Ekonom UI: Wacana Kenaikan Tarif Ojek Online Kemenhub Tidak Masuk Akal

15

Kementerian Perhubungan berencana untuk meningkatkan tarif batas bawah ojek online untuk menyejahterakan pengemudi. Kendati demikian, Ekonom Universitas Indonesia Fithra Hastiadi mengatakan kenaikan tarif ojek online yang diwacanakan oleh Kementerian Perhubungan tidak masuk akal.

Sebagai informasi Tim 10 Perumus Aturan Ojek Online mengusulkan skema tarif batas bawah Rp3.100 per kilometer. Angka ini meningkat dari angka rata-rata tarif bawah sebesar Rp. 2.200. Alih-alih meningkatkan pendapatan, Fithra memprediksi konsumen akan mulai berhenti menggunakan ojek online.

“Kebijakan ini tidak masuk akal secara akademik. Presiden bilang pengemudi harus ditingkatkan pendapatannya. Tapi ini salah tangkap oleh kementerian. Jangan sampai ditetapkan terus ditarik lagi. Malah jadi kebijakan undur-undur,” ujar Fithra usai acara acara peluncuran hasil survei Research Institute of Socio-Economic Development (Rised) di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (11/2).

Survei dari Rised menunjukkan  71,12 persen responden keberatan apabila tarif bawah ojol dinaikkan menjadi Rp3.100 . Oleh karena itu Rised memprediksi penurunan jumlah pesanan hingga 71,12 persen.

Fithra mengatakan survei ini menunjukkan keengganan konsumen untuk membayar tambahan biaya ojek online. Alhasil, Fithra menyarankan agar pemerintah melakukan kajian-kajian terkait willingness to pay seorang konsumen sebelum menaikkan tarif.

“Harus ada win-win solution. Ini tidak seperti Bandung Bondowoso yang membangun candi dalam satu malam. Harus ada riset juga yang mengkaji williness to pay,” ungkapnya.

Menurutnya kenaikan tarif juga tidak akan berdampak lama terhadap kenaikan pendapatan. Menurutnya, kenaikan pendapatan hanya akan terasa pada satu bulan hingga dua bulan. Setelah itu, ia prediksi konsumen akan meninggalkan ojek online dan mencari alternatif transportasi baru.

Fithra untuk meningkatkan pendapatan pengemudi tidak hanya melalui peningkatan tarif. Selain pemberian bonus, penggunaan big data juga dianggap penting untuk membaca zona padat penumpang. Hal ini dianggap bisa meningkatkan efektivitas kinerja mitra.

“Kalau pakai skema bonus dan lain-lain bukan kenaikan tarif. Bisa jadi ojek online tidak hanya ridership tapi ada yang lain. Jadi super diversifikasi. Banyak sekali pilihannya,” ujar Fithra.

(cnnindonesia/tow)