Gadjah Mada, Habibie dan Nadiem Makariem

9

orang seperti saya yang mengenyam sekolah dasar di tahun 90-an, nama B. J. Habibie sudah menjadi legenda di dunia IPTEK. Namanya hampir selalu muncul dalam setiap soal lomba cerdas cermat tingkat SD: “Siapakah nama Menristek Indonesia?”.

Dulu, waktu kecil anak-anak seusia saya jika ditanya “apa cita-citamu?”, jawaban paling jamak adalah “ingin jadi dokter, atau insinyur”. Tapi, tidak sedikit pula yang menjawab “ingin jadi (seperti) Habibie.

Habibie adalah satu-satunya nama, mungkin dalam sejarah Indonesia, yang secara langsung dan otomatis dinisbatkan kepada gelar Insinyur.

Dalam hidup saya belum pernah mendengar ada anak kecil bercita-cita dengan langsung menyebutkan nama, misal “saya ingin jadi Budi, ingin jadi Sari”. Meskipun Budi adalah seorang dokter dan Sari adalah seorang Insinyur, yang boleh jadi juga terkenal. Tapi tidak ada satupun yang ikonik seperti nama Habibie. Beliau sudah menjadi simbol keahlian di dunia teknologi. Bukan hanya untuk bidang aviation, tapi IPTEK secara umum.

Di masa Orde Baru, Habibie adalah lokomotif pembangunan teknologi. Orang kesayangan sekaligus kepercayaan Presiden. Dalam fase development sebuah negara modern, kekuatan teknologi adalah core of the core, intinya inti.

Teknologi di zaman modern adalah substitusi dari kedigdayaan atau kesaktian ilmu kanuragan di zaman dulu. Di era Majapahit misalnya, Patih Gadjah Mada adalah figur yang sakti mandraguna. Kesuksesan Prabu Hayam Wuruk ketika itu diback-up habis-habisan oleh sosok ini. Karena pada waktu itu, orang disebut kuat apabila memiliki ilmu bela diri.

Di era modern, seorang Presiden sebuah nation-state lebih membutuhkan sosok yang sakti secara logika, digdaya di bidang science and technology.

Namun, bagi saya, figur Gadjah Mada dan Habibie memiliki similaritas. Pertama, meskipun keduanya bukan orang nomor satu (Raja/Presiden), namun mereka adalah lokomotif yang berhasil membawa bangsa menuju kemajuan. Kita tahu bahwa puncak kejayaan Majapahit adalah di era Gadjah Mada. Dan di era Orde Baru, dimana pemerintah sedang gencar-gencarnya membangun, Habibie adalah sosok utama yang berperan besar.

Kedua, kedua sosok ini memiliki visi yang kuat untuk mempersatukan nusantara. Jika Gadjah Mada memiliki “Sumpah Palapa”, Habibie memiliki gagasan untuk menciptakan pesawat baling-baling yang dapat menghubungkan antar daerah di seluruh Indonesia. N-250 yang di-create ketika itu disebut sebagai regional aircraft commuter turboprop. Ketika itu Habibie membaca bahwa daerah-daerah di Indonesia banyak yang tidak memiliki bandara dengan landasan panjang, sehingga kehadiran pesawat kecil bisa menjadi solusi untuk menghubungkan antar daerah.

Ketiga, kedua figur ini memiliki karakter dan etos yang above the average. Selain sakti (sesuai expertise masing-masing), keduanya juga pekerja keras dan berdisiplin. Kita akan merasakan kekuatan karakter beliau saat membaca buku dan menonton film Habibie Ainun.

Sosok seperti Gadjah Mada dan Habibie, adalah the great inspirator dalam sejarah bangsa ini.

Di era nya, Gadjah Mada adalah manusia sakti dan hebat yang dengan modalitasnya itu mampu menjadikan dirinya sukses, berpengaruh dan berperan besar untuk masyarakat dan bangsanya. Kesaktian ilmu kanuragan seorang pendekar adalah expertise yang paling dibutuhkan saat itu.

Di era nya, Habibie adalah sosok teknokrat yang juga sangat dibutuhkan oleh Soeharto untuk membangun bangsa. Beliau hadir di waktu yang tepat, di saat kebutuhan akan teknologi untuk bangsa yang baru membangun sedang tinggi-tingginya.

Di abad-21 seperti hari ini, etos seperti Gadjah Mada (pendekar) dan Habibie (teknokrat) rupanya telah bermetamorfosa menjadi lebih kekinian. Agaknya era ini adalah panggungnya para entrepreneur. Eranya anak-anak milenial seperti Nadiem Makariem dkk.

Melalui aplikasi Gojek, hanya dalam hitungan tahun, Nadiem telah sukses “menyatukan” Indonesia/nusantara. Hari ini jutaan orang terlibat dalam aktivits Gojek, dari mulai drivers, customers, pemilik warung makan/restoran, tukang pijit, hingga pengelola bioskop.

Gojek hari ini seolah mampu melengkapi visi “Sumpah Palapa” dan visi “Pesawat N-250”. Orang-orang seperti mereka adalah para patriot di dunia nyata alih-alih sosok Gundala yang hanya di dunia cerita.

Saya menyebut nama Nadiem, hanya sekadar menyebut contoh nama untuk kepentingan kongkritisasi. Masih banyak anak-anak milenial Indonesia lain yang punya potensi entrepreneurship yang luar biasa. Setelah saya mengambil studi MBA beberapa tahun lalu, saya sangat terkejut, ternyata anak-anak muda yang seperti Nadiem itu tidak sedikit, dan akan terus bertambah dan bertumbuh.

Lalu, apa value penting yang sama-sama dimiliki oleh sosok seperti Gadjah Mada, Habibie dan Nadiem?

Menurut saya, ketiganya sama-sama ingin memecahkan suatu permasalahan. Mereka menjadi orang besar, karena mereka adalah problem solver. Mereka membaca problems yang dihadapi di masanya. Setelah membaca dan mengidentifikasi persoalan yang dihadapi oleh lingkungan kehidupannya, mereka mencari solusi. Kemudian mereka berjuang untuk mewujudkannya. Dalam sebuah acara seminar, Nadiem sendiri pernah mengatakan bahwa Gojek lahir karena dia melihat fenomena problematik yang menurutnya harus diselesaikan. Inilah kekuatan dia: passion to solve a problem.

Saya jadi teringat dengan etos yang dimiliki oleh orang Jepang yang disebut dengan IKIGAI. Salah satunya adalah “what the world needs” (apa yang dunia butuhkan).

Saat kita bekerja dan berkarya berbasis “apa yang dunia/lingkungan butuhkan”, secara otomatis kita akan terdorong sebagai problem solver. Dan rupanya, problem solving skill ini adalah salah satu dari top skill yang dibutuhkan oleh dunia global hari ini.

Saya kira, seharusnya bangsa ini tidak akan kekurangan stok orang-orang seperti Habibie dan Nadiem Makarim. Karena problem solving skill itu sejatinya sudah sering kita pelajari di bangku sekolah. Tapi tidak banyak yang aware.

Contoh pembelajaran problem solving adalah saat kita membuat penelitian. Saat membuat desain riset, kita harus mampu mengidentifikasi masalah. Bagi saya, kemampuan mengidentifikasi masalah adalah 50% dari kecakapan problem solving. Untuk beberapa jenis penelitian, bahkan levelnya sampai tahap pencarian solusi. Jadi, seharusnya problem solving skill itu bisa diaplikasikan dalam dunia profesional. Jika demikian, saya kira mudah sekali “menduplikasi” anak-anak muda hebat seperti Nadiem dkk.

Jadi pendidikan kita sebetulnya sudah membekali diri kita sebagai problem solver. Kalau anda ambil kuliah bisnis di program MBA, atau seperti Nadiem yang belajar di Harvard Business School, proses pembelajaran lebih dititikberatkan pada “case learning”. Untuk bisa lulus sekolah bisnis Harvard, anda harus mampu pecahkan 600 kasus bisnis kelas dunia.

Memang tidak banyak orang yang bisa mengenyam pendidikan seperti Nadiem di Amerika, atau seperti Habibie di Jerman. Tapi di era kemudahan teknologi informasi hari ini, kita bisa belajar banyak hal melalui dunia maya. Di web pdfdrive.net misalnya, tersedia jutaan ebook yang bisa diunduh gratis.

Menjadi entrepreneur zaman now juga butuh belajar teori. Kita butuh lebih banyak lagi science-based entrepreneur seperti Nadiem dkk, tidak hanya “street smart” entrepreneur.

Bagi saya pribadi, tokoh seperti Gadjah Mada, Habibie dan Nadiem Makarim adalah sampel figur 3 zaman yang inspiratif dan perlu kita pelajari values yang mereka miliki untuk menjadi orang sukses dan kontributif. Kata orang bijak, mempelajari sosok yang lebih tua membuat kita mengetahui masa lalu. Mempelajari sosok yang seusia membuat kita mengetahui masa kini. Mempelajari sosok yang lebih muda membuat kita mengetahui masa depan.[***]

Penulis: Ikhsan Kurnia (Penulis, Aktivis dan Pengusaha, Alumni MBA ITB)

(telusur/transonlinewatch)

Loading...