Mahathir: Gojek Dorong Ekonomi dan Berkontribusi pada Bisnis Kecil

12
Ilustrasi

Meski banyak yang menolak, Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad tetap mendukung masuknya Gojek. Menurutnya, layanan ojol asal Indonesia itu bisa menguntungkan ekonomi negeri jiran dan menyerap banyak tenaga kerja.

Pemerintah Malaysia pekan ini sudah sepakat untuk memberi izin Gojek beroperasi di Malaysia. Saat ini, Putrajaya sedang mempersiapkan regulasi untuk memastikan perusahaan transportasi online itu bisa beroperasi dengan aman. 

Banyak yang menentang keputusan itu. Tapi Mahathir dengan santai membela Gojek. “Jika kalian merasa tidak aman, maka jangan gunakan (Gojek),” ujar pria berusia 94 tahun itu dilansir dari Nikkei Asian Review, kemarin. “Kalian kan punya pilihan. Pemerintah tidak memaksa siapa pun untuk meggunakan layanan ride-hailing sepeda motor,” imbuh Mahathir.

Di Malaysia sendiri memang sudah ada layanan transportasi sepeda motor. Tapi menurut Mahathir, layanan itu terorganisir. Lagian, bisnis kecil macam UKM, tidak diuntungkan dari itu. Nah, Mahathir meyakini, Gojek yang akan memberikan keuntungan dan mendorong pertumbuhan unit usaha kecil di negaranya. 

“Gojek jika mereka datang ke sini, mereka juga akan dorong ekonomi dan berkontribusi pada bisnis kecil,” tutur Mahathir. 

Mahathir menyadari, adanya penolakan Gojek di Malaysia dari sejumlah pihak. Ia menyebut, penolakan adalah hal yang biasa terjadi dalam program atau kebijakan apapun yang dibuat pemerintah . 

“Tetapi yang terpenting, apakah itu melayani negara atau tidak,” sambung Mahathir. “Kami ingin memastikan apapun yang kami lakukan bermanfaat bagi rakyat. Sama halnya dengan Gojek,” tutup Mahathir.

Permohonan Gojek ini disetujui pada Rabu (21/8) lalu. Beberapa menteri negeri jiran terkait sudah berbicara kepada wartawan mengenai rencana ini. Salah satunya Menteri Pengembangan Entrepreneur, Redzuan Yusof. 

“Itu dibahas dalam rapat kabinet hari ini dan diberi lampu hijau. Tapi belum ada keputusan tentang regulasi, belum ada yang spesifik, namun harus dibahas dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga dan Kementerian Transportasi,” jelas Yusof.

Sementara Menpora Malaysia Syed Saddiq lewat akun Twitternya sudah memastikan kehadiran Gojek di negara itu. Beroperasinya ojol itu akan membuka lapangan pekerjaan. “Kami ingin memastikan, para pengguna motor bisa mendapatkan lapangan kerja,” ucapnya dalam video yang diunggahnya.

Sementara penolakan, paling kencang datang dari bos Big Blue Taxi Services, Shamsubahrin Ismail. Penolakannya disertai pernyataan-pernyataan yang merendahkan Indonesia. 

Menurut dia, mengizinkan ojek roda dua online beroperasi di Malaysia merupakan sebuah kemunduran. “Sebagai sebuah karier, Gojek tidak memiliki masa depan. Anak-anak muda kita layak mendapatkan yang lebih baik,” ujarnya. 

Lagipula, kata dia, kondisi di Indonesia dan Malaysia berbeda. “Gojek berhasil di Indonesia karena angka kemiskinan mereka sangat tinggi, tidak seperti di Malaysia,” tegas Shamsubahrin.

Belum lagi, soal kultur serta aspek agama. Di Indonesia, perempuan boleh memeluk pengemudi ojek. Tetapi di Malaysia, kata dia, tidak. “Apakah kita ingin perempuan-perempuan kita memeluk ojek?” imbuh dia. Shamsubahrin mengancam akan menggelar demonstrasi di rumah Menpora dan Menteri Transportasi Malaysi  jika Gojek benar-benar diizinkan beroperasi di Malaysia.

Tetapi, Pakar transportasi Malaysia, Goh Bok Yen, menyatakan, tidak ada alasan menolak Gojek. Dia menilai, Gojek jelas punya peran untuk memenuhi celah yang ada di transportasi publik. Celah ini tidak bisa secara efektif dipenuhi oleh transportasi online atau taksi yang ada sekarang.

“Gojek sangat efektif di pusat kota yang padat, di mana mode transportasi lain tidak. Seandainya otoritas berencana memberi jalan khusus, maka akan lebih efektif,” bebernya. Selain itu  Goh juga berpendapat, Gojek bakal membuka lapangan pekerjaan yang fleksibel serta pendapatan tambahan bagi generasi muda Malaysia. 

Malaysia, menjadi negara keempat yang diekspansi layanan ojek online besutan Nadiem Makarim ini.  Singapura, Vietnam, dan Thailand sudah duluan. Vietnam dengan Go-Viet. Sementara Thailand dengan Get. Di Filipina, Gojek tak tembus.

(rmco/tow)