messenger dan Line yang berfokus pada platform media sosial dengan memanfaatkan berbagai media dan diterima di negara masing-masing. Saat ini, Gojek bahkan menggaet konsumen yang lebih besar, termasuk segementasi umur 35-64 yang memilki smartphone namun tidak memiliki akun media sosial. Selain itu, Gojek juga memiliki pengguna dari orang Indonesia eksklusif.

Walaupun ada sejumlah perbedaan dengan aplikasi besar lainnya, Gojek juga mempunyai beberapa kesamaan. Pertama, Gojek berhasil sukses sebagai perusahaan tunggal. Perusahaan ini memperluas pasar secara vertikal dan horizontal. Seperti WeChat yang memutuskan memperluas media sosial melalui fitur “Moment” dan mobile payment “WebPay” serta mesin pencarian.

Gojek juga memperluas fiturnya dengan dompet digital, GoPay. Ada juga layanan pesan antar makanan. Saat ini ada 15 juta pengguna aktif per minggu.

Baca: Kabar Baik, Go-Jek Segera Buka Kantor di Sumenep

Memperluas pasar vertikal dan horizontal juga melalui akuisisi. Seperti Facebook telah mengakuisisi perusahaan seperti Instagram dan Whatsapp. Dua bulan yang lalu, Gojek mengumumkan telah menambahkan tiga perusahaan Fintech Indonesia ke dalam portfolionya yaitu Kartuku, Midtrans, dan Mapan.

Perusahaan-perusahaan caplokan Gojek ini fokus pada pembayaran offline dan online serta sistem kredit masyarakat. Gojek juga mengkuisisi perusahaan pengelolaan tiket dan manajemen acara, Loket. Lalu ada perusahaan startup kesehatan India, Pianta, dan pengembangan mobile-app, Leftshift.

Saat ini Gojek juga mempunyai ‘masa depan’ yang terlihat cerah karena guyuran dana berlimpah. Sejak Gojek didirikan tahun 2010, perusahaan tersebut telah menerima pendukung dari berbagai perusahaan besar.

Di Awal tahun 2018 juga telah membawa perusahaan tersebut lebih dekat dengan aliran pendanaan dari Google, Temasek, dan Meituan-Dianping yang telah berkomitmen bersama. Sementara itu perusahaan ini harus menghadapi tantangan instutional di Indonesia, dimana pembayaran tunai masih merajai. Selain itu, Gojek juga harus menghadapi kompetitornya dari Singapura dengan produk Grab.

(akurat.co/tow)