Hasil Survei Uber Tentang Transportasi di Jakarta Mengejutkan, Ini Hasilnya

148

Transportasi menjadi medium utama bagi keberlangsungan ekonomi khususnya di kota-kota besar. Sementara kemacetan sebagai akibat dari tingginya jumlah pekerja, menjadi satu masalah utama bagi kelancaran pekerjaan.

Dua fakta tersebut nyaris terjadi di kota-kota besar. Sehingga pemerintah daerah, tidak boleh mesti menyediakan infrastruktur yang memadai seperti pelebaran jalan, jembatan layang dan bahkan lahan parkir.

Baca:

Uber, sebagai salah satu penyedia layanan ojek/taksi online melakukan survei terhadap 9.000 responden, berumur antara 18 hingga 65 tahun di 9 kota besar se-Asia: Singapura, Kuala Lumpur, Jakarta, Manila, Hong Kong, Taipe, Hanoi, Ho Chi Minh dan Bangkok sepanjang Juli hingga Agustus 2017.

Survei ini dilakukan Uber untuk mengetahui opini publik terhadap kepemilikan mobil, berbagi tumpangan serta tentang mengemudi dan menemukan tempat parkir di kota-kota besar tersebut. Hasilnya cukup mengejutkan.

Ditemukan bahwa, rata-rata, warga di seantero Asia-Pasfik terjebak kemacetan selama 52 menit setiap hari dan menghabiskan 26 menit untuk mencari lahan parkir. Ini setara dengan >19 hari per tahun.

Jakarta sebagai kota terbesar di Indonesia ternyata menjadi satu kota yang kondisi lebih buruk. Survei membuktikan, pengemudi mobil membuang waktu rata-rata selama 90 menit setiap harinya karena kemacetan (68 menit) serta parkir (21 hingga 30 menit). Setara dengan >22 hari per tahun.

Para pemilik mobil menyatakan bahwa kerepotan terberat memiliki mobil adalah: 1) Terlalu banyak waktu terbuang karena terjebak macet (84%); 2) Kesulitan menemukan lahan parkir (60%); dan 3) Biaya parkir yang tinggi (45%).

Dengan demikian, survei uber menganggap, warga kehilangan banyak kesempatan karena masalah parkir. 72% responden di Asia yang disurvei mengaku melewatkan atau terlambat untuk sebuah acara penting; 74% responden di Jakarta juga melewatkan atau sangat terlambat menghadiri sebuah acara penting. Acara yang paling sering terlewatkan di Jakarta adalah pernikahan (53%), kontrol kesehatan dengan dokter (36%), wawancara kerja (27% di Jakarta), kedukaan (26% di Jakarta) dan konser musik (22%).

Di samping itu, kondisi lalu lintas serta parkir telah menjadikan penggunaan dan kepemilikan mobil pribadi kehilangan daya tarik, khususnya di kalangan millenial di Asia-Pasifik. Hampir 50% responden yang berumur 18 hingga 34 tahun menyatakan tidak tertarik untuk memiliki mobil. Sementara publik justru lebih terbuka terhadap solusi alternatif. 61% generasi muda di Asia menyukai skema berbagi tumpangan sebagai opsi untuk komutasi harian mereka.

Di Jakarta, lanjut hasil survei, meskipun respon publik terhadap kepemilikan mobil tetap positif (27% tetap berkeinginan untuk memiliki mobil serta 71 % yang belum memiliki sedang mempertimbangkan untuk membelinya), mereka juga tetap terbuka untuk tidak memiliki mobil: Sepertiga dari seluruh pemilik mobil (29%) mempertimbangkan untuk tidak lagi memiliki mobil. Jumlah tersebut meningkat hingga 49%, jika kondisi terkait parkir tidak membaik.

“Untuk kebutuhan transportasi sehari-hari, pemilik mobil di Jakarta terbuka terhadap solusi alternatif seperti skema berbagi tumpangan: 53% meyakini bahwa layanan berbagi tumpangan bisa menjadi alternatif dibanding memiliki mobil pribadi. Ditambah lagi, 5 keuntungan utama dari berbagi tumpangan: 1) keterjangkauan biaya dibandingkan dengan pilihan lain yang tidak berbasis aplikasi, 2) tidak menghabiskan waktu untuk mencari parkir, 3) fleksibilitas atau kemudahan penggunaan, 4) menghemat waktu serta 5) lebih hemat dibandingkan memiliki sebuah mobil,” demikian kesimpulan lembar fakta hasil Survei Uber.

(nusantaranews/tow)