Driver Grab yang Ditabrak KRL Terancam Pidana

27

Sopir taksi online yang mengalami kecelakaan di perlintasan kereta rel listrik (KRL) Kampung Kandang, Desa Jatake, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, terancam hukuman pidana.

Mobil Kia Picanto yang dikemudikan DS (43), ditabrak KRL jurusan Maja-Tanah Abang, Sabtu (11/05/2019). Empat orang tewas dalam peristiwa itu.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan memberi sanksi kepada pengendara yang terbukti lalai. Pasal 310 undang-undang itu menjelaskan, pengendara kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan orang lain meninggal dunia, dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan atau denda paling banyak Rp 12 juta.

Kasatreskrim Polres Tangsel AKP Alexander Yurikho menduga, DS lalai sehingga membuat penumpangnya tewas. “Dugaannya itu. Tapi DS belum bisa kami minta keterangan. Fokus utama kami ke pemulihan korban yang luka dulu, ya,” katanya.

Berdasarkan keterangan tertulis polisi, DS saat ini dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) RS Hermina Tangerang. Selain DS, ada tiga korban lain yang menderita luka, yakni Maya (17), Veni (13), dan Yana (49).

Sementara korban tewas, Anis Amalia (25), Nadia (7), Adinda Putri Anisa (4), dan Patia (5 bulan), sudah dibawa ke rumah duka.

Peristiwa nahas ini bermula ketika rombongan satu keluarga besar menggunakan jasa taksi daring (online) yakni GrabCar bernopol B 1852 NKH untuk diantar ke ITC BSD, Kota Tangsel.

Saat mobil masuk di perlintasan kereta api, tiba-tiba kereta api jurusan Maja-Tanah Abang melintas.

“Perlintasan kereta api tersebut tanpa palang pintu. Pada saat melintas di TKP, mobil yang dikendarai driver layanan sewa mobil online dan rombongan korban tertabrak dan terseret kereta api sejauh lebih kurang 100 meter. Kemudian mobil terpental dan terguling ke sisi sebelah kanan rel kereta api,” jelas Kasat Lantas Polres Tangerang Selatan AKP Lalu Hedwin.

Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata turut menanggapi kasus ini. Seperti dilansir Kompas, ia menyampaikan bahwa secara umum pihak Grab selalu mengingatkan, muatan penumpang pada setiap pesanan maksimum berjumlah empat orang. Hal ini menjadi pengecualian apabila taksi daring yang dipesan adalah mobil dengan muatan enam kursi.

Melalui keterangan resmi, Grab Indonesia telah menghubungi pihak keluarga penumpang dan mitra pengemudi. Ada biaya santunan bagi kedua belah pihak. Tidak dijelaskan besaran jumlah santunan itu.

Terkait dugaan kelalaian sopir ataupun penumpang, hal ini bukan kejadian baru. Baik penumpang maupun sopir taksi sering kali tidak menyadari pentingnya menaati aturan, termasuk soal muatan.

Kelebihan muatan barang atau orang bisa berpotensi memicu kecelakaan. Truk-truk kelebihan muatan, misalnya, sering kali patah as saat melaju di jalanan dan berakibat fatal.

Yuyun (24), anggota keluarga korban pemesan jasa taksi daring, mengakui, mobil tersebut kelebihan penumpang. Sabtu (11/5/2019) lalu, Yuyun memesan jasa taksi dari aplikasi Grab dengan DS (43) sebagai sopir. Taksi dipesan untuk mengangkut tujuh penumpang, yakni ibu Yuyun beserta sejumlah keponakannya.

Yuyun mengatakan, mobil itu awalnya ditumpangi dua orang dewasa, tiga anak, dan seorang bayi. Namun, sebelum berangkat, ada seorang lagi yang dipaksakan ikut ke dalam mobil tersebut.

“Saat akan berangkat, ibu saya memaksa agar semua keponakan bisa ikut di dalam mobil. Saya pikir tidak apa-apa, mobilnya masih muat. Sopir juga tidak keberatan karena lokasi tujuan searah dengan alamat rumah,” ungkap Yuyun.

Yuyun menduga kelebihan muatan penumpang membuat mobil berjalan lebih pelan. Kemudian, saat melewati pelintasan tanpa palang pintu, mobil itu tertabrak KRL jurusan Maja-Tanah Abang yang sedang melintas.

Main (58), warga yang berjaga di dekat pelintasan, tidak sempat memberi informasi kepada mobil tersebut. Saat kejadian sekitar pukul 13.00, mobil yang ditabrak kereta itu terseret hingga 100 meter.

(tangerang7/tow)