Jatuh Bangun CEO GoPay Lalui Jalan Terjal dalam Merintis Sukses

10

Salah satu kesuksesan superapp GoJek tidak lepas dari adanya GoPay sebagai metode pembayarannya. Bahkan dalam salah satu survei menempatkan GoPay sebagai uang elektronik nomor satu di Indonesia.

IDN Times berkesempatan mewawancarai langsung CEO GoPay Aldi Haryopratomo. Sebelum bergabung dengan GoJek, Aldi membangun dan mengembangkan PT RUMA (Rekan Usaha Mikro Anda) atau biasa disebut Mapan. Sebuah perusahaan yang menjual produk dan pada 2017 di akuisisi oleh GoJek.

Bagaimana awal ia bergabung dengan GoPay, pertemuannya dengan CEO GoJek Nadiem Makarim dan jatuh bangunnya dalam dunia mikro finance. Berikut wawancara IDN Times dengan Aldi.

1. Bagaimana awalnya Aldi bisa bergabung dengan GoPay?

Pada 2009, saya mendirikan PT Ruma atau Mapan. Salah satu produknya yaitu Arisan Mapan. Pas arisan ini kita makin lama makin besar. Dari Arisan (Mapan) kita melihat bahwa kebutuhan mereka macam-macam. Terus kita bantu mereka untuk ke literasi keuangan, kan Arisan (Mapan) perlu nyicil.

Lalu ada anggota datang ke saya bilang gak bisa cicil lagi karena suaminya udah gak ada, terus saya tanya dia bisanya apa, dia bisanya nyetir motor. Terus dari situ akhirnya saya bilang, saya dan Nadiem teman kuliah. Gimana kalau kita bantu untuk masuk ke GoJek, akhirnya pendapatan dia naik bisa sampai Rp4 juta sebulan.

Dia punya anak perempuan satu dan merasa anaknya bisa kuliah lagi. Ini power-nya luar biasa. Kalau GoJek kan memberikan pendapatan, gimana kalau kita kerja sama, suaminya jadi driver GoJek dan istrinya jadi ketua Arisan. Terus kita coba proyek kerja sama di Jogja dan di Jogja itu pertama kali Mapan dan GoJek kerja sama.

2. Jadi itu pertama kali Mapan kerja sama dengan GoJek?

Jadi Nadiem sama saya kuliah di Harvard, sama-sama bangun perusahaan, GoJek sama Mapan dulu satu kantor. Jadi pas lulus, kita sama-sama sewa kantor, Nadiem di lantai bawah, saya di lantai atas. Saya fokus ke desa, dia ke kota.

Sebenarnya udah lama (kenal), jadi dulu waktu saya kerja di Mapan saya udah bikin (Mapan) sebelum S2, susah cari modal di Indonesia, belum ada namanya venture capital, kan bapak saya pegawai negeri ya, jadi saya gak kenal mau minta investasi ke pengusaha. Jadi saya mikir gimana caranya supaya bisa dapat modal, kan udah mulai berjalan nih. Saya masih jualan pulsa dan pembayaran.

Terus saya ketemu orang yang jadi mentor saya, pas lagi liburan musim panas tiap tahun, saya minta bantuan Nadiem, kan satu angkatan. Pas pulang ke Indonesia, eh bantuin dong, dia jadi kayak magang di Mapan untuk bantu cari modal. Karena dia kan kenal banyak orang keluarganya. Jadi selama summer dia bantuin cari investor, dan dapat. Dari situ lah Mapan balik kuliah jalan lagi. Jadi pas kuliah kita sama-sama bikin usaha bareng, dari situ kita kenalnya.

Jadi kita salin bantu sebagai teman terus tiap minggu ketemu ngobrol, lalu begitu ketemu ibu itu wah ada potensi nih. Ibaratnya GoJek dan Mapan tuh bisa kerja sama dan kita launching di Klaten, suami jadi driver dan ibu dari ketua Arisan. Ada 1 keluarga, dalam waktu 3 bulan pendapatannya naik, dari buruh lepasan, dari 700 ribu jadi 7 juta.

Ini luar biasa banget kalau kita bisa kerja sama dan akhirnya ditawarin yuk gabung aja deh. Apalagi sama-sama perusahaan Indonesia. Masa kita gak mau Indonesia punya juara gitu. Kan ada GoJek, kalau di Amerika ada Facebook dan Google. Di China ada Alibaba, di Indonesia siapa nih juaranya? Kalau kita gabung kita gak punya juara Indonesia, akhirnya saya gabung dan jadi CEO GoPay.

3. Apa sebenarnya mimpi Aldi dengan bergabung dengan GoJek dan menjadi CEO seperti sekarang?

Dari awal karier saya pertama, 15 tahun lalu sama, gimana caranya kasih akses layanan keuangan untuk orang yang gak punya. Jadi gimana layanan keuangan jadi alat supaya orang bisa lebih setara.

Kenapa saya berpikir untuk gabung saya inget sama anaknya driver dan ketua Arisan, anaknya itu mimpinya mau jadi dokter. Keren kan mimpinya bisa sama dengan anak orang di Jakarta. Itu sih yang paling penting, gimana caranya semua orang di Indonesia nanti generasi berikutnya, dengan akses keuangan yang baik, berani punya mimpi yang sama dan punya tangga ke sana. Makanya dulu logonya Mapan itu tangga.

GoPay itu, coba ke Grand Indonesia, BRI, semua kaki lima GoPay, GoPay ada di mal dan di mana-mana. Di segala masyarakat ada. Rekan usaha GoPay bukan cuma bisa kita bantu untuk pembayaran tapi meningkatkan penjualan mereka.

4. Waktu kuliah di Harvard itu kabarnya Aldi dapat beasiswa?

Saya pikir kalau mau punya uang harus kenal sama orang yang punya uang, yang punya uang sekolah di mana, oh Harvard. Terus saya daftar dan saya tulis di esai saya lagi cari modal untuk usaha saya yang berjalan.

Saya bikin esai bikin usaha yang bisa bantu orang yang menggunakan kepala desa jadi pusat dari ekonomi. Saya ditelepon dan diterima. Pas diterima wah mahal banget ya, ya udah nanti ya, saya gak jadi. Terus dapat keringanan dari Harvard, cuma bayar 10 persen. Jadi ditelepon dan jadinya segini, mau gak. Oh ya boleh. Saya pergi dan sampai sana menang lomba bussiness plan. Pertama kali orang Indonesia menang bussiness plan di Harvard.

5. Sebenarnya apa cita-cita Aldi waktu kecil, jadi pengusaha kah?

Pengen jadi pemain bola sih dulu, sejujurnya. Sekarang hobi aja. Kenapa gak menekuni karena skill kurang, kedua karena development di Indonesia belum jelas seperti sekarang. Tim favorit saya Persija kalau di luar AC Milan, tapi sekarang malu sih. Saya juga hobi surfing juga, di laut bukan di internet.

Kalau perjalanan hidup saya gak ada cita-cita sih. Mungkin ini, bapak saya pegawai negeri, kerja di Pekerjaan Umum, jadi bangun jalan buat desa. Waktu saya kecil sering dibawa ke mana-mana, terus naik jeep, pas udah jalan jadi, ada pesta pembukaan jalan. 5 Tahun setelahnya ada pabrik sekolah dan lain-lain, bapak saya bilang kalau kamu udah gede berikan akses ke orang yang membutuhkan. Dari situ gak usah mikir duit, pasti ada jalan.

Pas lagi kerja kan pengen tahu apa yang membuat keputusan kenapa ganti-ganti kerjaan atau pindah, mungkin kalau kita analisa, kenapa saya pindah dari Security Consulting ke Kiva karena saya lihat Kiva lebih banyak bantu orang. Wah ini bagus banget idenya. Padahal startup saya masuk semifinal waktu di universitas. Tapi saya gak ikut itu malah iktu Kiva, karena ide peer to peer lending ini bisa bantu orang dan benar. Jadi saya pindah ke sana.

Lalu saya pindah ke Boston Consulting Group (BSG). Simple banget, bukan karena karir tapi logika saya ke sana. Alhamdulillah BSG punya program untuk namanya Next Billion dan mereka mau masuk ke pasar orang-orang yang belum tersentuh. Sesuai dengan misi saya, saya masuk sana dan bener banyak proyek yang bantu orang di bawah. Mulai dari mobile banking, telco dan lain-lain.

Dari BSG pas saya bikin perusahaan, gak sengaja, saya jadi penerjemah buat professor Yunus yang menang noble, Grameen Bank. Buat perdamaian dan saya terjemahin, saya ketemu orang Grameen di sana dan dikasih kesempatan, dan saya bilang saya mau bantu Indonesia kayak Grameen Indonesia, buka cabang di sini dong terus saya jadi karyawan, eh dikasih modal untuk buka usaha. Ya udah saya jalanin mau gak mau, itu awalnya masih yayasan, namanya Yayasan Jangkau. Waktu itu gak mikir jadi pengusaha sama sekali.

6. Kenapa akhirnya malah mendirikan usaha di Indonesia, padahal karir di luar negeri cukup menggiurkan?

Gue mau Indonesia juara dan masih banyak orang perlu dibantu, kita sudah dapat kesempatan belajar sesuatu kenapa gak bikin di negara sendiri? Karena kalau dilhat kenapa Jepang bisa punya Toyota, dan perusahan Jepang terkenal efisien karena budayanya efisien.

Di Jerman kenapa bisa punya Mercy, karena Mercy itu paten high end. Indonesia apa yang bisa jadi ciri khas budayanya yang bisa di ekspor keluar negeri? Ini semangat gotong royong itu, seperti GoJek itu kan koperasi driver, big community merchant who’s helping people yang kecil untuk jadi satu. Membuat sesuatu yang sangat Indonesia. Kalau mau jadi juara harus mulai dari budayanya sendiri.

Kalau gue di luar negeri, gue gak bisa jadi penggerak. Gue mungkin bisa buat Indonesia bangga dengan pencapaian gue, tapi berapa orang yang gue bantu beda skalanya. Kalau bukan kita yang bangun Indonesia, siapa lagi?

Bukan berarti lo kerja di Indonesia selamanya atau dari awal, boleh aja cari pengalaman di luar tapi gue pikir negara-negara di mana yang maju, talenta terbaiknya pasti pulang dan bangga dong.

Mungkin lo gak bisa ke konser-konser di New York tiap hari, tapi mounted joy yang lo dapat dari membantu negara lo sendiri lebih tinggi sih.

7. Pengalaman paling tidak menyenangkan selama berkarier?

Waktu masih di Mapan, ada yang menjanjikan tapi karena iklim usaha waktu itu kurang. Kita udah punya sebuah usaha yang mau maju, terus udah berhasil produknya dan udah yakin kalau kita gedein bisa besar. Tapi karena satu dan lain hal kita harus tutup.

Masalah perizinan. Kita berkembang terlalu awal, banyak faktor, intinya kita harus tutup. Saya perlu 6 bulan waktu untuk bangkit. Wah galaunya kayak ayam kehilangan kepala, pusing. Ibarat lo atlet udah mau olimpiade gak jadi.

8. Lalu apa yang Aldi lakukan untuk bangkit?

Tim gue yang membuat gue bangkit, waktu kejadian itu saya jujur, ‘Sorry guys, dengan ini kita gak tahu mau ngapain, kita harus cari tahu mau ngapain sebagai peruahaan ini, kita butuh bantuan dari kamu semua untuk cari, what can we do, what can we sell’.

Dan seluruh tim ke lapangan. Kita sampai kumpulin katalog-katalog MLM dan kita tanya ‘Mau beli apa nih bu?’. Cari ide sampai akhirnya ketemu ide Arisan tadi. Dan juga karena anggota peduli dan kita mau jalan karena mereka percaya dengan visi kita mau bikin 50 juta keluarga Indonesia mapan dengan memberikan akses, akhirnya bisa bangkit.

Ada satu lagi krisis waktu di Mapan ketika kita mulai gede, sekarang ada 2,5 juta keluarga. Waktu itu ada 500 ribu keluarga, terus kan kita pakai pengiriman ke desa-desa gitu. Tiba-tiba barang-barang Arisan mulai gak kekirim karena volume terlalu tinggi. Sudah banyak orang-orang ikut arisan 3 bulan gak dapat barang, marah dong pasti.

Saya bilang lagi krisis nih dan saya bilang itu ke semua cabang, ada 30 cabang. Saya minta bantuan untuk memecahkan masalah ini karena kalau gak bisa pecahin ini kepercayaan pelanggan hilang. Akhirnya semua karyawan jadi delivery. Gue ke Tangerang juga, programmer sampai PR kirim barang.

Merinding kita diselamatin sama anggota dan karyawan kita. Sebagai leader kita harus open aja kalau ada masalah, selama visi misinya bagus insyallah nanti dibantu.

9. Banyak kabar yang menyebutkan GoPay akan berpisah dengan GoJek?

GoPay kan bagian integral dari GoJek, jadi kalau kita lihat semua payment platform ada yang namanya usecase, dan GoJek sebagai superapp, suatu platform itu adalah bagian dari usecase ini. Dan tugas GoPay adalah membuat segala usecase ini menjadi mudah, lebih baik dan semua kebutuhan mitranya bisa dipenuhi, kerja sama dengan perbankan.

Apapun yang terjadi GoJek dan GoPay akan jadi suatu sistem yang integral karena usecase dan platform akan tetap berhubungan. Saya gak bisa spekulasi. Tapi yang saya tahu untuk GoPay sukses GoJek harus sukses, untuk GoJek sukses GoPay harus sukses.

(idntomes/tow)