Kehadiran Bisnis Digital seperti Transportasi Online Sebuah Keniscayaan

138

Moekti P. Soejachmoen, Head of Mandiri Institute. Foto: Dok.Pribadi

Kecepatan adalah tanda revolusi industri ke empat. Salah satu penanda itu terlihat di suatu pagi. Setelah menunggu taksi konvensional tidak kunjung datang, saya memesan taksi online dan dalam hitungan detik saya mendapat kendaraan.

Pengemudi taksi online ini mengejutkan, bukan laki-laki, setengah baya, dan bekerja sebagai pencari nafkah keluarga. Ia perempuan, muda, mahasiwi dengan mobil otomatik keluaran tahun terbaru. Lebih tak terbayangkan, alasan dia menjadi pengemudi karena memanfaatkan waktu luang di tengah penulisan skripsi.

Digital memberi opsi pekerjaan di masa depan. Pertama, pekerjaan baru yang tak dapat digantikan mesin. Contohnya pekerjaan kreatif, pekerjaan yang berhubungan dengan pengelolaan data dan pekerjaan yang membutuhkan keahlian tinggi. Pembuatan konten website pada beberapa tahun lalu tidak pernah terbayangkan akan muncul. Pembuat konten website dapat bekerja di rumah dengan mengenakan pakaian tidur dan kapan saja tanpa dibatasi jam kerja serta keharusan datang ke tempat kerja.

Kedua, pekerjaan yang menggabungkan pekerjaan dengan mesin atau robot, seperti dokter atau ahli bedah yang menggunakan robot. Pekerjaan ini juga tak pernah dibayangkan sebelumnya. Pasien tidak langsung berhadapan dengan dokter bedah, tapi ditangani robot yang dioperasikan dokter bedah jauh dari sang pasien.

Ada juga pekerjaan digantikan mesin. Biasanya pekerjaan standar, mempunyai pola tertentu dan berulang, seperti pekerja administrasi dan sopir truk. Tidak terlalu jauh lagi, layanan konsumer, baik bidang finansial bahkan hukum tidak perlu lagi dilakukan manusia, tapi digantikan mesin atau robot. Hal ini dimungkinkan dengan menggunakan teknologi artifical intelligence yang dapat menjawab pertanyaan standar dan berulang.

Disrupsi teknologi ini terjadi di seluruh dunia. Di negara maju, penyebab utama perubahan karena jam kerja lebih fleksibel. Di negara berkembang perubahan, meningkatkan penduduk berpendapatan menengah yang mempunyai konsumsi dan gaya hidup beda.

Dua atau tiga tahun lalu tak terbayangkan sopir taksi mengemudikan mobilnya sendiri hanya untuk mengisi waktu luang. Ini disebut revolusi industri keempat: perubahan cepat dengan cakupan dan dampak luas akibat digitalisasi.

Baca:

Keahlian tenaga kerja mengalami perubahan. Beberapa tahun ke depan, kebutuhan tenaga kerja bukan yang memiliki jawaban atas pertanyaan, tapi yang dapat memberikan pertanyaan tepat. Mesin pencari di internet dapat menjawab hampir semua pertanyaan kita. Era digital membutuhkan kemampuan memecahkan masalah kompleks, berpikir kritis, kreatif, serta mampu mengelola dan berkoordinasi dengan yang lain. Bukan hanya menuruti perintah atasan.

Dengan digitalisasi dan perkembangan teknologi, beberapa sektor ekonomi mengalami pengurangan tenaga kerja. Contohnya jasa administrasi, manufaktur dan industri, konstruksi dan pertambangan. Banyak jenis pekerjaan sektor tersebut standar dan berulang sehingga digantikan mesin.

Yang diperkirakan mengalami peningkatan tenaga kerja adalah sektor bisnis dan keuangan, manajemen dan bidang komputer. Ini karena jenis pekerjaan baru akibat perkembangan teknologi digital, seperti artificial intelligence, penggunaan big data dalam analisa bisnis serta penggunaan internet of things. Yaitu menghubungkan beberapa peralatan rumah tangga dan kantor dengan jaringan internet.

Kita perlu mempersiapkan diri. Perubahan ini sebuah keniscayaan. Perusahaan tidak dapat mempertahankan pekerjaan yang tergantikan oleh mesin, tapi dapat mempertahankan pegawai. Caranya, mempersiapkan mereka lebih fleksibel dan adaptif menghadapi perubahan. Perusahaan menyediakan cara melatih ulang pegawai dengan keahlian baru untuk jenis pekerjaan yang baru. Maka, dalam memilih pekerja lebih mengutamakan pekerja kreatif dan inovatif, bukan keahlian mereka. Keahlian dapat dilatih ulang, tapi sikap merupakan sesuatu yang melekat pada pekerja.

Karena perbedaan kemampuan dan sikap pekerjaan di era digital ini, lembaga pendidikan baik formal maupun non formal juga perlu melakukan perubahan dan penyesuaian. Sistem pendidikan yang menghasilkan manusia yang hanya menuruti perintah atasan tidak lagi dibutuhkan. Tapi manusia yang dapat belajar, meninggalkan apa yang telah dipelajari dan mempelajari lagi sesuatu yang baru dibutuhkan di masa depan. Seperti yang dikatakan oleh Alvin Toffler dalam buku Future Shock.

Oleh: Moekti P. Soejachmoen ( Head of Mandiri Institute )