Hindari Bentrok, Ojek Online Bandar Lampung Beroperasi Tanpa Atribut

75

Aksi unjuk rasa para sopir angkutan kota (Angkot) dan ojek pangkalan (Opang) yang menentang operasional ojek daring di Bandar Lampung masih terus berlanjut. Dampaknya, pengemudi ojek daring terpaksa mengenakan pakaian preman dan menanggalkan atribut resminya.

Pemantauan media, pada sejumlah jalan raya di Kota Bandar Lampung, Jumat (3/11), para pengemudi ojek daring seperti Go-Jek dan Grab tak lagi menggunakan atribut resminya berupa jaket dan helm. Meski demikian, mereka masih beroperasi di jalan raya mengantar dan menjemput penumpang melalui aplikasinya.

Pengemudi ojek daring yang menjemput penumpang kerap menggunakan telepon seluler berkomunikasi dengan calon penumpangnya. Namun, keberadaan ojek daring tersebut tidak seramai ketika mereka menggunakan atribut resminya seperti jaket dan hel hijau bertuliskan Go-Jek dan Grab.

Baca:

“Sekarang Gojek gak pakai jaket dan helm hijau lagi, ini sudah menyebar ke mitra Go-Jek melalui pesan WA (Whatsapp),” kata Indra, mitra Gojek yang menjemput calon penumpangnya di samping Kantor Pos Jalan Kotaraja, Bandar Lampung.

Menurut dia, aksi sopir angkot dan opang masih tidak rela dengan keberadaan ojek daring yang beroperasi di Kota Bandar Lampung. Mereka mengaku kehilangan penumpang sejak kehadiran ojek daring, dan pendapatan mereka menurun. Padahal, ungkap bapak dua anak tersebut, profesi angkutan sama mencari penumpang di jalan.

Selain itu, para mitra Gojek dan Grab mengenakan pakaian preman untuk menghindari peristiwa kejadian sebelumnya yang ribut masalah perebutan penumpang, sehingga menimbulkan kekerasan kedua belah pihak. “Seharusnya saling bermitra sesama pengemudi angkutan umum, ujarnya.

Para angkot berbagai trayek di Kota Bandar Lampung menggelar aksi mogok massal dan opang menentang keberadaan ojek daring di Kota Bandar Lampung. Aksi tersebut berpusat di Bundaran Tugu Adipura hingga menuju Mapolresta Bandar Lampung, Kamis (2/11).

“Kami mogok massal mempertanyakan izin operasional Gojek, tidak ada, kata Daud Rusdi, ketua Perhimpunan Pemilik dan Pengemudi Angkot (P3ABL) Bandar Lampung (P3ABL).

(republika/tow)