Go-Jek Nomor Satu di Indonesia, Ini Buktinya

16

Persaingan antara GO-JEK dan Grab di sektor transportasi online dan layanan turunannya di Indonesia kian menarik. GO-JEK, yang jarang mengemukakan pencapaiannya, beberapa hari lalu menyampaikan sejumlah klaim dan data, baik dari pihak ketiga maupun laporan internal.

Dalam pemaparannya pada Kamis, 11 April 2019 lalu, Nadiem Makarim selaku CEO GO-JEK secara implisit menyindir beberapa pencapaian Grab. Ia menyinggung tentang super-app pertama dari Asia Tenggara, hingga seberapa besar penetrasi pasar kompetitor di Indonesia.

Saling memberikan klaim merupakan hal biasa dalam bisnis. Namun, yang menarik dari kasus GO-JEK dan Grab adalah bagaimana keduanya seakan bersaing mengklaim posisi jawara pasar di negara ini.

Tepis klaim Grab

Berangkat dari laporan The State of Mobile 2019 yang dipublikasikan App Annie, Nadiem mengklaim saat ini penetrasi layanan perusahaannya lewat aplikasi mobile telah mengungguli pesaing terdekatnya. Bahkan hingga melampaui popularitas platform e-commerce di Indonesia.

Pernyataan ini secara tak langsung ditujukan kepada Grab. Kompetitor yang bermarkas di Singapura tersebut pada awal April ini mengklaim telah menguasai 62 persen pangsa pasar ride-hailing di Indonesia.

“Jika Bapak Ibu ingin mengecek, silakan cek platform App Annie. (Di situ) weekly active user GO-JEK tercatat satu setengah kali lipat dari kompetitor kami. GO-JEK sendiri juga menjadi aplikasi ride sharing yang paling banyak digunakan.”

Klaim Nadiem juga diperkuat pemaparan beberapa data internal, seperti angka pertumbuhan gross transaction value (GTV) GO-JEK. Per akhir 2018, perusahaannya mengklaim total volume transaksi setahun mereka telah menyentuh angka dua miliar, dengan nominal GTV lebih dari US$9 miliar (sekitar Rp126 triliun).

Dalam kurun waktu dua tahun, GO-JEK disebut-sebut mengalami pertumbuhan 13,5 kali lipat, meski dengan dukungan modal yang kalah besar dibandingkan kompetitornya.

“Ketika kita mulai bertempur dengan kompetitor, saat itu GO-JEK bermodalkan US$2 juta, sementara mereka sudah sampai pendanaan US$250 juta. (Dengan pencapaian dan segi perbandingannya sekarang), posisi kita belum pernah bisa sebaik ini.”

(techinasia/tow)