Kondisi Keuangan Taksi Konvensional Pasca Hadirnya Ojek dan Taksi Online

23

Emiten operator taksi merilis hasil kinerja keuangan kuartal I 2018. Hingga tiga bulan pertama tahun berjalan 2018, hasilnya belum positif.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (16/5/2018), PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) masih catatkan kerugian hingga kuartal I 2018.

Rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bertambah menjadi Rp 108,88 miliar hingga kuartal I 2018. Pada kuartal I 2017, perseroan mencatatkan rugi Rp 58,53 miliar.

Pendapatan perseroan turun 20,81 persen menjadi Rp 62,01 miliar pada kuartal I 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 78,31 miliar.

Perseroan juga mengalami rugi bruto naik menjadi Rp 48,25 miliar pada kuartal I 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 42,69 miliar. Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp 20,49 miliar. Hal itu mendorong rugi usaha naik menjadi Rp 68,75 miliar.

Perseroan juga peroleh keuntungan penjualan aset tetap menjadi Rp 334,37 juta pada kuartal I 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 12,81 juta. Kerugian selisih kurs perseroan pun turun menjadi Rp 103 juta.

Dengan melihat kondisi itu, perseroan membukukan rugi per saham menjadi Rp 50,75 pada kuartal I 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 27,28.

Total liabilitas perseroan naik menjadi Rp 1,79 triliun pada 31 Maret 2018 dari posisi Desember 2017 sebesar Rp 1,76 triliun. Ekuitas perseroan turun menjadi Rp 137,50 miliar pada kuartal I 2018. Perseroan kantongi kas Rp 7,03 miliar hingga kuartal I 2018.

Sementara Itu, PT Blue Bird Tbk masih catatkan laba selama tiga bulan pertama 2018. Namun laba perseroan yag diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 15,79 persen menjadi Rp 98,91 miliar pada kuartal I 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 117,46 miliar.

Pendapatan susut 6,4 persen menjadi Rp 973,37 miliar pada kuartal I 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,03 triliun. Beban langsung perseroan turun menjadi Rp 714,70 miliar selama tiga bulan pertama 2018.

Laba bruto perseroan turun 15,39 persen menjadi Rp 258,67 miliar selama kuartal I 2018. Beban usaha naik menjadi Rp 139,40 miliar. Hal itu membuat laba usaha turun 31,47 persen menjadi Rp 119,27 miliar.

Perseroan peroleh laba pelepasan aset tetap menjadi Rp 7,98 miliar. Pendapatan bunga perseroan turun menjadi Rp 4,98 miliar. PT Blue Bird Tbk juga mendapatkan untung selisih kurs Rp 716 juta pada kuartal I 2018. Pendapatan lain-lain naik menjadi Rp 9,66 miliar.

Dengan melihat kondisi itu, laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi 38 pada kuartal I 2018 dari periode sama tahun sebelumnya 47.

Total liabilitas naik menjadi Rp 1,6 triliun pada 31 Maret 2018 dari periode 31 Desember 2017 sebesar Rp 1,58 triliun. Ekuitas PT Blue Bird Tbk naik menjadi Rp 5 triliun. Perseroan kantongi kas Rp 615,55 miliar pada 31 Maret 2018.

Tiga Penyebab Penurunan Bisnis Angkutan Umum

Sebelum, bisnis angkutan umum konvensional semakin menurun. Hal ini karena angkutan umum mulai ditinggalkan penumpang, yang beralih ke transportasi berbasis aplikasi.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengungkap, setidaknya ada tiga penyebab anjloknya bisnis angkutan umum ini. Pertama, trayek atau rute angkutan tersebut sudah tidak lagi mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat.

‎”Ini penyebabnya. Pertama, trayek angkutan kota sudah kurang menyentuh kebutuhan masyarakat,” ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Kamis 5 Oktober 2017.

Kedua yaitu ekspektasi masyarakat terhadap kualitas layanan termasuk pengemudi dan fisik kendaraan yang sangat tinggi. Ditambahkan lagi, kini banyak bermunculan alternatif angkutan jenis lain yang menawarkan pelayanan yang lebih baik sehingga angkutan umum yang ada mulai ditinggal penumpangnya.

“‎Karena memang kondisi fisik kendaraan, seperti umur kendaraan, sudah tidak layak jalan. Ini juga karena tidak ada kemampuan pengusaha untuk melakukan peremajaan. Ya kecuali memang tidak ada kendaraan lain, jadi penumpangnya terpaksa (naik angkutan itu),”‎ jelas dia.

Dan ketiga, yaitu semakin masifnya pertumbuhan dan ekspansi bisnis transportasi berbasis aplikasi seperti taksi dan ojek online. Hal dinilai membuat bisnis angkutan umum konvensional semakin tergerus karena tak mampu bersaing.

“Ketiga, masifnya pergerakan perusahaan aplikasi, apakah Uber, Grab, Gojek, dalam operasionalnya sangat masif dan luar biasa pergerakannya, walaupun tidak memiliki izin resmi. Sehingga pertumbuhan armada di bawah ketiga perusahaan aplikasi tersebut tidak terkontrol. Kemenhub dan Dinas Perhubungan pun tidak bisa memastikan jumlah armada ini berapa, karena sebagian besar tidak terdaftar,” tandas dia.

(liputan6/tow)