Go-Jek Kembangkan Ekonomi Digital di Sumut Via UMKM

5

Perusahaan layanan angkutan berbasis digital, Go-Jek menjelaskan konsentrasi mereka dalam membangun ekonomi digital melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terutama di Sumatera Utara saat mengunjungi Kantor Tribun Medan, Kamis (6/12/2018).

“Di Kota Medan Go-Food luar biasa meski pelayanan lain hampir merata. Ini semua bukan karena berbicara soal entitas driver atau customer tetapi soal UMKM,” ungkap Head of Regional Corporate Affairs Teuku Parvinanda.

Ditemani oleh Head of Corporate Communication West Java Wildan Kesuma, Manager Regional Corporate Affairs Sumatera Dian Lumbantorun, Senior Associate Corporate Affairs Guntur Arbiansyah, laki-laki yang biasa dipanggi Andri tersebut ingin menghilangkan banyak batasan.

“Fasilitas yang dihasilkan oleh Go-Food dalam dunia digital mendorong ekonomi untuk UMKM. Ada Inovasi digital untuk kerakyatan. Sambutannya hingga kini sangat baik, kebutuhan merchant (pedagang) pelan-pelan bisa difasilitasi,” lanjutnya.

Ia menerangkan tidak sulit bagi UMKM untuk menjadi merchant dan menjadi mitra di Go-Food. Karena perusahaan Go Jek menghilangkan beberapa hal yang menjadi kendala. Mereka lebih memikirikan hal lain untuk berinovasi.

“Kami tidak menutup diri dan sangat terbuka untuk dikonfirmasi. Tidak memiliki tembok tebal. Kami akan sangat senang sekali kalau ada yang datang. Saat ini, animo masyarakat untuk mendaftarkan usaha selalu stabil atau naik,” tambahnya.

Perkembangan merchant akan menjadi sangat penting mengingat perusahaan memang tidak mempersulit dan berikan ruang kemudahan.

“Pastinya mereka harus punya produk. Identitas diminta untuk faktor keamanan. Di aplikasi kita juga berikan fasilitas rekomendasi, apa yang baru, mana yang terdekat, agar masyarakat bisa tahu,” tuturnya.

Laki-laki yang pernah bekerja di media ini mengungkapkan sistem mereka sudah mengklasifikasikan produk sehingga lebih mengakomodir kebutuhan merchant.

“Kita juga ada Go-Pay artinya banyak program untuk mendorong UMKM agar ada yang membeli. Kemarin kita ada program Ma mi mu me mo. Makan minum murah menang mobil. Untuk masyarakat Kota Medan, kita ada gratis ongkos kirim pemesanan Go-Food dari Pukul 11.00 WIB hingga 13.00 WIB dalam radius tertentu,” terangnya.

Andri mengatakan, hal ini mereka bangun untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat yang masih memiliki perspektif jika perkembangan digital mematikan usaha konvensional.

Padahal, perkembangan harusnya menjadi keuntungan karena pasar yang lebih terjangkau dan masyarakat akan bebas untuk berinovasi.

“Riset dari Univeristas Indonesia pada 2017 dari 9 kota, Go-Jek menyumbang pemasukan Rp 9,9 T sejak 2015 pada ampak ekonomi dan Rp 1,2 T itu dari mitra UMKM. Angka ini bukan untuk meninggikan Go-Jek, tetapi angka lebih mudah dicerna dan menjadi penting kenapa enggak kita berbagi soal ini. Sebisa mungkin kita merangkul teman yang ada,” tuturnya.

Go-Jek saat ini masih menjadi kepercayaan UMKM untuk membuka usaha. Tercatat 300 ribu merchant yang telah bergabung dengan Go-Food dan angka ini menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

“Go-Jek adalah karya anak bangsa. Kita ingin mengangkat pesan ekonomi digital. Di Medan, UMKM masih sedikit. Bagaimana caranya agara UMKM lebih didengar dan masyarakat mengetahui baiknya ekonomi digital. Dengan bergabung menjadi merchant Go-Food, belajar mengggunakan pembayaran Go-Pay,” terangnya.

Go-Jek sendiri terbentuk ada di 2015. Namun, ide Go Jek sudah aja sejak 2010. Go-Jek berdiri untuk membuat ojek pangkalan lebih produktif dan adanya tekanan mobilitas yang cepat.

Go-Jek, melalui satu aplikasi, memiliki beberapa pelayanan untuk menjangkau kebutuhan masyarakat. Sebagai produk anak Indonesia, kini, Go-Jek berniat untuk memperluas jarigan ke mancanegara seperti Filipina, Singapura, hingga Thailand.

(tribunnews/tow)