Jajal Jakarta dengan Taksi Anti Bising Blue Bird

15

PT Blue Bird Tbk menjadi perusahaan transportasi taksi pertama Indonesia yang menggunakan mobil dengan bahan bakar 100 persen listrik. Dua layanan Bluebird menggunakan merk mobil yang berbeda, untuk Silver Bird menggunakan Tesla Model X 75 D, sedangkan Regular Bird dipercayakan kepada BYD e6.

Pada tahun 2020, Blue Bird berencana menambah hingga 200 unit mobil listrik. Lantas pada 2025, perusahaan identik warna biru ini ingin mengoperasikan 2 ribu unit mobil listrik. Saat itu terjadi, pihak Blue Bird menjelaskan 21.704.760 kg emisi karbon dioksida (CO2) akan dikurangi. Emisi itu setara dengan pemakaian bahan bakar minyak sebanyak 94.909.091 liter.

Menurut Blue Bird penggunaan mobil listrik ini berkaitan dengan program ketahanan dan bauran energi listrik nasional serta program mengurangi penggunaan dan subsidi bahan bakar minyak.

Media diberikan kesempatan untuk menjajal taksi regular BYD e6 , uji coba dilakukan pada Jumat siang (17/05/2019) mulai dari pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB. Rute yang dilalui dari kantor Transmedia, Tendean menuju Monumen Nasional, pulang pergi (PP) dan sempat keliling di sekitar Monumen Nasional menghabiskan waktu dua jam.

Sebelum membahas bagaimana sensai pertama kali menjadi penumpang di taksi reguler listrik, mari kita lihat ketangguhan BYD e6.

BYD e6 merupakan produk dari BYD Auto, anak perusahaan BYD Company yang bermarkas di China. Memang nama ini masih asing di telinga masyarakat Indonesia, namun di beberapa negara seperti Inggris, Singapura, Filipina dan Thailand sudah lebih dulu menggunakannya sebagai armada taksi.

Mobil dengan model Crossover Compact ini memiliki konfigurasi 5 penumpang, dengan dimensi panjang 4.550 mm (180 in), lebar 1.822 mm (72 in), dan tinggi 1.630 mm (64 in) dengan wheelbase 2.830 mm (111 in).

Merujuk data spesifikasi secara global, sebagai mobil listrik dengan jarak tempuh panjang, BYD e6 bisa menjangkau jarak 400 km dalam satu kali pengisian baterai. Baterai BYD Iron Phosphate (Fe) berkapasitas 80 kWH pada mobil ini bisa dicas hanya 2 jam menggunakan charger V2G 480 VAC 3 phase.

Berkat motor listrik tipe AC Synchronous Motor (Brushless), mobil ini bisa berlari sampai kecepatan maksimal 140 km/jam. Akselerasi 0-60 km/jam hanya 7,69 detik. Tenaga maksimal mobil listrik ini mencapai 121 daya kuda dengan torsi maksimal 450 Nm.

Lantas bagaimana merasakan sensasi perjalanan menggunakan taksi listrik ini?

Tampak dari luar, taksi ini memiliki kelir yang sama dengan taksi Bluebird bertemakan biru langit. Ketika menjajal duduk di balutan jok kulit sintetis, terasa empuk dan kabin baris kedua terasa lebih lega ketimbang taksi konvensional, pun bagasi di belakang dirasa bisa memuat lebih banyak koper.

Melirik dashboard berisi ragam informasi seperti speedometer, odometer, kapasitas baterai, hingga rata-rata penggunaan konsumsi baterai. Kesan futuristik pun terpancar, ketika melihat bagian tersebut, hanya saja untuk sisi multimedia seperti head unit, dilihat agak kurang modern sebab pengaturannya belum kental suasana digital.

Untuk menghidupkannya keyless, hanya menggunakan remote dan kemudian memencet tombol start seperti Toyota Prius.

Sang sopir yang sudah belasan tahun menjalani profesi mengatakan bahwa hanya kandidat terbaik yang saat ini boleh mengoperasikannya.

“Tidak sembarangan mas, yang dipilih itu nol laporan dan nol accident,” ucap sang sopir.

Memang saat peluncuran, PT Blue Bird tidak menyebut berapa angka yang dikeluarkan untuk membeli satu unit mobil ini. Namun bila melirik tetangga terdekat, Filipina misalnya menyentuh angka 4.200.000 Peso atau sekitar Rp 1,1 miliar, namun di negara asalnya china mencuplik dari Chinaautoweb, BYD dibandrol mulai dari 309.800 Yuan atau sekitar Rp 649 Juta hingga 349.000 Yuan atau Rp 775 Juta.

Saat merasakan padatnya jalanan ibukota, tak terdengar raungan mesin seperti yang dirasakan pada jenis kendaraan bensin konvensional alias lebih tenang. Hanya saja kebisingan di luar masih terdengar, namun masih dalam tahap kewajaran seperti mobil pada umumnya.

Pun ketika melintas beberapa orang sempat menaruh perhatian kepada taksi ini.

Konsumsi baterainya, dalam catatan berangkat dari Tendean jam 10.00 WIB dengan kapasitas baterai 96 persen, sampai di Monas pukul 10.58 baterai berkurang hingga 92 persen, kemudian melanjutkan perjalanan dengan mengitari Monumen Nasional beberapa kali untuk mengambil stok video dan foto, hingga kembali sampai ke Tendean pada pukul 12.10 WIB, terakhir indikator baterai berada di angka 88 persen. Irit tidak?

Bagi yang hendak menjajalnya diharapkan bersabar sebab taksi listrik ini resmi bisa konsumsi publik pada bulan Mei 2019 mendatang. Menyoal tarif pun saat peluncuran sempat disinggung bahwa tidak ada perbedaan dengan taksi konvensional. Untuk tarif regular bird, buka pintu Rp 6.500 dan biaya per km Rp 4.100.

Bagaimana, detikers tertarik untuk menjajalnya?

(detik/tow)