Kena Order Fiktif Go-Food, Istri Driver Ojek Online Ini Malah Bersyukur, Kok Bisa?

613

Nuryansah (19 tahun), belum sebulan jadi rider ojek online di Kota Makassar.

Namun, warga Jl Korban 40.000, Kelurahan Rappojawa, Kecamatan Tallo, utara Kota Makassar ini, sudah merasakan suka duka jadi pengendara Go-Jek online.

Suka pertama; pemuda jebolan SMP Tridarma Maccini Kidul, Makassar ini, punya lebih banyak waktu kerja. “Dulu waktu cuci mobil banyak menunggunya,” ujarnya.

Suka pertama; pemuda jebolan SMP Tridarma Maccini Kidul, Makassar ini, punya lebih banyak waktu kerja. “Dulu waktu cuci mobil banyak menunggunya,” ujarnya.

Suka lainnya, dia mulai merasa lebih dewasa dibanding teman-teman sebantarannya yang masih kuliah atau yang masih tetap menganggur. Dia bisa menabung untuk cicilan motor, memenuhi kebutuhan harian, serta bisa bayar kontrakan rumah.

Suka lainnya, istri dan putrinya yang masih berusia 2 tahun, sudah bisa dibelikan mainan plastik di pasar, beli kuota internet smartphone, serta beberapa kali membawa anak dan istri ke destinasi wisata kota.

Baca:

Namun, di pekan kedua “mencari nafkah” di jalanan kota berpenduduk 1,9 juta jiwa ini, dia merasakan dukanya.

Dia merasakan perihnya order fiktif jasa pengantaran kuliner, Go-Food.”MInggu lalu, kodong Kak, sakit sekali hatiku,” kata Nuryansah, yang selama 1,5 tahun menjadi helper di jasa car wash di sekitar Jl Pongtiku dan JL Urip Sumiharjo, Makassar.

Kisah duka itu bermula, setelah melayani sekitar 150-an orderan selama 2 pekan, dia mulai punya “deposito” sekitar Rp 210 ribu.

Dia pun memberanikan diri membuka sub-order pengantaran jasa makanan dan minuman dari usaha yang didirikan Nadiem Makarim ini, Go Food.

Go-Food adalah 1 dari 15 jasa layanan transportasi berbasis daring. Selain Go-Ride dan Go-Car, Jasa beli antar kuliner Go Food termasuk yang paling banyak diminati, sekitar 200 ribu rider atau driver perusahaan Go-Jek.

Namun debut Nuryansah di Go-Food tak seindah harapannya.

“Cerita teman rider, semakin besar deposit kalau buka order go-food tip nya juga besar, karena orang-orang kaya yg pesan, ehh tapi termyata kenna ka order fiktif Om,” ujarnya kepada Tribun, Rabu (30/8/2017) sore di sebuah kedai kopi di Jl Dg Ngeppe, selatan kota Makassar.

Ceritanya, selepas salat Isya, dia dapat order 2 Pizza tuna besar di Pizza Hut.Di layar smatphonenya, fast food itu Kira-kira harganya Rp 187 ribu.Uang cash di kantong Nuryansah, kala itu sekitar Rp205 ribu. Ini belum termasuk jatah bensin dan uang rokok, dan ngopi di kedai.

Setelah konfirmasi melalui phone call, dia meng-OK-kan pesanan fast food dari pemuda di kawasan perumahan kelas menengah kota di Panakkukang, Makassar. Setelah antre 30 menit di kedai makanan khas Italia itu, orderan diantar ke alamat rumah pemesan.

Dia menelpon balik. 4 hingga 5 kali panggilan tak dijawab. SI pemesan tak merespon. Panggilan diabaikan.

“Tak dia angkat ki kodong.”

Tak sekadar memanggil sambil menunggu respon si pengorder, pizza dia mengetuk pagar besi pakai batu.

“Tetangganya sudah keluar. Tapi dia tak mau keluar,” ujar pemuda berbadan ceking itu.

Pizza di tangannya tak lagi panas.

“Dia cancel ki ordernya, tapi sudah ma belikanki kodong,” ujarnya.

Nuryansah belum putus asa. Di gerbang kompleks rumah si pemesan, dia kembali menelpon. “Tidak aktifmi hapenya Kak,” dia bercerita.

Waktu di smartphonenya sudah pukul 21.30 wita. NUriyansah memutuskan pulang. “Jam 10 malam memang biasanya sudah di rumahma,” ujarnya. Pizza order fiktif dia putuskan bawa pulang ke rumahnya dulu. Sesampai di depan pintu rumahnya, dua pizza sudah kian dingin.

Anaknya sudah tidur. Istrinya tersenyum melihat suaminya pulang membawa bungkusan kardus.

“Sialki hari ini Dek! Uang 200 ribu mati percuma.” Dia mulai menceritakan duka order fiktif pizza ke istrinya.

Istrinya bercanda, dan coba menghibur. “Baik itu ada order fiktif Pizza kak, barusanku tong itu makan pizza mahal,”

Namun, Nuriyamsah masih berharap, si pemesan meneleponnya kembali. “Istriku hubungiki juga tapi tetap tidak diangkat ki..”

Akhirnya pizza order fiktif yang tak lagi hangat itu dia buka. “Sering-sering saja ada order fiktif Kak,” ujar si istri.

Sejak adanya insiden order fiktif itu, Nuriansyah tobat untuk mencentang “Go Food” di aplikasi Gojek Drivernya.

“Biarmi saya Go Ride dan Go Sent saja, trauma kak!”

Dia juga berharap, sesekali ada order Go-Massage, jasa pengantaran juru pijat kepada pelanggan.

(tribunnews/Tow)